Title : Love Hard 8
Rating : T (Teenager)
Genre : Romance
Cast :
Riders :
Nicky Hayden
Valentino Rossi
Ben Spies
Jorge Lorenzo
Casey Stoner
Karel Abraham
Dani Pedrosa
Scott Redding
Stefan Bradl
Jules Cluzel
Bradley Smith
Marc Marquez
Tweeps :
Sweetz (ucha6911)
Dee (tiwi_kimzter)
Zi (ziflowershine)
Val (fayfairy)
Rein (reineenn)
Esther (estherryn)
Resi Klebi (rae_shi)
Cindy (alphonz_cindy)
Guest :
Kimi Raikonen
Adriana
Marco Simoncelli
Mattia Pasini
many other riders kru n tweet mates
Sirkuit Silverstone
Karel Abraham merogoh sakunya dan mengambil HP, sepasang matanya masih mengawasi Val yang berjalan menjauhinya.
“Okay.. ma.. iya bentar lagi.. wait a minute.. “
Cowok itu membuang nafas, mamanya Carol sudah menunggu di airport dan menyuruhnya cepet-cepet nyusul.
“Val.. aku letakan cincin ini, please.. “ Karel meletakan cincin di atas aspal dan kembali menerima telepon, kini giliran papanya yang nyuruh dia cepet-cepet. Sore itu juga mereka berencana balik Brno.
Val masih berdiri di track, sementara Karel mengangguk ke arahnya dan berbalik pergi. Wanita itu perlahan-lahan mendekati cincin dan mengambilnya.
“Dasar Karel dodol.. dari pada ditemu orang mending buat aku.. bisa dijual ini kalo kepepet” desis Val tersenyum. Mata indahnya berbinar menatap cincin safir yang berkilau. Geblek.. napa kemarin dia membuangnya? Tapi untung deeh balik lagi, pikirnya.
Tak jauh dari sirkuit, tepatnya di motor medical center, Ben Spies masih menunggu Sweetz yang masih terbaring lemah. Nicky Hayden sedang mengurus sesuatu tadi, katanya.
“Kamu nggak pulang Ben?” tanya Sweetz sudah bisa tersenyum. Ia membiarkan tangannya dalam genggaman Ben.
“Aku mana tega ninggalin kamu” sahut Ben tersenyum.
“Bisa aja..” Sweetz dengan pelan memukul lengan Ben dengan tangan yang bebas dari infuse.
“Kamu kan tahu Sweetz.. aku cinta kamu”
“Jangan mule lagi.. aku takut abang denger, bisa salah paham dia” ia menggeleng mengingatkan Ben.
“Aku nggak peduli”
“Tapi aku peduli!” tegas Sweetz.
“Eheemm apa aku mengganggu kalian?!” suara Nicky di belakang membuat keduanya kaget
“Nick..” Ben berbalik tapi wajahnya tampak tenang. Sweetz terlihat cemas. Wanita itu ngeliet mata Nicky seperti ada kekecewaan disana.
“Kau keluar Ben!” Nicky berkata pada Ben dengan diikuti gerak kepalanya menyuruh Ben pergi.
“Aku hanya ingin mastiin Sweetz baik-baik saja” kata Ben masih dengan suara datar.
“Aku bisa mengurus istriku, thanks”
“Aku rasa aku lebih bisa mengurus Sweetz dari pada kamu, apalagi dengan kesenenganmu numpuk istri” tantang Ben. Pria ini berpikir, kapan lagi ada kesempatan. Ia sudah lelah nunggu dan ia makin nggak sabar melihat Nicky yang dulu sempat memadu Sweetz dengan 3 wanita lain. Dan ia tahu Sweetz sesungguhnya menderita di dalamnya.
“Ben.. udah.. please kamu keluar..” pinta Sweetz, ia sudah mulai menangis.
“Kau tahu apa tentang kami.. jangan sok tau! Aku pikir kamu temenku!” Nicky menyeret Ben tidak sabar. Ia nggak nyangka temannya bisa punya niat merebut salah satu istrinya.
“Kau tidak sadar huh? Sweetz menderita tauk!”
“Oyah?! Sweetz ? Apa bener begitu?” Nicky ganti menatap Sweetz minta jawaban.
“Kau nggak pake nanya dodol..cukup melihatnya aja semua orang juga tahu, payah nih… suami yang suka koleksi istri sampai gak punya sensitifitas, kebanyakan yang diurus sih” Ben makin menyerang Nicky. Ia berpikir, sekalian dari pada nanggung. Kapan lagi bisa nyadarin Nicky.
“Ben.. aku minta keluarlah” Sweetz memohon dengan suara tercekat. Ben yang masih mau ngomong lagi mengurungkan niat. Ia mengangguk dan berbalik pergi.
“Jangan-jangan kau nikmatin aku diserang tadi” Nicky duduk dengan wajah tegang.
“Abang napa mikir gitu..?” Sweetz mengusap air matanya. Sebagian yang dibilang Ben tadi bener sih, kata Sweetz dalam hati.
“Apa aku begitu buruk ngurus kalian?”
“Enggak.. tapi kadang aku juga berpikir jauh sebelum ini, aku ingin jadi wanita satu-satunya dalam hidup abang” Sweetz mulai terisak.
“Tapi itu tidak mungkin.. aku sangat mencintai kalian.. kau dan Dee” kata Nicky meraih tangan istrinya.
“Aku nggak tahu.. bisa tahan sampe kapan” Sweetz menarik tangannya dan berbalik membelakangi Nicky.
“Ayoo dong beib.. aku udah kehilangan Zi dan Val, napa yang tinggal berdua nggak bisa hidup akur?” tanya Nicky dan mengelus bahu Sweetz.
“Aku bisa akur.. dengan istri-istri abang yang lain dulu.. aku selalu berusaha nahan diri!” Sweez sepertinya sudah meledak, perasaannya selama ini langsung keluar begitu saja. Entahlah apa ada pengaruh dengan kata-kata Ben tadi.
“Aku ngantuk” tambah Sweetz. Tapi bahunya yang tersengal pelan, menandakan wanita itu masih menangis.
“Sorry..” desis Nicky lemah.
***
Donington Park sudah disulap jadi venue konser. Sebentar lagi Linkin Park manggung. Penonton di arena tersebut sudah memenuhi beberapa sudut sedang kelas festival jangan ditanya, para fans LP tengah dorong-dorongan padahal konser aja belom mule.
Jorge Lorenzo dan Zi berdiri dengan nggak sabar. Tak jauh dari mereka Valentino Rossi dan Resi bergandengan tangan seolah takut terpisah menyusuri barisan penonton cari tempat yang strategis.
“Bang.. sini aja deeh tuh bareng ex teammate abang” Resi nunjuk pasangan Jojo-Zi.
“Wokay..”
Akhirnya mereka berempat duduk di salah satu tribun.
“Aku udah panas nih" Zi kipas-kipas.
“Belum lompat-lompat udah panas” sahut Resi.
“Kamu lagi hamil jangan lompat-lompat beib..” Jojo mengingatkan istrinya.
“Gak papa sekalian senam” Rossi tertawa dan langsung mingkem karena Jojo menabok bahunya.
“Kalo ada apa-apa situ mau tanggung jawab?!”
“Laah masak aku yang tanggung jawab.. yang nanem saham di perut istrimu sapa?” ujar Rossi sambil ngusap-usap bahunya.
“Heehh tuh Jojo minta tanggung jawab, jangan-jangan abang ikutan deeh” Resi menatap Rossi dengan galak.
“Enggak beib.. tuh kan kalo barengan gini pasti tawuran..” Rossi geleng-geleng kepala.
“Udaaah.. aku juga gak minat sama si krempeng mana keren heeeehh!” Zi menengahi tapi karena pake ngejek dia jadi sasaran tabokan Resi.
“Adoohh ampoonn.. pan situ juga yang ngejek pacar sendiri” Zi meloncat ke pangkuan Jojo berusaha menyelamatkan diri dari amukan Resi.
“Woiiii diem! Berisik! Dah pada tua juga, nggak pada nyadar.. masih aja ribut” Esther melempar botol aquah ke bangku di depannya.
Rupanya banyak juga rider dan WaGs yang bakal nonton konser LP. Esther, Cindy terlihat diantara para rider Moto2. mereka adalah Jules Cluzel, Scott Redding, Stefan Bradl, Bradley Smith dan Marc Marquez.
“Ini ABG apa daah?!” Jojo balik melempar botol dan mengenai muka Marc. Alhasil yang terkena jerit-jerit histeris.
“Mamaaaaaaaakk.. “
“Hussh.. nggak ada emak lo! Bisa jantungan dia kalo nonton konser ginian” Cindy ngebekep Marc dengan cepat.
“Itu si gundul ngelemparnya juga keras.. pan atiitt” ujar Marc sok imut.
“Cep cep cep mana sini yang sakit biar aku tiup” Cindy mule monyong-monyongin bibirnya niup wajah Marc. Bersama Marc, Cindy malah terlihat lebih dewasa ngemong tuh rider.
“Bred kita turun ke festival nyoook… apa enaknya nonton konser sambil duduk gini?” Sekot menarik tangan Bred untuk ikut beranjak.
“Cieeehh.. yang mau mesra-mesraan” ejek Step dengan senyum-senyum.
“Cetok cetok.. ihiiirrr.. piwiiittt” Jules nambahin geje.
“Gak gitu juga kalik” Bradley alias Bred nendang pantat kedua rider yang menggodanya.
“Ampoon ini udah kek nonton bola ada lempar-lempar botol dan nendang-nendang” Esther menepok jitadnya yang pening.
“Heehh.. kalian udah pada ijin ma ortu belom nonton konser? Ntar dicariin lho” Rossi melompati bangkunya dan bergabung dengan ABG Moto2.
“Udah om” jawab Jules, matanya tidak lepas-lepas menatap potongan rambut rider dari Italy yang dinilenya aneh. Mohawk bukan, gundul kagak.. tapi mirip kek bekas setrikaan.
“Nggak pake panggil om! Liet style rambut gw dong.. pan keren” Rossi merengut. Bisa kelihatan dong dia udah berumur kalo dipanggil om.
“Biar udah dandan gitu.. kelihatan kok dah om-om” Esther juga tanpa berkedip memperhatikan kepala Rossi.
Zi yang berada di bangku depan ngakak guling-guling di pangkuan Jojo. Jojo juga megang perutnya. Tuh rider harus dibilangin anak-anak Moto2 apa biar sadar. Resi melotot ke arah Rossi, menyuruhnya pindah lagi di tempat duduknya.
Kita beralih ke The Ritz London Hotel
Dee tengah berbaring diranjangnya. Ia masih teringat Kimi kemarin. Andai saja pria itu memilihnya ia akan dengan rela ninggalin Nicky meskipun ia masih sangat mencintai suaminya. Kimi adalah cinta terpendamnya yang selalu berusaha dia lupakan. Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya, ia beranjak malas.
Tempat Dee guling-guling memikirkan Kimi :D
Dee menarik nafas tercekat, di depannya telah berdiri pria yang dia lamunkan tadi.
“Napa kamu kesini?” tanyanya berusaha terdengar biasa meski dada udah deg-degan nggak karuan.
“Aku udah berbikir beib.. okay.. aku lepas Jenny” Kimi menatap Dee meyakinkan.
“Tapi.. eeehh..” Dee berdiri salah tingkah. Tangannya masih menggenggam handle pintu. Bagian dirinya serasa melayang mendengarnya. Apa aku mimpi? Bisiknya dalam hati.
“Kita bisa bersama kan?”
“Wait… aku masih perlu bukti” Dee menguatkan perasaanya. Biarpun ingin meledak bahagia tapi dia nggak mau kalo belom ada kepastian.
“Aku udah masukin berkas.. lawyerku sedang ngurus semua” Kimi tersenyum dan meraih pinggang Dee. Didorongnya tubuh wanita cantik itu kedalam. Tangan Kimi menutup pintu di belakangnya.
Dee mengatupkan kelopak matanya ketika wajah Kimi mendekat. Dan ia berusaha menahan nafas. Kehangatan semakin menjalar di tubuhnya. Ringan dan memabukan.
***
London yang dingin di venue konser tidak terasa. Penonton larut dalam music yang dimainkan Linkin Park. Saat berganti lagu Leave out all the rest penonton di tribun tepatnya di bangku rider semakin heboh.
“Baaaangg gendong.. pengen kek Bella Swan!” Resi menarik tangan Rossi untuk bediri.
“Jiaaahh ngapain? Kek ABG ajah..” Rossi menggeleng tegas. Tapi ia tak mampu menolak ketika Resi meloncat di punggungnya. Dengan tanpa malu mereka gendong-gendongan di depan rider Moto2.
“Aku juga beib.. gendong.. jadi inget Edward Cullen gendong Bella and terbang” Zi tak mau kalah minta gendong ke Jojo. Jojo cuman mengangguk pasrah.
“Berat beib..” Jojo mengeluh ketika tubuh Zi sudah mendarat di punggungnya mana ia baru saja terjatuh di race.
Cindy mencolek Marc, rupanya ia juga pengen kek pasangan-pasangan di depannya.
“Gak kuat cin.. bener” Marc sudah mau nangis menolak permintaan Cindy, pacarnya. Dulu saja ia jadi pegel-pegel malemnya saat di Estoril maen gendong-gendongan sama Sekot.
“Aaahhh nggak romantis!” Cindy ngambek.
“Sama aku saja cin..” Sekot menawarkan diri, mayan kan bisa deket-deket cewek. Nggak mungkin ia nawarin Esther, bisa ditonjok dia sama Jules.
“Wokaaaayy..” Cindy dengan sigat nemplok dipunggung Sekot.
Kelakuan Bella-Edward di Twilight bikin WaGs rider menirunya!
“Kamu gak pengen hun?” Jules mengedipkan matanya ke Esther yang masih melongo napa jadi kek perlombaan gendong.
“Boleh deeh.. sekalian beib.. bisa terbang kan kek Edward?” Esther melompat ke belakang Jules. Tinggal Bred dan Marc garuk-garuk kepala nggak ada pasangan. Step menghilang entah kemana, ia tadi ada yang menelepon. Marc menatap wajah Bred.
“Kamu nggak mikir minta gendong sama aku kan?” Bred melotot ke Marc.
“Kalo mau digendong sih nggak nolak” sahut Marc senyum-senyum.
“Idiihhh.. males bangets” Bred melayangkan pandangan ke arah stage lagi. Heran napa masih pada demam felem Twilight.
Tak jauh dari mereka Step rupanya duduk di samping Rein.
“Kamu tetep disini aja step.. jangan jauh-jauh aku nggak mau Sic ganggu lagi!” Rein tersenyum menatap Step.
“Don’t worry, tapi kok bisa apes banget dikejer-kejer mulu sama Sic?” tanya Step.
“Aaahh tauk.. padahal kemarin aku udah rela mayungin si kribo.. ciiihhh makin gila aja tuh orang” Rein cemberut. Nonton konser LP jadi nggak konsen. Tadi di pintu masuk Marco Simoncelli masih mengejar-ngejarnya. Bikin takut, keluhnya dalam hati. Tapi dia juga yang waktu itu ngajuin sarat, itu dilakukan karena Sic terus mendesaknya.
***
Ritz Hotel
Esther dan rider laen melangkah masuk ke hotel. Nicky mencegat adiknya dan menarik lengan Esther menjauh ke sofa yang ada di lobi.
“Kamu cepet berkemas.. kita malem ini pulang!” kata Nicky
“Ada apa bang? Kok cepet-cepet? Besok kan Assen.. nggak usah balik ke OWB nggak papa kan?” tanya Esther.
“Kamu nggak kangen Claudia? Mama tadi bilang kangen tuh.. kamu pulang saja sekarang” desaknya.
“Cerita dulu ada apa? Aku abis nonton konser bang.. capek and ngantuk” Esther meraih tangan abangnya mendesaknya untuk cerita.
“Nggak sekarang” Nicky menatap penghuni hotel yang masih lalu-lalang. Wajahnya nampak muram.
“Okay.. aku packing dulu..” Esther meremas bahu kakaknya. Tatapannya prihatin, ia yakin sudah terjadi sesuatu. Mendadak perasaanya melayang ke kedua kakak iparnya. Sweetz sedang sakit gara-gara kecelakaan siang tadi. Dee yang ia tahu sejak kejadian di Monaco agak jaga jarak, jarang cerita-cerita lagi. Padahal dia mana mungkin cerita yang bakal nyakitin Nicky, abangnya. Sempat ia kecewa awalnya tapi Sekot menyarankan dia supaya diem, pura-pura nggak tau apa-apa.
***
Park royal Apartement Spore
Val menerima fax. Ia menarik nafas perlahan, ia harus packing cepat ada shooting iklan di Roma. Ia sudah mengganti nope dan pindah apartement, berharap Karel atau yang laen tidak menghubungi dia lagi. Beberapa hari ini ia agak merasa tenang. Segera ia menyeret tubuhnya menuju shower room dan prepare.
“Nanti kita ke Milan dulu.. D & G nawarin wardobe” ujar Adriana yang sekarang ikut Val, sekalian belajar ngemenejerin. Tapi karena tampang dan posturnya yang ok dia pun mulai ditawarin jalan di catwalk dan modelling.
“Doohh.. sebenernya bawa kamu tuh bahaya! Jangan mikir bisa ketemu Mattia Pasini disana yeee” ketus Val menatap window pesawat.
“Okay enggak.. heeemm di Milan ada kemungkinan ketemu Andrea lho Val..” sahut Adriana tersenyum mengulum.
“Kalo kau tutup mulut semua beres.. ayolah ini lagi kerja.. please.. nggak pake ngehubungi Mattia.. deal?!”
“Yeaahh.. “ Adri menutup matanya dengan eyeband hitam.
Roma sore itu begitu panas. Val tetep memutuskan jalan-jalan, Adri entah ngeloyor kemana. Ia sampai di taman kota. Bangunan di sekitarnya tetep bergaya klasik dengan fountain bertebaran di tiap sudut. ia melangkah ke salah satu fountain dengan gemercik air kecil. Val menunduk, dibiarkannya air membasahi wajahnya. Dengan memejamkan matanya, bibirnya membuka dan membiarkan air mengalir diantara sela bibirnya sambil meminum sedikit. Mendadak ia merasakan sepasang bibir menyergap mulutnya. Ia menarik wajahnya. Didepannya dengan tubuh sama-sama menunduk wajah khas American tengan tersenyum ke arahnya.
“Abang!”
“Hi.. sorry ngagetin dikit.. jadi inget dulu kita pernah melakukan seperti ini di taman belakang rumah” kata pria yang ternyata Nicky Hayden.
“Oohh.. hampir mau aku tonjok.. kalo orang gila bisa berabe!” Val tersenyum. Nicky menghampirinya.
“Ada acara disini?” tanya Val. Matanya menyipit seperti berusaha menahan sinar matahari yang menyilaukannya.
“Aku ada test Ducati 2012 di Milan tapi mampir dulu kesini. Kamu?” jawab Nicky. Ia menatap mantan istri di depannya. Entah mengapa tadi begitu melihat Val tengah menikmati gemercik fountain dia langsung ingin menyerangnya.
“Ooh.. kalo aku ada shooting.. mayan lah” Val tak henti tersenyum menatap Nicky.
“Aku kangen abang…sebenernya..” tambah Val hampir berbisik.
Nicky menarik tangan Val dan membawa wanita itu semakin dekat di depannya.
“Me too beib..”
“Don’t call me beib..im not yours.. anymore”
“U still my baby.. here” Nicky menunjuk dadanya.
“Gombalnya keluar” Val nyengir.
“Tapi aku kecewa kau lebih memilih dengan anak Ceko itu” Nicky menatap sendu penuh kekecewaan ke arah Val.
“I think im in love with him..eeeh tapi kan aku sempet minta kesempatan sama abang di Qatar.. inget?”
“Dan abang nolak!” tambah Val cemberut.
“Sekarang aku punya waktu untuk denger penjelasanmu” Nicky berjalan perlahan. Val pun berjalan mengikutinya.
“Tapi sekarang aku nggak pengen lagi”
“Why?”
“Aku ternyata capek kalo harus berbagi hati..”
“Sweetz ingin lepas! Dan Dee juga.. aku bisa gila.. dalam setahun aku bakal kehilangan kalian semua” Nicky berhenti, ia menarik nafas berat.
“Abang nggak sedang cari pelarian kan?” kata Val.
“Val! What can I do?”
“Abang pertahanin satu aja”
“Sweetz nggak mungkin.. Dee juga”
“Adooh.. terus? Abang mau cari lagi? Tapi jangan aku” Val berlari dan menghentikan kereta lewat. Nicky hanya bisa menetap Val yang terbawa kereta menjauh darinya. Sekarang ia lonely.
Val sudah sampai kamar hotel. Ia menghempaskan tubuhnya di ranjang. Bayangan wajah Nicky menari-nari di pelupuk matanya. Nggak ketemu Andrea dan nggak ketemu Karel tapi sama saja malah ketemu mantan suaminya. Tapi bagian di dirinya merasa kasihan. Aaaaaaaahh tapi aku nggak mau balik lagi meskipun pengen, desahnya. Air mata tak terasa mengalir ke rambutnya.
Listen to your heart
when he's calling for you.
Listen to your heart
there's nothing else you can do.
I don't know where you're going
and I don't know why,
but listen to your heart
before you tell him goodbye.
when he's calling for you.
Listen to your heart
there's nothing else you can do.
I don't know where you're going
and I don't know why,
but listen to your heart
before you tell him goodbye.
Ia bangkit dan menatap layar iphonenya. Ia mengetik nomer yang masih sangat dihafalnya.
Pagi-pagi di sudut taman kota Roma. Nicky berjalan tidak tenang bolak-balik. Ia kemudian melangkah menuju fountain. Nicky menunduk dan seperti mengecup air yang mengalir jatuh, bibirnya membiarkan air masuk ke dalam mulutnya. Ia kemudian tersenyum merasakan kehangatan di bibirnya dan tanpa membuka matanya ia membiarkan sepasang bibir yang sangat dikenalnya bergerak di atas permukannya. Gemercik air terus turun diantara mereka berdua. Nicky menggenggam jemari Val, tanpa kata.
***
Assen 2011
Ether menatap lurus memayungi Jules, wajahnya mendung. Jules di sampingnya hanya bisa diam. Pacarnya dari kemarin terlihat murung. Ia akhirnya sampai tidak konsen dan terjatuh di WUP jelang balap. Moto2 berjalan seru Bred dan Marc saling overtake ngerebutin tempat pertama.
Esther yang melihatnya mendadak semangat, ia mule menjerit-jerit histeris nyemangatin. Temannya satu itu selalu bikin moodnya balik. Ia bersama Cindy berlari-lari menuju podium dimana Bred dan Marc sudah meloncat-loncat di atas podiumnya.
“Aaaaaaahhh bebeb ku keren! Podium satu booow” Cindy tak kalah meloncat-loncat kek dia ikut dapet podium aja.
“Harusnya tadi Bred! Huuh..” Esther ngejewer kuping Cindy.
“Diiihh geje nih anak.. aku jadi sasaran!” Cindy bales nabok.
“Ter.. kok kamu di sini? Dicariin kemana-mana juga!” Jules sudah berdiri di samping 2 ABG itu.
“Lagi pengen seneng-seneng” Esther masih menatap Bred dari bawah tanpa menoleh ke Jules.
“Nggak asik aah..” Jules yang ngerasa dicuekin melengos pergi.
Andrea menatap kosong di pitbox. Ia gagal podium lagi hanya sanggup posisi 12 dari startnya 25.
Balapan Motogp
Nicky tersenyum di atas motornya. Di sampingnya hanya ada Ducati chick, UG yang di sewa memayungi dirinya. Ia sudah merelakan Sweetz pergi darinya dan sekarang wanita itu berdiri di samping Ben. Walo sedih, ia masih melambai ke arah kamera yang mengeshootnya. Dee sudah terbang entah kemana. Biar masih dalam proses toh sama saja sudah tiada tempat baginya di hati mereka.
“Kasihan tuh teammate abang” Resi merangkul pundak Rossi dengan petentengan.
“Nggak papalah ngerasain jadi jomblo, pan selama ini dia yang kebanyakan istri” sahut Rossi.
“Iyah tapi tragis bang..”
“Udah nggak usah ngomongin” Rossi melongok garis start dari ujung belakang, sial race ini harus mulai dari posisi 11.
Balapan mulai berjalan, belum ada satu lap Karel terjatuh demikian juga rider yang langganan jatuh, RDP. Kemudian terlihat di monitor besar rider dari France itu mewek.
“Heran.. sepanjang karier kok jatuh mulu” Zi nyeletuk di pitbox.
“Eee buseet.. tuh paijo mu jatuh disamber motor Sic” Sweetz yang duduk di sampingnya berdiri. Ia makin deg-degan melihat Ben yang leading.
“Tolong Tuhan.. jangan jatuh.. jangan jatuh” doanya.
“Aaaaaaaahhh dasar kribo sialan! Ggggggggrrr.. nggak kapok-kapok bikin huru-hara!” Zi menghambur keluar.
Sementara di pitbox Ducati.
“Yeaayyy abang bisa di belakang Dopi!” Resi jingkrak-jingkrak padahal tadi dia sudah hopeless dengan pole position Rossi.
“Ayooooooooo podium.. kalo perlu yang depan sendiri jatuh ajah biar abang ga capek-capek overtake Dopi!” tambahnya jejeritan sendiri. Pitbox Ducati serasa miliknya sendiri sekarang, nggak berbagi dengan istri-istri Nicky yang lain.
Ben Spies disusul Casey Stoner dan Andrea Dovizioso berhasil memuncaki podium.
“Ini berkat kamu beib..” kata Ben menggandeng Sweetz.
“…” Sweetz hanya tersenyum. Wajahnya semburat merah. Aduuhh aku kek ABG kalo di deket Ben. Ngomong apa kek, umpatnya dalem hati.
Tak jauh dari mereka berdua Zi udah ngelendot Jojo.
“Untunglah tadi kamu bisa ngelanjutin beib.. udah mau aku kebiri tuh Sic gila!” kata Zi dengan nada tinggi.
“Aku harus tetep tenang ngadepin dia dan konsen mengais point” Jojo mendorong tubuh Zi menjauhh.
“Kek pemulung sampe ngais point.. tapi napa pake dorong-dorong sih?” Zi mendekat dan ngelendot Jojo lagi.
“Badan aku sakit semua beib! Perasaan dikit kek” kali ini Jojo ngejitak kepala Zi.
“Huaaaaaahh… napa aku dijitak?! Pan pengen manja-manja” jerit Zi dengan kenceng.
“Udahlah.. Zi.. suami abis jatuh pegel-pegel dipijit kek” Sweetz nyamber.
“Halah pan nanti bisa” ujar Zi. Ben dan Jorge saling rangkul memberi selamat.
“Congratz.. good job”
“Thanks.. kamu juga.. “ jawab Ben. Mereka ber4 sudah ditunggu tim Yamaha untuk ngerayain party Yamaha ke-50th di GP.
“Abaaaaaaangg selamat posisi 5!” Esther menubruk tubuh Nicky.
“Makasih ya sayang” Nicky tersenyum menerima peluk dan cium adiknya. Ia menyambar iphonenya dan senyumnya makin berseri mendapati sederet tex untuknya.
“Sapa bang?” tanya Esther.
“Mau tauuu aja” Nicky memencet hidung adik bungsunya. Mereka berdua melangkah ringan sambil berangkulan meninggalkan paddock.
Kesi berjalan sendiri meninggalkan pitbox Repsolnya. Langkahnya terhenti melihat Adriana yang menatap seperti sedang menunggunya.
“Hi..” sapa Kesi.
“Aku mau bicara..”
“Sure..” Kesi tersenyum. Aaaaahh sepertinya Adri mau kembali padanya.
“Kapan aku dapet harta gono-gininya?” Adri tersenyum menatap Kesi.
Pfiuuuhh kirain mau minta balik. Baaaaaahh ini malah minta harta, rutuk Kesi dalam hati.
Di Apartemen Madrid.
Rein dengan Dani baru saja nonton live MotoGP. Keduanya kemudian beranjak keluar jalan-jalan ke taman di dekat kolam renang.
“Sic bener-bener gila.. ngebalap pake kacamata kuda kali yah?” kata Dani.
“Nggak usah bahas rider begajulan kek gitu..penting yah?” sahut Rein kesel. Inget dia dikejer mulu sama Sic membuatnya nggak berani nonton ke sirkuit jadi ia memutuskan menemani Dani di Spain.
“Alaaaaahh kamu di Silverstone kemarin napa mau jadi UG dia?” selidik Dani.
“Eeeemhh itu.. ” aduh masak aku cerita kalo Sic ngejar-ngejar dirinya, bathin Rein. Tapi harus pake alasan apa coba?
-the END-









