Jumat, 10 Juni 2011

FF - Love Hard 5

Title : Love Hard 5
Rating : T (Teenager)
Genre : Romance geje
Cast :

Riders
Karel Abraham
Nicky Hayden
Jorge Lorenzo
Valentino Rossi
Casey Stoner
Dani Pedrosa
Ben Spies
Jules Cluzel
Andrea Iannone
Scott Redding
Bradley Smith
Marc Marquez

Tweeps n WaGs
Val (fayfairy)
Sweetz (ucha6911)
Dee (tiwi_kimzter)
Zi (ziflowershine)
Ester (estherryn)
Rein (reineenn)
Resi Klebi (rae_shi)
Adriana Stoner
many other riders kru n tweet mates

Disclaimer : abis ngiler liet-liet sky-pool jadi jangan heran bertebaran pic-na di episode kali ini -hmpfh-



Barcelona apartement, usai race di Portugal.

Jorge menatap layar BB dengan cemas. Belum ada reply satu pun dari istrinya, Zi.
“Rein, kau tau Zi di mana?”
“Aku gak tau Jojo, aku tak seberapa deket sama dia”
Suara di seberang bernada cepat-cepat sepertinya tidak sabar.
“Udah dulu ya.. aku ada kencan dengan Dani, byee..”
Terdengar nada telepon diputus dari seberang. Jorge menggeleng sedih, ia tidak ada ide untuk menghubungi siapapun karena yang dia tau Zi hampir tidak punya temen deket wanita di paddock.

Race Lemans masih 2 minggu lagi. Di Estoril kemarin Zi sama sekali menjauh darinya. Jorge kemudian menyambar jaketnya menuju pintu lift. Ketika pintu terbukan Zi dengan wajah masih mendung keluar dengan cepat-cepat. Jorge setengah berlari mengejar Zi.
“Beib, please forgive me...”
“Aku ke sini bukan buat denger alesanmu okay..aku mau keluar selamanya dari sini!”
“Please Zi, demi baby kita, maafin aku kemarin itu terjadi begitu cepat”
“Enough..kau bahkan gak ada usaha mengejarku! Kau curang Jo”
Zi menyambar tas dan mengambil baju-baju di lemari dengan serabutan.
“Aku hanya melakukan sekali, itu saja gak sengaja. Bagaimana dengan dirimu? Berkali-kali aku harus menahan sakit hatiku ketika kau lebih memilih menemani operasi Dani dulu! Dan satu lagi kau masih mengejar-ngejar mantan suamimu Nicky, untuk 1 kesalahan Zi, kau tidak mau memaafkan aku?”
Jojo kini mencengkram bahu Zi. Wajahnya memerah.

“Kau mau hitung-hitungan huh? Baik.. aku minta cere!” Zi dengan penuh tangis karena amarah sudah menguasainya, berteriak.
“Aku hanya ingin kau tidak egois.. hanya memikirkan rasa sakit hatimu saja, i love u.. apalagi kita akan punya anak.. please beib..”
Suara Jorge kembali melembut. Ia sangat mencintai Zi, dulu banyak yang harus ia korbankan untuk mendapatkan wanita ini.
“Anak ini bukan darah dagingmu kalau kamu mau tau” dengan nada dingin kata-kata itu keluar dari mulut Zi.
"Zi! Aku tau kau mengatakan itu hanya ingin menyakitiku saja” mata Jorge memerah menahan tangis.
“Aku serius!” Zi menyambar tasnya dan berlalu menuju pintu.
“Katakan itu tidak benar.. tidak mungkin gossip-gosip keterlaluan di luar itu benar”
“I dont care”

Bayangan Zi sudah menghilang. Jorge terjatuh dan bersandar di ranjang. Ia menyesali apa yang terjadi di Estoril dengan Tatiana dan sekarang ia harus kehilangan Zi, nafas hidupnya.

“Jadi seperti ini rasanya dikhianati?” Zi menyeka air matanya dan masuk taxi menuju airport.


***


Paris – the most romantic city on the world.

France air port pagi hari. Sekitar lobi sudah penuh dengan passenger yang mengantri ticket. Di pintu kedatangan, Esther dan Bred menarik tasnya masing-masing. Keduanya beranjak keluar menuju parkiran. Mata Esther berusaha mencari cowok yang sudah janji untuk menjemputnya. Di dekat pintu keluar Jules sudah terlihat bersandar di pilar besar, sepertinya cowok itu masih mengantuk.
“Duaaaaaarrr”
Esther menabok lengan Jules. Usaha ngagetin yang cukup berhasil. Dilihatnya pacarnya cengap-cengap kaget sambil mengelus dadanya.
“Kirain ada bomb meledak”
“Bomb ter-ter tuh yang meledak” saut Bred di belakang punggung Esther. Spot di wajahnya menghiasi senyum nakal yang tak pernah lepas tersungging dari bibir rider asal British itu.
“Ngapain nih ulet nemplok mulu” Jules menatap Esther menyelidik.
“Mommy yang maksa.. geje banget deeh aku gak boleh ke France sendiri nemuin kamu.. mana aku harus jemput nih monyet di London pulak”
Esther jadi teringat lagi alesan konyol mamanya. Perempuan gak boleh ngapelin cowok sendiri, hedeeeh.
“Ter.. jangan macem-macem! Apa aku live report ma momy Rose biar dia gak ngijinin kamu kesini lagi” ancem Bred.
“Aduuhh Bred sayang.. iyaaah.. yang harusnya ngambeg kan aku! Dah keluar duit banyak nih buat jemput kamu!”
Esther menekuk mukanya. Ia sudah rencana lebih awal ke France untuk nemuin Jules sambil nunggu race minggu depan tapi mala disuruh bawa Bred.
“Dah beib.. tinggalin aja nih si sableng dimari” Jules menarik lengan Esther dan mengambil alih tas. Gentle juga nih cowokku, pikir Esther.
Keduanya cepat-cepat melangkah ke mobil, Bred berlari mengejar. Ketika sampai mobil cowok itu garuk-garuk kepala bingung.
“Aku duduk dimana?”
Saat itu Jules dan Esther sudah duduk di jok depan. Belakang hanya diisi tas. Karena ini mobil sport hanya ada 2 seat.
“Naik taksi saja” Jules melambai ke taxi dan ia pun segera menstarter mobilnya meninggalkan Bred.
“Jul.. si Bred gak papa ditinggal? Ntar nyasar gimana?”
“Dia kan dah gede.. kalo nyasar dia kan bisa ke Le Mans lebih awal buat bantu-bantu ngepel sircuit.
“Jaat aah.. aku gak tega nih beib..” Esther melihat spion, belum terlihat taxi yang membuntuti mobil mereka.


***


Sky Park Sands- Marina Bay Sands Hotel Singapore

Photobucket


Val tengah berenang di sky pool, ia tidak sendirian beberapa penghuni hotel nampak berjemur di grand kolam renang tanpa sekat di udara terbuka di ketinggian 200 meter itu. Wanita muda itu mendapat privileged yang bisa ke tempat itu dengan bebas karena ikut sebagai salah satu model dalam promosi hotel yang terkenal dengan sky park mewahnya yang membentang di atas 3 tower. Val keluar dari air dan menyambar lemon juice, ekor matanya menangkap cowok dengan wajah khas Eropa timur berjalan menghampirinya.
"Val.."
Sapa cowok itu dengan senyum. Val meliriknya kemudian ia melompat ke dalam air lagi. Cowok itu yang ternyata Karel adanya menyeka wajahnya yang terkena air. Val sengaja membanting tubuhnya ke air dengan keras sehingga tshirt dan celana Karel basah.
"Babe...kita harus bicara" Karel setengah berteriak melihat Val berenang menjauhinya.

Ia dari Changi airport langsung ke hotel. tanpa kesulitan berarti Karel bisa mengetahui keberadaan Val dengan bantuan orang-orang kepercayaan papa-nya. Val dilihatnya tidak peduli, tubuhnya bergerak di air bolak-balik dari tadi tanpa memperdulikan kehadirannya. Cowok itu menarik nafas kemudian ia menarik tshirt dan melepaskanya, hanya dengan kolor pendek kebiasannya Karel masuk ke air dan mengejar Val.

"Kau menyakitiku!" bentak Val tidak terima.
Tubuhnya didesak di pinggir kolam renang, sementara dada Karel menahannya tidak bisa bergerak lagi.
"Aku bilang, kita harus bicara!" Sepasang mata Karel berwarna hijau kristal menatap Val kesal.
"Aku tidak mau! Kau pulang saja rel, hubungan kita sudah berakhir..kau bisa bebas dengan Nica sekarang" Val menunduk.
Ia sekuat tenaga menahan air matanya biar tidak jatuh.
"Aku tidak akan melepaskan kamu..hanya kamu yang aku inginkan..i love u"
Karel menunduk, tangannya meraih dagu Val.
"Rel..noooo.." tidak banyak kata protes yang bisa Val ucapkan. Bibirnya menyerah dalam kendali bibir cowok di depannya

Photobucket


Val menatap langit-langit di chairman suite yang berwarna krem. Malam telah bergerak pagi, ia kemudian berbalik menatap wajah Karel di sampingnya, dengkur halus keluar dari hidung bagus cowok itu dengan teratur. Wanita muda itu bangkit, ia menarik selimut dan menutupi dada Karel. Disambarnya iphone dengan volume rendah suara Avril Lavigne – wish u where here mengalun.
"Terserah kamu! Karel gak akan percaya!"
Val terlihat gemas dan mematikan hpnya. Andrea kurang ajar. Ia memutuskan tidak ikut ke Le mans. Ia cemas dengan kenekatan Andrea, mana hubungan dia dengan Karel lagi naik turun gitu.

"Babe.. tadi malem kau bilang ok.. sekarang berubah pikiran lagi?"
Karel mengenakan kemeja hitamnya. Val masih bergelung di tempat tidur.
"Aku lupa..ada pemotretan, nanti aku susul.. sabtu udah disana..janji.. "
"Mama pasti akan maksa Nica ikut lagi..dan kamu ntar uring-uringan lagi"
Karel duduk di tepi ranjang menatap kekasihnya.
"Kalau gitu tolak dia demi aku" Val mencium Karel cepat.
Karel menghela nafas tapi dia sudah lega hubungannya tidak sampai berantakan apalagi dengan Val semalaman menemani ia menghabiskan waktu bersama.

Photobucket



***


Café Paris di sekitar Champs Elysees

“Hi Sweetz?” Ben menghampiri istri Nicky Hayden pertama itu dengan senyum samarnya. Sweetz membalasnya gugup.
“Hi Ben…”

Saat itu mereka bertemu di salah satu sudut caffe champ elysees. Rencananya besok baru melanjutkan perjalanan ke sircuit Le Mans. Paris malam hari suasananya begitu romantis sebagaimana yang orang-orang tau.
"Thanks udah mau datang”

Lama mereka terdiam lagi. Masing-masing sibuk dengan pikirannya, tidak tau apa yang harus mereka bicarakan. Sweetz menunggu. Apa maksud Ben meminta ia datang tapi setelah itu dia didiamkan begitu saja, pikirnya.
“Sweetz”
“Ben”
Mereka bersamaan menyebut nama lawan bicaranya.
“Sorry, kau duluan”
“kau duluan saja”
“No, lady first”
“Jiah.. yang ngundang aku kemari sapa coba?”
Sunyi lagi. Kalau orang lewat mereka pasti bakal mengira Ben-Sweetz pasangan yang sedang diam karena marahan. Sweetz terpekur dengan pikirannya lagi, ia dekat dengan Ben dan sempat naksir dulu hanya Ben terlalu lurus, cool, tampak tidak membutuhkan orang lain.

Di Jerez, ia lah orang yang masih mau mendekati Ben, ketika pria itu nampak sedih dan frustasi dengan hasil balapannya. Sedang yang lain tidak berani mendekat baik kru Yamaha maupun mama mary, ibunda Ben.

"Aku pulang Ben, kau hanya membuang waktuku saja"
Sweetz bangkit dari duduknya. Ben nampak terkejut, ia mengulurkan lengannya.
"Sorry, tapi sungguh aku ingin mengatakan sesuatu perasaan yang selama ini aku simpan.."
Ben menarik nafas kemudian mengigit bibir ragu, matanya bergerak resah.
"So what?" Sweetz kembali duduk.
"I love you"
"Haaah..exuse me?!!!"
Mata Sweetz terbelalak kaget. Ok.. dia kemarin mungkin sempat tergoda dengan Ben tapi tidak menyangka akan seserius ini sampai mereka harus ketemuan di tempat seperti cafe.
"Maybe its sound crazy..but i have to tell the truth..aku tersiksa dengan perasaan ini kepadamu"
"Cukup Ben! Kau tidak tau apa yang sudah kau katakan"
Sweetz bangkit dengan cepat, ia berlari menyebrang jalan sepatunya berbunyi agak keras menapak aspal.

Ben tertegun dari tempat duduknya, apa yang telah aku lakukan. Desahnya kalut. Selama berminggu-minggu usai race di Jerez ia memikirkan Sweetz.
Ya.. dia telah jatuh cinta dengan istri temannya itu. Ia ingin memendam perasaan itu sendiri tapi hal itu justru membuatnya hampir tidak pernah tertidur di malam hari dengan pulas. Ia bisa bersikap biasa di depan Nicky tapi tidak ketika ia berada di depan Sweetz.

Sweetz kembali ke kamar hotelnya dan ketika melihat Nicky berdiri di dekat jendela, ia berlari menghambur ke dada suaminya itu. Aku sungguh mencintai Nicky, Sweetz mengulang-ngulang kata itu dalam hati. Apa sih maksud Ben, menembaknya? Saraf dia, maki Sweetz dalam hati.
“Dari mana sayang? Kek dikejer hantu saja?” Nicky tertawa dan menatap wajah istrinya. Sweetz terlihat ketakutan dan cemas.
“Aku hanya pengen meluk abang”
“Cep cep cep.. gak pake nangis.. lagian kamu lagi hamil beib.. gak pake lari gitu” tangan Nicky membelai rambut Sweetz yang ada dalam pelukannya.
“Sista Sweetz dari mana?” Dee nongol dari toilet hotel.
“Aku keluar sebentar.. hi Dee” Sweetz menyeka air matanya.
“Ooo.. ayok sekarang kita jalan-jalan di Paris mumpung belum balapan, masih beberapa hari lagi” Dee menarik tangan Nicky dan Sweetz. Ketiganya bergandengan tangan menuju pintu lift.


***


France MotoGP

Suasana pressconf sangat panas, Jorge Lorenzo dan Marco Simoncelli saling membantah. Di sampingnya Casey Stoner, Dani Pedrosa dan Valentino Rossi melongo.
“Apa maksud mu.. gundul? Balapanku membahayakan? Kalau gitu ekeh musti dipenjara boow”
“Maksudku gak gitu kribo jelek! Gaya balapmu bikin bahaya.. kamu terlalu ekstrim” Jojo menggebrak mejanya, dari tadi si Kribo Sic selalu memancing-mancing amarahnya.
“Ekstrim dari hongkong! Kalau gak mau disalip ya udah.. balap aja sendiri di sirkuit emak lo” Sic ngeyel, khas gaya Italiano yang slengean.
“Kurang ajar nih bocah..”
“Yang bocah tuh kamu.. manja!”
“Calm down guys…adek-adekku yang ganteng-ganteng gak pake ngotot kalo ribut.. rider muda sekarang tuh pussies yee..” Rossi langsung duduk di antara mereka berdua.
“Apa pulak tuh pussies? Gak pake ngebela temenmu yang begajulan ini” Jojo nunjuk-nunjuk Simoncelli.
“Jo..masalah keluarga jangan sampai bikin kamu lepas kendali” Casey mencoba berbisik.
“Gak pake comel lo.. “ Jojo bergegas meninggalkan arena pressconf dengan tergesa-gesa. Sesungguhnya ia memang sangat sedih kehilangan Zi dan dia jadi mudah marah-marah di samping rekan sesama rider.


Photobucket


Le Mans – France May 15th

Di atas starting grid Jules Cluzel melakukan gerakan poco-poco. Kalau rider yang lain jongkok berdiri jongkok lagi dan seterusnya, ia malah seperti cowok yang lagi nahan kencing dengan goyang-goyang ke kiri dan ke kanan..
“Capek megangin payung gini beib.. kalau kamu tidak diem!”
Esther sudah merutuk dari tadi ke pacarnya. Tangannya yang pegel megang payung ditambah kakinya yang memakai killer heels membuatnya makin tidak nyaman. Udah gitu berkali-kali tangannya harus menahan angin yang entah dari mana datangnya menyibak mini skirt merahnya ke atas.

“Ini namanya foreplay sayang”
“Hedeeeewwhh.. warming up kalik” Esther melayangkan jitak ke kepala Jules.
“Wahahihi.. lupa kalau itu buat lain track” Jules nyengir. Tapi masih gerak-gerakin badan ke kiri dan ke kanan. Teuteeeeeuup.
“Ketawamu kek sis Val”
“Lhoo aku kan ngikut kamu ter.. waa ternyata dah tangan kedua tuh ketawanya”
“Apadah tangan kedua…”
Kembali Esther merasakan kalau rok bagian belakang seperti tertiup angin ke atas. ketika Esther berbalik, ia terkejut. Kameramen tengah ngeshoot bagian bawah rok-nya.
“Apa-apaan ini???!!! Kurang ajaaaaaaaaaaarrr”
Rupanya selain kameramen ada 1 orang yang gotong-gotong kipas angin biar rok para UG tertiup ke atas. -,-
Dengan semangat 16 Esther melipat payungnya, digebuknya tubuh dua kru tipi geje itu.
“Ampooonn.. teer.. ini disuruh bos, biar rating naek.. salahin bapak Carmelo sonoh” teriak kedua kru Dorna Sport pontang panting melarikan diri.


Di sisi lain Andrea Iannone nampak kesal, kepalanya gak tenang meleng ke kanan dan kiri seperti nyari seseorang. Uccio yang sementara mengurus Andrea sebelum ke pitbox Ducati memegang kepala Andrea untuk focus ke depan.
“Aku mumet liet kamu tengak-tengok mulu! Kamu gak pusing tah?”
“Ini kepala-kepala aku.. resek beud” Andrea turun dari motornya dan ndlosor di atas grid sambil memegang lututnya. Wajahnya muram.
“Napa? Ooo aku tau.. pasti karena papamu ga sanggup nyewa UG? Tenang ntar tak pinjem UG Ducati ya le’..”
Uccio maklum dan ngelus-ngelus kepala Andrea. Di antara sekian rider berjumlah 30-an Andrea lah yang dipayungi mekanik di tiap racenya. Mungkin Andrea ngambek, pikir pria Italy temen deket Valentino Rossi itu.
“Bukan UG om..”
“Trus apa? Pacar? Kan wajahmu ngganteng gitu le’ gampang aja ngegaet cewek mana saja”
“Bukan Pacar”
“Trus apah?” Uccio masih bersikeras pengen cari tau. Sementara para kru sudah membuka cover ban sebentar lagi warm up lap dimulai.
“Andrea pengen janda tuh om” Scott Redding yang sedang jalan-jalan buat pemanasan nyamber. Anak-anak Moto2 memang aneh, mereka berkeliaran jalan-jalan gak tenang di atas motornya yang sedang dicheck kesiapannya oleh para mekanik.
“Weee janda sopo?”
“Bahasa Italy gaol ya om?” Scott ikut duduk di samping Andrea dan ikut memegang lututnya sendiri.
“Iya dong..kamu juga Sekot? Duduk kek gitu pengen janda juga?”
“Kagak yee om.. masih banyak gadis-gadis bohai .. contohnya kek Esther tuh”
Scott menunjuk ke depan sambil menatap Esther gak berkedip, dan karena saat itu ia dalam posisi duduk mulutnya makin menganga lebar melihat rok Esther yang lagi-lagi tersingkap. Adegan di depannya sama kek tadi, gadis itu mengejar beberapa fotografer yang nakal mengambil pose hot-nya sambil memaki-maki marah.

Di antara rider Moto2, Esther memang bagaikan kembang yang menebar harum menarik banyak kumbang mendekat –ceileh- tak kalah dengan Zi yang merupakan kembang MotoGP. Mereka selalu jadi pembicaraan. Diimpikan hampir setiap rider untuk jadi pacarnya.

“Tuh ndre.. nyari yang masih orisinil aja banyak.. ini mau janda? Memang siapa yang kamu incer?” kembali Uccio bertanya.
“Tuh janda Nicky Hayden yang sekarang jadi pacar Karel si anak kaya dari Ceko” Scott menerangkan.
“Gak usah comel!” Andrea ngamuk-ngamuk dan beranjak pergi.
“Jiaaah marah tuh anak” Scott garuk-garuk kepalanya sekalian buang ketombe, mana cuaca panas jadi rambutnya yang ngalah-ngalahin Rihanna merahnya, semakin berkeringat.
“Andreeee.. balapan mau mulai! Dan kamu Sekot balik ke motormu sanah!” Uccio menendang pantat Scott.
“Goaaaaaaaaaaaaal!!!” pekik Marc ngakak dari atas motornya.
“Sialan.. om Uccio jaaaat.. sakit nih” Scott bangkit dan melangkah ke grid-nya tak lupa tangannya melayang ke kepala Marc. Dengan gemas ia menjitak rider dari Spanyol itu.
“Emaaaaaakk.. aku dijitak” Marc ngadu ke emaknya yang masih setia memayungi dirinya. Emak Marc gak terima, ia pun mengejar Scott dan ngejewer rider dari Inggris itu dengan sadis sampai kuping Scott merah-merah.

"Semua orang sadis.. gak ada yang sayang aku blasss” Scott misek-misek dan menaiki motornya.
“Sama sob.. aku apalagi.. seminggu ini aku bantu-bantu nyabut rumput sircuit”
Bred di sebelahnya ikut curcol, matanya tidak lepas dari Esther. Ada kemarahan disana. Minggu kemarin ia dikerjain. Muter-muter Paris gak jelas nyari alamat Jules gak nemu akhirnya memutuskan berangkat ke Le Mans sendiri. Petugas sircuit ngebolehin dia nginep asal ikut bantu-bantu cuci piring, nyabut rumput dan nyapu track.
“Nasibmu apes beud bro.. ckckck” Scott memeluk Bred sebagai bentuk simpati. Nah nah nah… yang ada puluhan kilat blitz menghujani mereka dikira lagi maho-an. Tak lupa adegan itu terekam kamera jadilah live Moto2 penuh gossip yang enggak-enggak. Tinggal sepasang mata Carmelo Ezpelata menatap gak percaya di monitor sambil ngelus dadanya.
“Anak muda jaman sekarang.. dah aku sediain UG, Grid Girl dan Paddock girl yang sexy punya eh milih maen pedang-pedangan”
“Apaan itu sir?” Bernie Ecclestone  bos F1 yang saat itu ikut menemani Bos Dorna itu bertanya dengan wajah sok polos.
“Itu anak-anak sableng” Carmelo menjawab singkat tanpa mau membahas lebih lanjut tentang kelakuan anak-anak di track.


Sebentar kemudian para kru, UG, kerabat, encang dan mbah-mbah yang menemani rider mulai bergerak menyingkir. Beberapa rider mulai melakukan warm up lap. Andrea yang baru kembali dari toilet tertinggal di belakang. Kemudian race dimulai, nampaknya akan berjalan seru. Ke 37 rider mulai memasuki corner awal. Masih aman semua. Sampai kamera menangkap gambar Andrea terguling. Rider itu tampak bingung, belum saja 1 lap ia lalui motornya sudah mencium gravel.

“Apa yang terjadi Andrea?” Regalino Iannone yang baru saja sampai pitbox menghampiri putranya.
“Sorry dad..im confusing” Andrea meraup wajahnya menyesal dan kemudian berpamitan pergi ke motorhomenya.

“Uccio? Whats the problem?”
“Nanti saya bicara sama Andrea.. anak itu sedang tidak konsen dari tadi.. tapi saya harap dia akan baik-baik saja”
“Ok.. aku serahkan ke kamu.. dia lebih dekat denganmu kan?” Regalino menepuk bahu Uccio, ia pun masih geleng-geleng kepala tak percaya putranya menyia-nyiakan race lagi.


Le Mans MotoGP Race – Time!

Resi menghampiri sesosok pria yang sedang nongkrong di atas grid dekat motor Ducati. Kebiasaan pacarnya itu memang seperti orang berdoa sambil nunduk. Ia mengeluarkan bungkusan dan menabur sesuatu di kepala Valentino Rossi.
“Apa ini babe?!!” Rossi bangkit dan mengacak rambutnya kaget. Nampak beberapa beras kuning jatuh di bahunya.
“Buat buang sial.. biar abang cepet dapet podium!” Resi tersenyum kemudian ia menenggak minuman dari botol dan berkumur kemudian tanpa diduga ia menyemburkannya ke wajah Rossi.
“Eh kacruutt..mamaaaaakk.. ini apa wajahku disembur-sembur gini?!!” Rossi gelagepan, mulutnya ikut mangap-mangap sepertinya mau bersin.
“Pan tadi dah bilang.. biar dapet podium.. biar abang beruntung” Resi dengan wajah tanpa berdosa tersenyum membelai pipi Rossi. Uccio yang disampingnya juga tak kalah kaget dari tadi, cuman ia berusaha menahan diri takut Resi ngamuk. Gak mau dia dapet smack dari pacar Rossi yang sudah terkenal dengan smack mautnya itu. Dan tak lupa, rupanya ritual Rossi tadi itu sempet juga di live ma MotoGP!

“See… Val gak datang Rel” Nica tersenyum memegang payungnya.
Karel disampingnya membuang nafas. Ia hanya bisa menggeleng kesal. Ayah dan mamanya sudah berada di sekitarnya tetapi ia merasa masih belum cukup. Ia ingin Val berada di sampingnya juga.

“Hati-hati yah beib..” Rein mencium pipi Dani. Sementara Dani tersenyum dan memeluk pinggang kekasihnya yang memayungi dirinya. Ia jadi sangat merasa beruntung, Rein tidak pernah absent menemaninya semenjak mereka memutuskan untuk hidup bersama.
Disampingnya, Casey Stoner sendiri tanpa Adriana yang menghilang entah kemana. Jorge Lorenzo juga tanpa istrinya Zi yang biasanya masih rela ikut berpanas-panas ria di atas starting grid.
“UG Karel aneh deeh.. Val mana sih?” Rein mengok ke belakang.
“Bukannya dari kemarin tuh UG yang eksis yah beib..” Dani tertawa, lesung di sekitar dagu menambah Rein yang menatapnya makin gemas.
“Auuukk.. mending kece.. aneh gituh” Rein ngikik.

Lampu hijau tanda balapan menyala semua rider MotoGP mengegas motornya kuat-kuat. Beberapa lap kemudian, Dani terjatuh disenggol ban belakang Simoncelli. Rein yang di pitbox menghambur keluar sambil menjerit.
“Sic kribo kurjaaaaaaarr..” ingin dia mencabuti rambut pembalap Italy itu. Rein menangis apalagi ia melihat wajah Dani kesakitan sambil memegang bahunya.

Kembali ke balapan, Kesi leading setelah overtake Jojo, dan sepertinya Jojo makin tidak punya tenaga. Berkali-kali ia mengalah ketika Dovi melesat meninggalkannya kemudian di susul Rossi. 


Photobucket


Yang senang akan hal itu tentu saja Resi. Wanita itu menjerit-jerit histeris.
‘Yeeeeeeesss podium! Yihaaaa mbah dukunku emank te-o-pe-be-ge-te….”
“Jiaah maen dukun nihh si kunti!” Dee tertarik dan mendekati Resi penasaran ingin tau.
“Res.. ngedukun dimana?” Sweetz ikut menarik Resi dan berbisik.
“Ada aja! Ntar kalau aku kasih tau semua pembalap podium dong.. emang cukup podiumnya buat berdiri semua rider” Resi membetulkan kacamata hitamnya, dan sebenernya gaya dia yang lebih mirip dukun, dukun pijit!
Resi kemudian ngeloyor keluar menyambut Rossi. Tinggal Dee dan Sweetz saling pandang.
“Kita harus tau Dee.. sapa dukunnya,, biar abang podium terus!” Sweetz tersenyum. Dan Dee mengangguk.
“Ntar aku selidiki”

Jojo kembali ke pitbox-nya dengan muram. Tak kalah dengan teammatenya, Ben Spies. Kedua pria itu sudah duduk berdua saling menopang dagu masing-masing di atas meja.
“I love Zi”
“I love Sweetz”
“Jiaaah.. bareng” keduanya akhirnya ngikik geje. Lin Jarvis geleng-geleng kepala menyaksikan dari jarak deket.


Sementara itu di motor medical.
“Udah hun.. gak papa.. i’ll be okay” Dani mengedip ke arah Rein yang terus menangis.
“Aku akan botakin tuh si kribo!”
“Nope.. kamu gak usah dendam gitu.. biar aja ada yang bales” Dani tersenyum dan mengusap airmata yang menetes di atas pipi ceweknya dengan lembut.


Kesi berjalan ke motorhome dengan gontai. Dia menang hari ini, tapi sepi tanpa wanita yang memandang dia bahagia dari bawah stage podium sambil jingkrak-jingkrak. Ia kemudian membuka pintu perlahan. Wajahnya mengernyit kaget, didalam tepatnya di sofa telah duduk wanita yang selama ini dia impikan dan harapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar