Title : Love Hard 6
Rating : T (Teenager) +
Cast :
Riders
Jorge Lorenzo
Casey Stoner
Dani Pedrosa
Nicky Hayden
Valentino Rossi
Ben Spies
Karel Abraham
Andrea Iannone
Scott Redding
Stefan Bradl
Jules Cluzel
Bradley Smith
Marc Marquez
Mattia Pasini
Tweeps n WaGs
Val (fayfairy)
Rein (reineenn)
Sweetz (ucha6911)
Dee (tiwi_kimzter)
Zi (ziflowershine)
Esther (estherryn)
Resi Klebi (rae_shi)
Cindy (alphonz_cindy)
Adriana Stoner
many other riders kru n tweet mates
Motorhome Repsol No. 27
Casey Stoner tersenyum dan menghampiri Zi yang saat itu sudah duduk di atas sofa di dalam motorhome Repsolnya.
"Hi..bisa ada disini?"
Kesi mengambil duduk disamping Zi, wajahnya cerah tidak bisa menyembunyikan rona bahagia disana.
"Kau lupa? Kan kamu yang ngasih kunci duplicate ke aku kemarin"
Zi tersenyum. Ia menatap mata teman masa kecilnya dengan antusias.
"Congrats for ur podium today..fantastic result eh?" tambahnya.
"Oh thanks Zi, sayang Adriana gak ikut ngrayain, ia mala sibuk sama rider laen" ujar Kesi perih. Ia sudah habis cara untuk membuat Adriana mengerti.
"Kesi aku minta bantuanmu.."
"Anything for u..apa?" Kesi menjawab.
"Aku sangat ingin tetap berada di sekitar MotoGP, jalan-jalan ke paddock dengan bebas tapi aku gak mau deket-deket dengan Jojo. Any idea?"
Zi menatap Kesi penuh harap.
"Masalahmu harus cepet-cepet diselesein Zi, kau sedang hamil.."
"Aku pikir dengan aku kesini bisa dapet solusi" Zi bangkit.
"Motogp kek nafasku, aku ingin selalu berada di dalamnya.." Zi melanjutkan dengan suara lemah.
"Jujur aku menginginkan mu Zi, boong kalau aku gak seneng kau menjauh dari Jojo tapi aku gak mau berada di tempat yang salah. Aku sudah berpikir lagi kemarin, aku harus melihat apa yang sudah aku dapatkan yaitu Adriana, bukan menginginkan dan terus bermimpi sesuatu yang tidak bisa aku miliki"
Kesi menggeleng sedih. Ia melihat Zi kasian, pasti temannya ini lagi kalut tapi ia tidak mau sebagai pelarian maupun tameng.
Zi beranjak keluar sebelum menutup Zi berbalik. "Thanks.." desahnya sambil mengusap air matanya. Kesi menatap sedih tapi ia menguatkan hatinya berusaha fokus untuk rumah tangganya juga yang sekarang di ambang kehancuran.
Sementara itu di sudut Le Mans Hotel, Val menunggu di lobi tidak sabar. Ia sudah berkali-kali ngebel dan sms Karel tapi lama tak ada jawaban. Ketika hendak melangkah ke pintu keluar, iphone nya berbunyi. Karel menyuruhnya ke atas.. langsung ke kamarnya, Val pun beranjak ke lift setengah berlari. Penerbangannya delayed, sore baru nyampe di Le Mans.
"Karel..." Val mengetuk pintu kamar Karel perlahan. Ia terkejut mundur mendapati seorang wanita membuka pintu kamar itu.
" Hi Val..baru nongol? Kami baru saja merayakan race dan sekarang lagi siap-siap mau pulang ke Brno" Nica tersenyum tangannya masih memegang handle pintu.
"Karel mana?" dada Val semakin berdegup kencang, kakinya lemas. Mendadak pikiran negatifnya keluar ketika meliha Nica membuka pintu hanya dengan mengenakan handuk.
"Dia lagi di kamar mandi..u know..aku gak perlu jelasin tadi kami ngadain party kek gimana kan?" Nica menatap Val, senyum sinis menghiasi wajahnya.
"Caramu basi! Dah kuno..kau pikir dengan kek gini bisa merebut Karel dariku?! Jangan harap" suara Val kini bergetar nahan tangis.
"Cara lama tapi cukup jitu nendang cewek kek kamu Val, pergilah..sepatu kacamu sudah pecah dan jangan berharap Karel akan memberikan lagi!"
Usai mengatakan itu Nica menjerit, Val telah mencakar dan memukul wajahnya.
"Stop it Val! U hurt me, kamu gila! Dengar ..aku bisa panggil security dan nuntut kamu..tapi kalau kau angkat kaki sekarang aku akan melupakan kejadian ini"
"Dasar ular, aku gak akan ngebiarin kamu bahagia nenek sihir!" Val berteriak marah tak urung dia merasa puas melihat hidung cewek Ceko itu berdarah. Ia kemudian berbalik pergi.
"Keep on dreaming..cinderella, jangan ngarep Karel lagi!" Nica tak kalah berteriak.
Setelah punggung Val menghilang ia tersenyum. Mudah saja nendang kamu Val, pikirnya. Ia tadi memang masuk kamar Karel dan mendapati iphone cowok itu penuh dengan daftar missed call dan sms dari Val. Semua berjalan sesuai yang dia rencanakan kemudian Nica melepas handuk dan menyambar bajunya cepat-cepat ketika mendengar pintu toilet berderit membuka. Ia berlari keluar dari kamar Karel.
Zi berjalan perlahan kakinya menuntun ke motorhome Yamaha. Ia berhenti, matanya terpaku pada sesosok pria dengan rambut hampir gundul di kepalanya. Jojo pun berbalik ketika firasatnya mengatakan istrinya berada tidak jauh darinya. Ia terkejut kaget dan tersenyum menghampiri Zi.
“Sayang akhirnya kamu kesini” Jojo meraih tubuh Zi, diciumnya dengan lembut wajah istrinya itu.
“Aku tetep pada keputusan.. aku minta cere!” Zi masih merengut, harga dirinya yang tinggi membuat ia gengsi mengakui kalau dia masih membutuhkan Jorge Lorenzo.
“Gak ada perceraian hun..dalam hukum dan kepantasan di manapun gak dibenerin nyere wanita hamil. Aku sekali lagi minta maaf beib.. please kasih aku kesempatan” Jojo meraih tangan Zi dan menciumnya.
Zi tertegun dan berpikir sejenak. Aaaaaaahh apa yang aku mau sebenernya sih? Tanya dia dalam hati, Jojo ganteng, juara MotoGP dan yang terpenting terlihat sangat mencintainya tapi kemarin dia curang. Desahnya.
“Please.. kasih kesempatan pada dirimu juga.. demi our baby” Jojo mengelus perut Zi yang sudah terlihat agak membuncit.
“Ok.. tapi ini masih percobaan!”
“Jiaah kek hukuman aja?”
“Masih protes? Gak jadi kalau gitu”
“Kebiasaan kamu beib.. bikin aku begging-begging kek gini” Jojo menowel hidung mancung istrinya dengan gemas. Dah biasa Zi memperlakukan dia kek gitu. Dan dia selalu menerima itu sebagai tantangan.
***
Grand Mansion Madrid - Seminggu jelang MotoGP Catalunya.
Dani masih terlelap di atas bednya sementara Rein masih mondar-mandir bingung. Gadis itu sesekali mengacak rambutnya.
"Ada apa beib? Kamu kek bingung gitu" tiba-tiba Dani bersuara tapi matanya masih terpejam. Rein segera mendekat dan duduk di samping Dani.
"Sorry..keganggu yah" Rein tersenyum tidak enak sudah membangunkan Dani, kekasihnya.
"Dari tadi aku perhatiin kalik..kalau bosen kamu boleh jalan-jalan gak selalu harus kesini, masih ada mama yang ngurus hun.."
"Bukan gitu..emh minggu depan ada race di kampung sebelah"
"Seri Catalunya? Kalo mau kesana gak papa..kamu butuh hiburan kan? Aku tahu beib..balapan tuh favorit tontonan kamu dari dulu..pergilah"
"Jadi gak papa aku tinggal?" Rein meraih tangan Dani dengan lembut.
"Asal abis race langsung balik gak pake ikut party riders dan WaGs laen"
"Sure!" senyum cerah menghiasi wajah Rein.
F1 GP Monaco
Di tribun mewah dekat casino Scott Redding tampak tertawa di samping Esther Hayden. Mereka berdua kek sepasang kekasih, dari tadi saling rangkul. Wajah mereka kadang bersentuhan tidak sengaja.
“Thanks ya ter.. mau nemenin nonton F1”
“U’re welcome.. tapi heran deeh apa sih asiknya nonton ginian? Mending MotoGP, overtakingnya mantab” Esther melihat kerumunan penonton di antara tribun yang dibangun sementara di antara Mall dan pertokoan sekitar casino Monaco di depannya.
“Asik kalik.. apalagi ada kamu” Scott menatap mata Esther, yang ditatap tersipu. Gadis itu merasa deg-degan kalau berada di samping mantannya itu.
“Aku ngrasa curang sama Jules..” Esther mendadak menarik nafas berat. Ia kemarin alesan berkunjung ke rumah Bred di London tapi mendadak Scott menelepon dan mengajaknya nonton F1.
“Kita kan gak pacaran.. anggep aja hang out bareng sama temen lama ter..” Scott berusaha membuat mood Esther balik. Ia ingin Esther kembali padanya tapi ia berpikir mungkin harus perlahan, lagian sudah ada Jules disamping Esther dan dia harus hati-hati bertindak.
Esther sekali lagi menyapu sekitar bangunan hotel di dekatnya, mata indahnya memicing melihat jendela hotel di depannya.
“Itu bukannya Kimi Raikonen ya sekot?”
“Mana?” Scott melihat ke arah yang ditunjuk tangan Esther.
“Oo iyah.. kamu hafal gitu wajah rider F1, dia dah lama gak di F1 lagi”
“Tau lah.. kan dia mantan pacar sista Dee, istri abang. Aku pernah liet sis Dee mewek-mewek ketika Kimi ditendang dari tim Ferarri.
“Dee? Maksudmu wanita yang duduk di dekat Kimi.. liet deeh..”
“Weks.. iyah.. ngapain sista Dee sama Kimi? Wah gak bener ini.. aku telepon abang” Esther meraih BB nya dan mulai mencari kontak Nicky Hayden.
“Ter.. jangan dulu.. belum tentu mereka … eemhh maksud ku.. kamu gak ijin ke Monaco bareng aku kan? Abang mu akan tau kamu kesini” Scott menarik tangan Esther yang memegang Hp-nya.
View sirkuit Monaco
Dan entah karena sudah ada kontak bathin sama adik iparnya, wanita yang duduk dengan bikini sedang berjemur di balkon hotel menatap ke arah kerumunan penonton di tribun depannya. Dee menutup mulutnya terkejut, di seberangnya Esther tak kalah menatapnya dengan wajah sengit.
“Oo gosh.. Kimi kita harus turun” Dee meraih tangan Kimi supaya masuk ke dalam kamar.
“Ada apa sayang?” Kimi dengan hanya mengenakan kolor menampakan dadanya yang bidang bertanya.
“Ada Esther!”
“Esther siapa?” Kimi masih belum ngeh, kacamata hitamnya membuat dia gak bisa melihat dengan jelas. - halah-
“Dia adik iparku! Dia ada di sini! Di Monaco!” Dee berlari panik, ia menyambar baju. Kimii segera mengejarnya dan berdua mereka turun. Mereka kemudian naik fly bridge menuju tribun di sebrangnya. Tapi Esther yang ditujunya sudah menghilang.
“Aduuhh jangan sampai tuh bocah ngadu ma abang.. huuaaaaaaaa” Dee meraba Hpnya dan berusaha menghubungi Esther.
“Dee.. relaxe!”
“How come…we’ve got big problem..terutama aku!” Dee berlari menyusuri dekat jalan yang sudah dipagar besi tinggi. Dee dan Kimi pontang-panting berusaha mencari Esther dan Scott yang seperti rahib di telan bumi. –lebeh-
Sementara itu di tribun dekat pantai Andrea Iannone dari tadi terus mengawasi Wanita berjaket dan berkacamata hitam di depannya baris kedua dari ia duduk. Ia menunggu waktu yang tepat untuk menyapa wanita yang ia kuntit dari pagi. Siang itu terik matahari terasa membakar. Tshirtnya basah melekat di badan.
“Sebastian Vettel keren.. cari cara buat ikut di party ntar yuuk” Adriana berseru di dekat wanita yang ternyata Val temannya.
“Ogah.. males amats.. hidup ku dah cukup kacow dengan cowok-cowok MotoGp wahahihi” Val tertawa, ia diajak Adriana untuk menemani sekalian ngilangin setres lah. Pikirnya.
“Ya udah aku nyari es dulu .. panas gilak” Adriana berjalan menjauh, dari samping Mattia Pasini berjalan menghampirinya.
“Mattia..Andrea mana?”
“Dia di belakang, dah biar saja mereka ketemu” Mattia tersenyum meraih tangan Adriana.
“Ok..” Adriana tersenyum. Mereka berdua bergandengan tangan dan mencari tempat mojok.
“Jodoh gak akan kemana yah ternyata” Andrea sudah duduk disamping Val.
“Disini ada ribuan orang.. sotoy amat kamu” Val berusaha menikmati balapan di depannya.
“Ramah dikit kenapa?!” keluar sifat maksa Andrea yang terbukti selalu bikin Val ilfil.
“Kamu bikin semua kacow…tapi sekarang aku gak peduli, perjanjian dah batal!”
“Masih kalik.. aku yang pegang bola”
“Heehh kau pikir ini permainan bola apa? I tell u what.. aku dah gak bareng Karel.. puas?!!” Val berujar semakin tidak sabar. Andrea menyebalkan. Kalau waktu itu ia datang ke Le Mans paling gak ia bisa nyegah Nica berbuat macem-macem.
“Good news” Andrea tersenyum.
“Bad newsnya aku gak akan pernah berpaling ke kamu”
“Akan kubuat kau menelan kata-kata mu sendiri” kini Andrea sudah tertawa.
“Andrea… aku paling gak suka ditekan!”
“Yakin? Malem di Jerez itu kamu minta ditekan kalik”
“Najis” Val mengedikan bahu jijik. Aduuhh napa Andrea ngingetin peristiwa itu lagi. Keluhnya.
“Apa mau mu? Bisa kau biarkan aku idup tenang?” lanjut Val dengan wajah memelas. Biarin.. kali saja Andrea kasihan dan melepaskannya.
“Gak usah lebay deehh..Val..” Andrea kembali ngikik.
“Nyebelin banget nih bocah..” rutuk Val. Matanya menatap Andrea lebih dalam, ganteng sih tapi nyebelin. Desahnya dalam hati. Andrea memainkan bibirnya dan juga menatap Val, matanya yang jahil seperti menikmati wajah cemas dan sebel di depannya.
“Bisa kita bersikap wajar?” Andrea menarik alisnya sambil mengedip.
“Misalnya?” Val mengernyit gak mudeng.
“Misalnya kek gini..” Andrea mendekat ke wajah Val. Sebelum mendarat Val udah melengos dan ia beranjak bangun, belum lagi berdiri sempurna tangan Andrea menyentaknya jadilah badannya terjatuh dan menimpa Andrea. Di tengah sorak-sorak penonton karena kembali Vettel jadi juara, Andrea memeluk tubuh Val. ia mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah gadis itu. Dan sepertinya Val kembali nyerah kali ini.
***
Catalunya MotoGP
Rein berjalan santai melewati paddock. Sesi qualifikasi Moto2 sedang berlangsung. Ia mendekat ke monitor menyaksikan beberapa rider beriringan melewati track. Matanya menangkap sesosok wanita yang sedang berdiri di pembatas paddock kemudian cepat-cepat ia hampiri wanita itu.
"Val!"
"Oh hi..kamu disini? Kirain di Madrid" wanita tadi yang ternyata Val tertawa masih terkejut menatap Rein. Ia saat itu mengenakan blouse hitam tanpa lengan, rambut cokelat panjangnya kadang bergerak-gerak tertiup angin.
"Aku nyempetin kemari..gak tahan juga kalo gak nonton race" Rein memegang rambutnya yang juga tertiup angin menjawab.
"Sama..mana aku di Le Mans kemarin datang telat"
"Pantes tuh UG aneh yang memayungi Karel eksis"
"Gak pake ngingetin! Eh tadi liet gak beberapa pemaen club Barcelona datang lho"
Val mengalihkan pembicaraan, ngomongin tentang Karel dan UG nya selalu bikin ia emosi.
"Gak liet.."
"Wew sapa tuh yang jatoh kasian amat" Rein berseru melanjutkan, matanya terbelalak ke arah track.
"Rider gak penting gitu.." Val memutar matanya. Ia tahu yang terjatuh di sesi QP adalah Andrea Iannone.
"Kasian, dia kan 2 race jatuh mulu"
"Rider begajulan ya kek gitu..tipikal rider Italy!"
"Eh jangan salah rider Italy juga ada yang OK, tuh cowok gw" dari belakang Resi, kekasih Valentino Rossi ikut nyamber.
"Mattia Pasini juga OK" Adriana mendadak juga ngusel diantara mereka.
"Ini kenapa jadi rame-rame ndusel disini?!" Rein mengalah dan agak bergerak ke belakang.
Val selanjutnya melihat Andrea di monitor sedang menopang dagu sementara mekanik speed master berusaha ngeset up ulang karena motor kuning hitam no 29 itu rusak. QP kurang 40 menit, Val gak yakin Andrea bisa kembali ke track.
Balik ke gerombolan WaGs tadi.
"Besok pada ati-ati jaga pasangan masing-masing, Paris Hilton bakal dateng booww" Rein tertawa.
"Abang aku paksa ntar pake kaca mata kuda!" Resi negesin, suaranya terdengar agak cemas.
"Aku gak peduli dengan Kesi, lagian Mattia di Moto2 mayan aman dari kerlingan seleb gak mutu itu" Adriana tersenyum, sepertinya ia tidak merasa terganggu.
"Val tu musti ati-ati jagain Karel noh" lanjut Adriana.
"Kita kerjain aja seleb menel itu kalo macem-macem" Val menjawab sengit. Tapi segera saja sadar Karel sudah bukan pacarnya lagi. Ia menggeleng sedih.
“Ngerjainnya gimana nih?” Resi tampak tertarik.
“Gak jadi.. buat apa! Biar saja Karel sama tuh Paris.. ciih”
“Jiaah tadi yang puny ide siapa? Konsisten dong neng..” Resi mengacak rambut Val.
“Aku sudah putus dengan Karel!”
“Wew.. kapan? Kok gak kasi tau aku?” Adriana mendekat.
“Gak usah berlagak kaget” Val melotot gemas ke arah Adriana, kemarin temannya itu berkomplot di Monaco.
“Yaudah kan ada Andrea.. ayolah Val.. dia juga kaya kan?”
Val menggeleng dan beranjak pergi, langkahnya agak berat menuju pitbox item kuning speed master. Ia menyamber minuman dan mengulurkan ke Andrea yang terduduk sedih.
“Are you okay?”
“I’m in good dan mereka bilang bentar lagi motornya jadi.. entahlah” Andrea meraih tangan Val dan menggenggamnya.
Val tersenyum menatap Andrea. Ya sudahlah, dia masih perlu hubungan dengan riders MotoGP agar bisa bebas keluar masuk paddock. Ia gak mau lagi hanya ngandelin Karel. Enemy cinta di hatinya saat ini
Rein yang pamit meninggalkan ibu-ibu PKK itu berjalan melawati pitbox Honda Gresini, nafasnya agak tersengal karena amarahnya mendadak keluar lagi meliha Sic sedang siap-siap memakai helmnya.
“Ada apa? Kau naksir? Sorry miss.. aku lagi konsen” Sic berbicara dan urung mengenakan helmnya.
“GR! Setan kek lo mana ada yang bakal naksir” Rein ngeloyor pergi dengan nggondok.
Ia berjalan cepat-cepat untuk kembali ke hotel, karena tadi agak meleng tubuhnya menabrak ke seseorang.
“Waduuh mbak ati-ati kalo jalan, bisa-bisa broken collarbone gw” rider itu memegang bahunya.
“Iyah kalo aku bawa RC211V! badan gw kan kecil gini” Rein melayangkan jitak ke rider muda itu.
“Eh kamu kan Stefan Bradl?” Tanya Rein menambahkan.
“Iya mbak..”
“Umur ku sama situ gak beda jauh kalik.. panggil aku Rein” gadis itu tersenyum, senyum manis rider muda dari Jerman itu telah menarik perhatiannya.
“Mbak ehh kamu pacar Dani bukan?” Stefan ikut berjalan di samping Rein.
“Emhhh semacam itulah” jawab Rein. Aduh kenapa mendadak aku gak pengen buka status yah. Bisik hatinya.
“Gimana keadaan Dani?”
“Baik.. Step di Catalunya ditemenin siapa?”
“Panggilnya jelek amat.. kek kena setep..” protes Stefan.
“Lah dari pada situ aku panggil setres, lebih sadis lagi kan?” jawab Rein ngikik.
“Tapi jangan step..”
“Yaudah Bred ajah”
“Saingan ma si Bred nya Ter2 dong..”
“Nih bocah protes mulu!.. eh besok ati-ati.. jangan deket-deket sama Paris yah.. bahaya!” sebelum pamit Rein memberi peringatan.
“Paris seksi tuh” Step eh Stefan tersenyum lagi dan itu semakin membuat hati Rein kebat-kebit gak karuan.
“Pokoknya jangan!” Rein menekankan kata-katanya.
Kemudian Gadis itu berjalan menghampiri Sweetz yang saat itu sudah berdiri di depan pitbox Ducati. Nicky menyentuh lengan istrinya.
“Aku QP dulu sayang.. dah dedek.. doain daddy dapet waktu bagus!” Nicky membelai perut Sweetz yang masih trepes.
“Iyah.. hati-hati beib” Sweetz melayangkan ciuman di pipi Nicky Hayden. Kemudian suaminya berjalan cepat menghampiri motornya.
“Mesranya..” Rein mendekat sambil menggoda.
“Iya dong.. kamu ntar tidur dimana? Hotel? Kalo gak ikut ke motorhome Ducati aja” Sweetz memberi usul.
“Ke motorhome ku juga boleh..” seseorang dari belakang Rein nyamber.
“O em ji.. ada kribo!” Sweetz terpekik tapi kemudian mengelus perutnya. “Amit-amit jabang bayi.. moga-moga bayiku gak niru rambut dia”
“Ngapain kamu.. sok deket” Rein menatap Sic galak.
“Aku sudah berpikir lagi tadi.. kau cantik.. gimana kalo kita ngedate?”
“Ehh buseet.. Rein? Kamu sama Sic? Setres boleh karena Dani, tapi gak pake godain rider yang nabrak pacar dong” Sweetz menggeleng kaget.
“Enggaaaaaak.. aduh.. ini kribo geje deeh..gak pakal aku ngedate ma situ.. mimpi kalik yeee..” Rein cepet-cepet berlari menyingkir. Simoncelli garuk-garuk rambutnya.
“Mas kribo! Ampoonn deeh.. jangan dekat-dekat di depan gw.. ntar aku mbathin.. bisa bahaya.. masa depan anakku dipertaruhkan ini!” Sweetz dorong-dorong bahu Sic menjauh.
“Ada yang salah?” Sic bergumam dengan wajah bego.
“Ada om.. rambut situ” Bred dan Jules yang melintas ikut nyamber.
“Nih dua bocah minta di pitez… anak Moto2 kan? Gak usah macem-macem” Sic nunjuk-nunjuk kedua bocah yang kini ketakutan menyingkir jauh.
Pagi harinya. Race 125 cc lebih rame dari biasanya dan tentu saja karena kehadiran bos Vinales, Paris Hilton.
Di samping paddock kembali anak-anak Moto2 dan rider MotoGP pada bisik-bisik.
“Beruntung Vinales bakal dikasih hadiah kalo dia podium” Jules mesem-mesem.
“Aku juga mau” saut Bred.
“Kenapa coba setiap cowok kalo ngomongin cewek pada omes?” Cindy dah ngedumel di samping Marc. UG muda itu jarang di lirik, kata Marc dia musti oprasi dada. Hedeeeh.
“Apalagi aku.. pengen deket-deket.. ntar aahh” Marc menatap Paris dengan pandangan mupeng.
“Ntar aku implant Marc..”
“Wew.. Esther ntar tak suruh juga deeh” Jules ngakak menimpali Cindy.
“Sorry yee…kalao kau pengen aku kek Paris .. kita putus!” Esther sudah mendelik di belakang Jules.
“Sukurin..hajar aja ter” Bred ngomporin.
“Gak pake manas-manasin!” Esther ngegaplok Bred pake sandal.
“Kan dah aku belain ter.. tega banget pake gaplok gw” Bred meraba pipinya yang panas.
Kita tinggalkan anak-anak ABG pada berantem. Kalo gak terkendali gampang.. tinggal lapor satpol saja.
Val menatap track yang kini penuh dengan suara mesin-mesin berkekuatan 125 cc. Andrea berdiri di belakang menopang tubuhnya. Ia bisa merasakan lengan kokoh cowok itu melingkar di pinggangnya.
“Kau gak ikut ngiringin Paris?”
“Nyuruh nih?” Andrea tertawa.
“Kalik aja..biasanya cowok pada tertarik.. mana dia seleb ngetop gitu”
“Kalau itu bikin kamu ngejauh.. lebih baik aku cuekin dia” Andrea kembali ngakak.
Keduanya masih berada disana sampai balap 125 cc usai. Sepasang mata hazel mengawasi keberadaan mereka di paddock yang terlihat mencolok.
“Aku gak tau apa yang ada di benak cewek.. mudah banget berpaling” Karel menatap kesal dengan pandangan tak rela ke paddock luar.
“Karel focus.. bentar lagi race” mama Carol mengelus punggung putranya. Karel kemudian bergabung dengan para kru berusaha mengalihkan perhatiannya. Kemarin ia bertemu dengan Val tapi yang ada Val menuduhnya dan melempar cincin yang dia berikan dulu. Paraahh… ia pikir setelah terakhir ketemu di Singapore itu hubungan mereka kembali baik.
Back to the track, kelas Moto2 sebentar lagi akan mulai. Semua rider telah duduk di atas motornya. Siap untuk warm up lap. Esther, Cindy dan Val berjalan bersama menyingkir dari track.
“Gak nyangka omonganku kapan hari itu jadi kenyataan” Esther berbicara dengan nada ngejek ke arah mantan iparnya itu.
“Yang mana?” Val nginyem, matanya masih mengawasi punggung Andrea yang start dari posisi 22.
“Sis Val ninggalin Karel demi Andrea.. gak capek tah kek gitu”
“Karel yang selingkuh lebih dulu” Val melengos pergi.
“Dan ogah amat.. aku merana sendiri sedang di luar sana ada rider yang ngejar-ngejar” tambahnya dengan suara keras.
“Dikejar-kejar nagih utang?” Cindy dengan lugu ikut menyampuri.
“Utang cinta” Esther menjawab sinis dan berjalan ke pitbox no 16 Jules Cluzel.
Marc akhirnya podium di balapan Moto2 siang itu. Saat itu Paris masih ada di sekitar sircuit langsung berjalan menghampiri rider Spanyol itu.
“Eh mbak Paris.. jangan kau nodai bocah masi ingusan ya!” mendadak dari arah berlawanan Zi menghalangi Paris yang akan memberi pelukan kepada Marc.
“Mbak Zi.. jangan gitu.. kapan lagi ketemu seleb” Marc menarik-narik rok Zi
“Aku hanya mau ngasih pelukan selamat.. gak lebih” seleb holiwud itu akhirnya mundur mendapati Zi menatap galak seperti tukang kepruk Marc.
“Kamu tuh masi polos Marc” Zi berbalik menatap Marc.
“Sepolos akuh!” Cindy menghambur ke arah Marc dan memeluknya.
“Bocah menel.. masi kecil dah peluk-pelukan gitu’ Zi membanting kakinya dan berjalan pergi. Ia tidak bisa ngelarang Cindy, cem-ceman Marc saat ini.
“MotoGP sebentar lagi dimulai!”
“Kek di airport yah suara mbak-mbak yang ngomong itu” Ben Spies berjalan beriringan dengan Jojo yang mengandeng istrinya Zi menuju track. Sementara motor kedua rider itu dituntun para kru.
“Yang ini suaranya serak-serak becek cuiii” Zi tertawa berkomentar.
“Nah gitu lietnya kan enak.. selalu mesra”
“Biasa Ben.. kalo kamu nikah bakal ngrasain deeh.. susahnya ngurus istri apalagi yang type kek gini” Jorge tertawa.
“Emang aku type apaan?”
“Type rumit” sebentar saja keluar suara tertahan mengaduh dari mulut Jojo, Zi menabok bahunya.
Ben tersenyum. Diam-diam dia ngrasa iri akan kemesraan Jojo-Zi. Matanya menangkap Sweetz yang mengandeng Nicky yang sama kek dirinya menuju track juga. Dan lagi-lagi di tengah track Paris kek model lenggak lenggok menghampiri tiap rider. Ketika wanita itu hendak menghampiri Jojo, Zi telah bersiap ngacungin golok.
“Kek preman beib.. bawa gituan” Jojo menatap Zi cemas.
“Biar aja.. berani godain suami orang.. gw gorok tuh artis menel!” Zi menjawab cuek.
Dibelakangnya tak kalah heboh. Resi mencak-mencak karena Paris dengan semangat memeluk Rossi dan berpose. Kilatan blitz menerpa mereka berdua.
“Helloooww disini bukan catwalk mbak! Gak punya kerjaan ya situ? “
“Aduuhh heran deeh dari tadi gak UG gak pacar rider pada ganas-ganas semua” Paris mundur dan matanya menatap sekelilingnya semua WaGs menatapnya kek dia adalah sebuah ancaman.
“Sonoh reyen aja rider mu.. gak pake tepe-tepe dimari!”
“Sayang udaaaah..” Rossi menarik Resi dan berusaha nenangin.
“Tapi mata abang ngliet Paris sambil melotot gitu?!” Resi hampir mewek sekarang.
“Enggak.. she’s not my type’ Rossi ngelus-ngelus punggung Resi.
“Type mu yang tukang smack yah man..” Nicky nyamber di sampingnya.
‘Oooo ngece.. mau aku smack situ yee?” Resi menghampiri Nicky dan siap-siap ngesmack rider asal Kentucky itu.
“Don’t touch my hubby…. Kalau berani gw gorok!” Sweetz mengancam dengan galak.
“Perasaan dari tadi anceman kalian gorok mulu.. mantan preman semua yah ini pada ckckck” Nicky berseru tak habis pikir.
“Gak kek gitu bang.. kalau Resi memang asli mantan bodyguard..” sangkal Sweetz.
“Yeee situ juga mantan preman.. yang ngancem gorok pan situ” Resi tau-tau dah ngesmack Sweetz. Nicky dan Rossi langsung memisahkan pasangan masing-masing.
Balapan di track ternyata tidak seheboh ribut-ribut antar WaGs. Kembali Kesi juara disusul Jojo dan Ben. Karel ada di posisi 10. Simoncelli yang pole di sesi QP kembali tidak merain podium.
Di Catalunya Bar.
“Aku dah nglepas kesempatan podium.. jadi ngedate kan?” Sic bersuara di telepon setelah kesekian kalinya dari tadi menghubungi Rein gagal.
“Emhhh tapi mendadak perut ku sakiiiiiiit” saut suara di seberang.
“Jangan main-main Rein.. aku dah penuhin sarat dari kamu”
“Terserah kalo gak percaya.. lagian kamu yang dah bikin Dani cedera.. rasain sekarang tunggu aja bos Honda nendang kamu”
Klik. Bunyi telepon ditutup.
Sic menggebrak meja bar dengan kesal. Ia kena dikerjain Rein. Tadi pagi ia ketemu Rein, rasa tertariknya membuat ia nekad mengajak gadis itu dan Rein akhirnya ngajuin sarat kalau dia gak boleh podium hari ini.
Nun jauh di Monaco sonoh.
“Kamu gak usah balik ke MotoGP.. Dee.. ikut saja tour WRC ku” Kimi meraih tangan Dee.
“Aku gak tau musti alesan apa ma abang.. hari ini saja aku dah boong.. abang nanyain terus kenapa aku gak datang ke Catalunya” saut Dee.
“Apa kau masih mencintaiku Dee?”
-bersambung-




Tidak ada komentar:
Posting Komentar