Title : Love Hard 7
Rating : T (Teenager)
Genre : Romance geje
Cast :
Riders :
Karel Abraham
Jorge Lorenzo
Casey Stoner
Dani Pedrosa
Nicky Hayden
Valentino Rossi
Ben Spies
Andrea Iannone
Scott Redding
Stefan Bradl
Jules Cluzel
Bradley Smith
Marc Marquez
Mattia Pasini
Tweeps :
Val (fayfairy)
Rein (reineenn)
Sweetz (ucha6911)
Dee (tiwi_kimzter)
Zi (ziflowershine)
Esther (estherryn)
Resi Klebi (rae_shi)
Cindy (alphonz_cindy)
Guest :
Adriana Stoner
Kimi Raikonen
Marco Simoncelli
Andrea Dovizioso
many other riders kru n tweet mates
Apartement Montecarlo Monaco
Dee mengemas dan memasukan baju serta semua miliknya ke tas besar. Ia kemudian berjalan cepat-cepat meninggalkan ruang berwarna maroon dengan gaya Victorian yang dipenuhi tanaman indoor beraneka macam itu. Seorang pria berteriak dan menyusul Dee, dia adalah Kimi Raikkonen.
“Beib.. beri kesempatan pada kita untuk bahagia”
Kimi berkata nyaring dan menyentak tangan Dee yang hendak masuk ke dalam lift yang terbuka, lift nampak kosong.
“I made a mistake.. dengan kesini ngikutin permintaanmu.. sorry.. I gotta go now” desis Dee.
“No chance for us huh?”
Tanya Kimi sambil menatap Dee dengan tatapan memohon. Pria berambut pirang gondrong itu masih berusaha meraih tubuh Dee ke pelukannya.
“Kalau gitu ceraikan Jenny! Could you?”
Dee balik menatap Kimi menantang. Jenny adalah istri Kimi, dulu Kimi lebih memilih pergi dan menikahi wanita itu ketimbang dirinya.
“Kita bisa bahagia bareng, kalau kau bisa dengan Nicky dan ke 3 istri yang lain kenapa kita enggak?” ujar Kimi dengan lembut.
“U’re totally wrong.. kami tidak sebahagia yang orang-orang lihat..” Dee menggeleng dan menyeka air matanya yang sudah jatuh di atas pipinya yang mulus. Kimi mengerjapkan matanya. Jadi kata-kataku tadi telah menyakitinya? Tanyanya dalam hati.
‘Sorry..” Kimi berkata dengan tenggorokan tercekat. Diraihnya tubuh Dee yang mulai menangis terisak.
***
Pagi di sudut complex sircuit Catalunya Spanyol.
Val terus memperhatikan punggung cowok berjaket AB Cardion warna putih dengan eksen biru minimalis, Karel Abraham berjalan menuju bus yang akan mengangkutnya ke air port. Di belakangnya berturut-turut orang tua, kru dan UG yang sangat ia benci, Nica naik ke dalam Bus.
“Ngapain masih nglietin Karel kek gitu?” Andrea Iannone telah berdiri di samping Val dengan tatapan kecut.
“I’m still love him” Val mengangkat tangan dan menghapus air matanya.
“We’re dating Val! Aku kira beberapa hari ini kita sudah berkomitmen” Andrea berkata tidak sabar, suaranya terdengar makin jengkel. Ia menatap Val tidak percaya, kalau wanita itu masih menangisi Karel seperti itu.
“First love never die..” Val masih terisak dan melengos pergi dari depan Andrea.
“Oohh my…” Andrea kemudian berjalan mengejar Val.
“Be serious Val…! I love you and you know that..”
“Aku gak bisa”
“Trus?”
“Terserah kamu..”
“Lho?”
Andrea menarik tubuh Val dan berusaha memeluknya. Ia paksa Val menatap dirinya.
“Look into my eyes.. and u’ll find..how much I love you”
“Kek lagu” desis Val mengeryit.
“Kagak.. iya sih.. tapi dikit” Andrea nyengir. Val memutar matanya bosan.
“Geje”
“Tapi ganteng kan..”
“Narsis kumat ikh.. daah Ndre.. lepasin.. ntar dikira mesum kita” Val menangkap tangan Andrea dan berusaha melepaskan diri.
“Gak.. sebelum kasih kiss dulu”
“Gak mau!”
“Yaudah..” Andrea menyentuh pipi kiri Val dan mendekat, sepertinya akan mencium wanita mantan istri Nicky Hayden tersebut.
“Don’t try to kiss me!” Val mendorong pipi Andrea menjauh.
“I want to kiss you.. ayolah Val kan abis ini aku pulang ke Milan” Andrea mengedip ke arah Val dan mendekat kembali.
“Big no! kau kebiasaan mencuri.. bisa gak sih gak maksa!”
“Val…” Andrea dengan cepat langsung nyosor bibir yang membuka sedang ngomel ke dirinya itu.
“I say no.. artinya ya enggak!” Val cepat-cepat mendorong dada rider dari Vasco itu. Ia menatap Andrea marah.
“Tapi no bisa saja artinya yes” Andrea menahan tawa melihat Val mengusap bibirnya. Val tuh judes tapi lucu, pikir Andrea dalam hati.
“Liet kamus dimana?! Belajar respect sama aku gak bisa yah?!”
Dan mereka masih ribut-ribut di parkiran. Beberapa rider yang lewat hanya menggeleng kepala gak mau ikut campur.
Masih di tempat parkiran Catalunya.
“Rein…!” Marco Simoncelli pontang-panting nguber Rein yang berlari kencang kek dikejer penjahat.
“Huaaaaaaaa tolong.. tolong..” Rein menabrak security dengan nafas ngos-ngosan.
“Rein?” Stefan Bradl yang sedang berdiri dekat security menarik tangan Rein. Saat itu Scott Redding, Jules Cluzel dan Bradley Smith juga sudah sampai menunggu Bus berangkat.
“Aduhh Step.. itu hosh. Ituh.. heeehh.. Sic bener-bener Sick!” Rein hampir tidak bisa ngomong dengan jelas.
“Rein! Kamu masih utang 1 kali ngedate sama aku!” Sic sudah sampai di depan anak-anak Moto2.
“Waaaaaahh.. ada preman nih” celetuk Bred.
“Enggak.. aku gak janjiin apapun.. tolong guys.. Sic tuh gila” Rein ngumpet di punggung Step.
“Jangan ganggu wanita lemah mate.. body kamu segede itu yah bener.. bikin Rein ketakutan” Step berusaha ramah dengan Sic sambil melempar senyum manis dan sayangnya bukan gadis-gadis yang ia lempar senyum yang bakal pasti klepek-klepek tapi Sic. Rider yang tidak ada kecenderungan menyukai sesama jenis.
“Mau berlagak jagoan kamu heeeh bocah!” Sic maju dan ngejitak Step.
“Waduh mentang-mentang senior.. mari semua bela kawan satu kelas kitah!” ucap Scott berteriak lantang dan Jules ikut yel-yel di sampingnya.
“Mariiiiiiiii… bebaskan yang lemah.. hajar yang bertingkah kek preman!”
“Ebuseeet.. mau maen keroyokan yah?! Sapa takut!”
Sic langsung mengeluarkan suitan dengan keras. Maka keluarlah temen satu gank Hondanya, Andrea Dovizioso dan Casey Stoner.
Rein yang melihat itu langsung maju dan nunjuk-nunjuk emosi.
“Dasar tim mate durhaka! Aku kan pacar Dani kok belain Sic?!
“Waduh.. maaf mas Sic .. kalau pacar Dani yah gak enak.. bisa-bisa kita dijitakin Puig, manajernya” Dovi langsung balik kanan dan ngilang.
Casey menatap Rein sambil garuk-garuk kepala gak enak.
“Sorry Rein..”
“Lah terus gimana?” Sic agak mundur melihat tampang anak-anak Moto2 yang sudah berubah jadi ganas siap nerkam dirinya. –lebeh-
‘Udah jangan ganggu Rein” Casey mengelus pundak Sic dan menggeret rider Italy yang terkenal ugal-ugalan itu pergi.
“Yaaaaahh gak jadi perang dong” Bred melempar linggis yang ia samber dari tukang bangunan sebelah.
“Iyah.. jadi gak rame ikhh” Jules melempar pentungan ke arah security dengan gemas dan malangnya mengenai kepala security hingga pingsan.
“Yeeee.. yang rugi gw.. dah kena jitak si gila Sic itu” Step masih ngelus ubun-ubunya.
“Sini aku paku!” Scott yang memegang palu meraih kepala Step.
“Ini gak preman terminal, pasar atau rider.. suka amat tawuran!” Rein beranjak naik bus meninggalkan rombongan rider Moto2 yang masih nyesel gak jadi tawuran.
***
Habis dari mengantar Sic ke Bus, Casey Stoner termangu lama. Adriana sudah meminta cerai ke dirinya dan wanita itu lebih memilih terbang ke Italy dari pada pulang ke Montecarlo.
Parkiran itu semakin terlihat sepi. Semua motor home sudah di angkut dari subuh tadi.
“Zi?” Casey tersenyum menghampiri Zi yang sedang duduk sepertinya menunggu seseorang. Sementara Jorge Lorenzo masih di kantor Catalunya Sircuit dengan para petinggi Dorna. Karena Zi tidak perlu buru-buru ke airport kek kalau race di negara lain, ia terlihat santai.
“Ohh hi.. belum ke air port juga?” Zi tersenyum dan bales menatap Casey.
“Nanti nunggu jemputan”
“Zi, kamu bahagia?” tambah Casey bertanya ke Zi.
“Tentu aja.. yah aku dan Jojo berusaha saling lebih ngertiin aja sekarang” jawab Zi.
“Adriana dah pergi, aku tidak bisa mencegahnya” desah Casey dengan muram.
“Sorry.. kalau aku nambah keadaan jadi buruk kemarin” sahut Zi nyesel.
“Nope.. aku juga yang dilemma kemarin.. Zi kalau ada apa-apa aku siap bantu kamu” Casey beranjak bangun dari duduknya dan menyentuh bahu Zi.
“Gak.. aku akan usahain gak ngandelin kamu, aku punya Jojo” tegas Zi.
“Maksud aku gak gitu..”
“No.. kau menolak ku kemarin” potong Zi dan wanita itu pun beranjak berlalu dari Casey.
“Aku gak pernah menolak kamu Zi!” teriak Casey di belakang punggung Zi.
Zi menggeleng dan berusaha tidak memperdulikan Casey. Memang dia pikir siapa, rider ganteng kagak dah berani nolak aku, kata Zi dalam hati.
***
MotoGP Silverstone June 11th 2011
Sabtu, cuaca di Inggris selalu basah. Hujan menguyur sekitar sircuit. Kabut membuat beberapa rider nampak males keluar dari motorhomenya.
Andrea memaksa turun dari ranjang. Sebentar lagi F3 dilanjutkan dengan sesi QP. Uccio masuk motorhome dan mengisyaratkan Andrea untuk bersiap.
“Andrea.. c’mon yang lain sudah siap di pitbox!”
“Okay sebentar lagi” Andrea menyeret tubuhnya ke toilet. Uccio yang menatapnya menggeleng. Matanya menangkap sesosok wanita yang terbaring ngadep ke dinding ketika ia mau membantu melipat selimut. Ia sudah seperti om bagi Andrea dan sering membantunya sampai ke hal sekecil apapun.
Hasil QP Andrea makin mengkhawatirkan, besok harus start di posisi 33. pencapaian buruk buat rider berbakat macam dirinya. Regalino Iannone dan Uccio sempat berdiskusi sambil bisik-bisik.
“Karel! U’re amazing!” Nica nubruk Karel yang memasuki pitbox. Hasil QP nya menempatkan ia ada diposisi ke 6, 2nd row!
“Thanks…” Karel mengangguk dan menerima ucapan selamat dari para kru-nya.
Beralih ke pitbox Ducati.
Nicky Hayden dan Valentino Rossi menuai hasil tidak menggembirakan. Dee mendekati Nicky, pria itu nampak kedinginan. Istri ke2 Nicky itu memutuskan meninggalkan Kimi. Kalau bakal dimadu apa enaknya? Sama aja boong, pikirnya.
“Teh-nya bang” Dee meletakan minuman hangat di meja.
“Ada pisang goreng juga bang” Sweetz meletakan sepiring gorengan yang panas itu.
“Makasih bebeb.. kalian istri-istriku paling tau yang suami mau” kata Nicky dengan tertawa lebar. Hasil QP boleh jeblok tapi kemesraan istri-istri pada dirinya gak boleh ikut jeblok dong, ia nyengir dalam hati. –bisa yah?-
Hot tea di Silverstone jadi minuman yg banyak dicari
“Beib.. bikin teh anget gih.. tuh sebelah aja bikin” Rossi berkata pada Resi Klebi, kekasihnya.
“Laahh bikinnya dimana? Pake apa? Minjem cangkir dimana?” Resi garuk-garuk kepala.
“Kalau aku tau dah bikin sendiri beib..!” Rossi membentak Resi gak sabar.
“Loh napa jadi marah-marah! Aku kan pacar abang bukan babu!” teriak Resi gak kalah kenceng.
“Aku kan cuman minta teh.. badanku dingin pengen yang anget-anget dikit.. dah ngeluh aja kamu!” Rossi menoyor Resi dengan gemas.
“Tuuuuuuuuhh kan abang jadi maen tangan..tak laporin karena KDRT lho!”
“Gak usah lebay beib..” Rossi akhirnya nyamperin Hayden family. Dee dan Sweetz gak keberatan ngebikinin lagi. Rossi mendadak terharu, istri-istri Nicky sangat sigat ngurusin suami.
“Aku juga mau dibikinin” Resi dengan wajah mupeng dah ikut duduk di antara mereka.
“Jiaaaaaaaahh gelasnya kurang.. jadi satu aja sama Rossi yeee” Sweetz memberi usul.
Rossi garuk-garuk rambut di ubun-ubunya yang tipis dengan jengkel tapi ia harus nahan diri di depan tim mate dan kru lainnya.
***
Malem hari, di Madrid Apartement
Dani dan Rein tengah duduk di balkon ngadep view kota Madrid di bawahnya. Rein bergerak ke belakang kursi dan melingkarkan tangannya di bahu Dani. Kecupan hangat mendarat di pipi Dani dari kekasihnya itu.
“Aku masih harus ngejalanin 1 kali operasi lagi hun..” kata Dani dengan suara sendu. Mengingat nun jauh di Silverstone inggris sana membuatnya nyesek, ingin rasanya ia cepat-cepat sembuh dan turun race lagi.
“Sabaaaaar.. kamu pasti sembuh, I’ll be right here for you” sahut Rein dan kembali mencium pipi Dani, rasa sayangnya pada rider muda Spanyol itu gak pernah sekalipun berkurang. Memang kadang ia bosan dan ingin selalu eksis di antara WaGs rider.
“Oya beib.. boleh aku ke London gak besok? Ada konser Linkin Park, aaahh gara-gara lagu mereka mengisi OST Transformer jadi makin ngefans aku..” tanya Rein menambahkan.
“Bilang aja sekalian mau ke Silverstone hun..” Dani cemberut dan meremas tangan Rein di lehernya.
“Emmhh.. ya kalau sekali dayung 2 pulau terlampoi napa gak beib..” sahut Rein meringis. Dooohh baru saja berpikir ia sayang Dani rasa bosannya mengalahkan dan pengen jalan-jalan lagi.
“Aku bilang gak pun kamu bakal tetep pergi kan?” Dani sudah santai bertanya sambil tersenyum. Kekasihnya Rein cewek hiperaktif gak bakal dia tahan berdiam diri, pikirnya.
“Yaaah.. kalau dibolehin kan perginya jadi manteb” Rein semakin mengetatkan pelukannya ke leher Dani. Alhasil rider imut itu jadi blingsatan batuk-batuk ngerasa tercekik.
“Sorry beib..”
“Kira-kira hun..kek sengaja mau nyekik aku ajah!” Dani nabok bahu Rein dengan reflek.
“Aduuuuhh bahuku.. keseleo lagi keknya” Dani kembali menjerit.
“Yeeee yang di tabok bahunya aku yang sakit situ” Rein tertawa tapi ia segera memutar tubuhnya kembali dan memeriksa tangan Dani.
“Aku telepon dokter dulu” tambah gadis itu dan menghilang ke dalam. Tinggal Dani yang masih mengaduh gak putus-putus.
Sejak cedera Dani banyak ngabisin waktu di balkon apartementnya
***
Sunday Race! Silverstone circuit.
Hujan gak berhenti dari semalam. Beberapa kru dari tim 125 cc sudah sibuk mondar-mandir. Di kantin Val dan Adriana duduk saling berhadapan menyuap bfast yang sudah dingin.
“Kok diem?” Tanya Adri menatap Val.
“Gak papa, aku abis ini harus siap beres-beres.. aku ngejar flight jam 9” jawab Val tanpa emosi.
“What? Gak nunggu sampe race? Ada apa Val?”
Belum sempat Val membuka mulutnya untuk menjawab, Mattia Pasini dan Andrea datang dan mereka segera menghampiri keduanya.
“Yooo girls.. pasti ngerumpiin kita nih?!” Mattia mengedip ke arah Andrea, menggoda 2 wanita di sampingnya masing-masing
“Aku duluan guys..” Val segera bangkit dan berlari keluar kantin.
“Apa yang sedang terjadi?” Andrea bertanya kaget.
“Lahh tadi aku lagi nanya.. kalian datang.. trus .. kek yang kalian lihat.. Val kabur” Adriana juga menggeleng tidak tahu.
“Aku kejar dulu dia!” Andrea gak jadi bfast dan cepet-cepet melesat ngejar Val yang dah gak kelihatan.
“Val tuh kebanyakan drama!” Adriana kembali menyuap makanannya.
“Kamu jangan ikutan.. gak usah deket-deket lagi sama si Kesi .. okay?!” Mattia tersenyum mengingatkan wanita Ausi yang udah resmi jadi pacarnya itu. Adri hanya tersenyum dan mereka berdua saling menggenggam tangan di atas meja.
Masih di kantin Sweetz, Dee, Resi dan dua UG ABG Esther dan Cindy mengelilingi meja. Mereka berlima kek sedang kesetanan lomba menghabiskan makanan.
“Kek kuda makannya” kata Esther menatap kakak iparnya, Sweetz.
“Eeehh bocah! Berani kongekin kakak ipar” Sweetz menjewer Esther dengan gemas.
“Laahh itu nasi dah ngalah-ngalahin gunung.. tingginya” Esther ngakak ditimpali Cindy.
“Iyah tinggal tancepin tiang plus bendera jadi deeh” Cindy nambahin.
“Kalau makan gak boleh sambil bicara!” Dee melotot ke arah dua ABG itu.
“Iyo.. pamali itu” tambah Resi, ia tengah sibuk membuka kepiting dengan susah payah dan karena saking bernapsu njepit tuh kepiting melayang dari piringnya. Dan kepiting asam manis yang lezat itu jatuh di atas kepala rider di belakangnya.
“Adooooohh..” Valentino Rossi ngelus kepalanya dengan mata berkaca-kaca. Sejak ia gundul banyak kesialan menimpanya.
“Huaaaaaaa maaf bang.. kena yah” Resi menghampiri Rossi dan mengambil kepiting di bawah kursi yang diduduki pacarnya itu.
Nicky, Ben Spies dan Jorge Lorenzo serta Zi yang ada di depan Rossi melongo, kirain Resi mau ngelus kepala Rossi atau apa tapi tuh cewek dengan cuek ngambil kepiting dan berusaha membukanya lagi!
“Astagah.. “ Jojo alias Jorge menggeleng kepala sekarang dan kompakan dengan Zi, istrinya.
Tinggal Nicky dan Ben yang ngikik gak habis-habis. Eh gak ding, gak cuman mereka berdua tapi seisi kantin yang nglihat kejadian itu. Ingin rasanya Rossi ngesmack kepala pacarnya itu. Gak perasaan amat.
Kepiting yang sempat mampir di kepala Rossi
“Huuuhh pantes Rossi makin melempem akhir-akhir ini..pacarnya mendominasi sih” Nica di sudut berbicara dengan keras sambil menggigit ayam goreng. Karel di depannya menggeleng meminta cewek itu diem.
“Keren kamu Rel.. semua rider Ducati pada melempem padahal mereka dari pabrikan yang apa-apa disiapin dan diservis penuh!”
“Lo ngomong apa? Baru aja dapet pole 6 dah belagu!” Dee mendatangi meja Nica dan Karel. Ia menggebrak dengan keras sampai ayam goreng dan piring berjatuhan.
“Tauk nih..katrok dah mau sombong” Esther ikut nyusul Dee.
“Wooo mau main keroyokan? Saatnya rider muda yee.. yang tua-tua sebelum ketendang mending tau diri dan menyingkir deeh” Nica makin menambah suasana panas.
“Please.. ibu-ibu sabar!” Karel bangkit dengan wajah memelas berusaha nenangin WaGs yang sudah kelihatan ganas dan bertanduk siap-siap menyerangnya.
“Ajarin cewek lo sopan yee” Resi menoyor kepala Karel dengan gemas.
“Dan lo juga gak sopan noyor my honey” Nica balik menjambak Resi.
“Ampuun kenapa ini jadi tawuran?” Nicky beranjak dari kursinya diikuti Rossi.
“Beib.. kamu lagi hamil gak pake ikutan” tambah Nicky menarik Sweetz yang mau gabung di arena ribut-ribut.
“Iyaaa..” Sweetz menyahut sambil cemberut dan bersama Zi segera keluar dari kantin.
“Tuh cewek Karel juga mancing-mancing, bakal habis dia di dalam!” kata Zi.
“Ayoo ibu-ibu hamil gak usah ikut tawuran.. mau anak kalian jadi berandalan” Ben tersenyum.
“Ogah.. amit-amit jabang baby” Sweetz mengelus perutnya dan tanpa sadar ia menerima uluran tangan Ben untuk menjauh dari kantin.
Jojo menggandeng tangan Zi, untuk mengamankan istrinya.
“Sorry semua.. Nica gak ada maksud nyinggung kalian” Karel berusaha mereda keadaan.
“Gak bisa! Congor dia yang njeplak seenaknya” Resi melayangkan smack kebiasaanya ke kepala Nica., diikuti Dee dan Esther.
Cindy bengong di antara mereka, laah dia mau marah-marah gimana Marc gak balap buat Ducati sih.
“Woiii ada apa ini? Heboh amat” Rein tiba-tiba yang udah sampe dari Madrid nyelonong di antara mereka.
“Itu mbak Rein.. Karel and the gank menghina rider Ducati yang lain!” jawab Cindy.
“Ayoo ikutan ngehajar tuh gank Ceko!” Rein dengan semangat dan tanpa babibu menarik rambut Nica juga.
“Please guys.. tenangin pacar-pacar kalian..” Karel memohon di depan Rossi dan Nicky.
“Mereka ganas gitu..” Rossi mengangkat tangan. Sekalian ngebiarin tuh cewek Ceko dapet pelajaran, pikirnya.
Tapi akhirnya setelah dibantu security gank MotoGp bubar dari kantin. Suasana kantin sudah berantakan. Tinggal rider yang bangun kesiangan gak dapet bfast.
***
“Kamu pulang! Sudah bikin malu!” Karel mengambil wear packnya.
“Tapi kan aku..”
“Enough..” Karel meninggalkan Nica dan menuju pitbox dengan scooternya. Ia menancap gas kenceng. Masih emosi dia, Nica tidak membatu makin dekat dengan rider Motogp tapi bikin banyak yang antipati.
Race bakal dimulai. Paddock sudah kembali normal penuh dengan UG, kru dan rider tak ketinggalan WaGs yang selalu bikin heboh.
Race Moto2 berlangsung hati-hati karena lintasan licin. Mattia Pasini yang sempat leading beberapa lap mencium gravel. Adriana yang melihatnya hanya menggeleng pasrah, cowoknya itu kebiasaan selalu memaksakan diri. Andrea lebih sial, pole 33 tidak sanggup mendapat point. Ia sampai pitbox dengan penuh kekecewaan.
“Andrea hasil race-mu makin menurun apalagi sejak kamu deket sama wanita itu” Uccio mengingatkan.
“Maksudmu? Val? Dia hanya ikut mensupport aku”
“Fokuslah Andrea… tanpa wanita kemarin hasil race-mu sangat memuskan!”
‘Wait.. kalian bilang apa sama Val? Dia menghilang seharian ini?” Andrea tiba-tiba sadar sesuatu.
“No.. jangan tanya aku” Uccio keluar dari pitbox Master speed tim dan menuju Ducati. Andrea bengong, unlucky race lagi.
Podium kelas Moto2
“Breeeeedd I love youu muah muah..” Esther meloncat-loncat girang dari tempatnya.
“Sadar ter.. ada Jules tuh” Cindy mencolek pundak temannya, ia bersama Marc hanya menatap podium tanpa ekspresi. Marc terjatuh di sesi WUP dan dia gak da waktu nyari settingan motor terbaik akhirnya nyerah di tengah race.
“Aku kan cintah sebagai temen..gak papa yah sayang” Esther nglendot lengan Jules dan mencium pipi rider France itu.
“Tapi gak pake lope-lope segala” Jules ngejitak Esther.
“Gak pake jitak napa? Tiyum kek..”
“Eittss.. gak boleh omes masih siang” Cindy menarik tangan Esther.
‘Laah kamu minta Marc tuh..”
“Aku gak bisa.. tuh emak gw selalu ngawasin” kata Marc kecut. Yah emaknya selalu saja kek bodyguard, dengan tampang galak ngawasin dari jauh jadi dia gak bisa bebas dengan pacarnya, Cindy.
Race MotoGP juga sepertinya bakal berjalan penuh hati-hati. Kabut masih menyelimuti sircuit, jarak pandang sangat terbatas. Para rider duduk di atas motornya dengan jaket tebal, wajah mereka seperti ikut beku dengan udara dingin yang menyelimuti mereka. Karel menatap lurus, ia sendirian hanya ditemani kru yang masih sibuk nyiapin.
“Aduuuhhh dingin banget!” Resi nglendot tubuh Rossi dengan bibir gemeter.
“Sini beib..” Rossi memeluk pinggang pacarnya, ia juga kedinginan biarpun sudah berselimut jaket tebal di luar werpack-nya.
Tak kalah Nicky Hayden, ia hanya di dampingi Dee. Sementara Sweetz dengan Zi ada di pitbox gak berani keluar. Jojo jadi sendiri di tengah track. Yang mengagetkan Rein ia memayungi Sic! Entahlah apa yang terjadi di antara mereka.
Race dimulai. Satu-persatu para rider berjatuhan ke gravel. Ben diikuti Jojo jatuh dengan tubuh terpental. Zi yang melihanya histeris ia menarik Sweetz untuk menemaninya menuju motor medical center.
Jorge Lorenzo : Apa gak pegel-pegel yah :-s
“Maaf mrs. Lorenzo tunggu di luar suami anda sedang di periksa” suster cantik mencegah Zi yang akan masuk kamar.
“Tapi Jojo gak papa kan?” kedua mata Zi sudah penuh air mata.
“Mudah-mudahan gak papa”
Zi dan Sweetz duduk di sofa tunggu.
“Apa Ben juga di dalam Zi?” Tanya Sweetz, wanita itu beranjak bangun dan berjalan-jalan gak tenang.
“Gak tauuuuuuu… Jojooo.. kau lihat kan tadi jatuhnya dia kek parah?” Zi masih tersedu-sedu.
“Ben juga kek parah tadi” Sweetz beranjak ke arah pintu. Mendadak pintu di depannya membuka cepat dan keras. Tubuhnya oleng terhempas menabrak dinding. Ia hanya mendengar suara jeritan Zi dan orang-orang yang mengelilinginya kemudian semuanya gelap.
Ben duduk di tepi ranjang dimana tubuh Sweetz masih tergolek lemah. Sweetz dilihatnya masih terpejam dengan wajah pucat. Di sampingnya Jorge yang sudah pulih duduk di sofa dengan Zi menatapnya.
“Apa aku bilang.. Sic tuh selalu membahayakan orang-orang di dekatnya. Lihat aja bakal dibunuh dia sama Nicky” kata Jojo emosi.
“Tadi dia pendarahan begitu hebat..” Ben membelai tangan Sweetz seolah dengan demikian bisa membuat wanita muda itu bangun.
“Sic itu kek gajah aja maen kasar.. apa gak bisa ngebuka pintu halus dikit” Zi ikut ngomel disamping suaminya.
“Kasihan Sweetz…race gimana? Dah selese lom sih?” Ben menoleh kearah Jojo.
“Keknya udahan.. bentar aku hubungi Nicky” Jojo meraih hpnya.
Nicky telah sampai dan karena atas saran dokter, kandungan Sweetz harus dikuret. Benturan tadi sangat keras dan janinnya tidak dapat diselamatkan. Orang yang jadi enemy nomer satu bagi semua rider sekarang hanya Sic. Rider itu tergesa-gesa membuka pintu habis kecelakaan ke motor medical center. Walau gak sengaja tetep aja bikin orang celaka.
***
Sudut Silverstone
Silverstone kembali sepi. Motorhome mulai diangkut kembali. Val berdiri dekat paddock. Ia sudah memutuskan akan keluar selamanya dari hingar-bingar race MotoGP. Regalino benar, ia hanya ganggu konsentrasi Andrea saja. Penerbangan tadi pagi delayed, cuaca di Inggris sangat buruk.
“U’re still here huh?”
Val menoleh ke sumber suara sengau yang mendadak masih sangat ia rindukan.
Karel berjalan sambil menggosok tangannya. Uap udara keluar dari mulutnya yang membuka.
“Hi..” sapa Val lemah.
“Are u okay?” Karel menunduk menatap Val, matanya menangkap kesedihan disana. Val hanya tersenyum kecil dan menatap track yang kosong di depannya.
“I still need ur explain! Pertemuan terakhir kita di Spore sangat manis.. gak ada masalah”
“Aku datang di Le Mans..”
“What?! Dan kamu gak nemuin aku?”
“Aku udah kirim text dan call kamu.. kamu nyuruh langung ke kamar. apa maksudmu dengan nyuruh Nica nemuin aku?” Val mulai terisak inget Nica menghinanya saat itu.
“No text no call..”
“Aku bahkan gak tau kamu jadi datang ke France.. Val” kata Karel melanjutkan ketika melihat Val terbengong.
“Tunggu.. kamu bilang Nica juga tadi?”
“Iyah.. dia yang membuka pintu kamar dan jangan tanya dia kek mana”
“Please trust me.. aku gak pernah bersama dia..” Karel meraih tangan Val dan menggenggamnya.
“Tapi udah lah.. semua dah berlalu.. aku hanya pengen disini.. sebentar lagi ..habis ini gak akan pernah ke sircuit manapun lagi” Val sudah tersenyum menatap Karel.
“It’s not fair.. kau menghukumku untuk kesalahan yang gak aku lakukan” Karel meraih bahu Val mendekat.
“Aku nyerah rel.. emosi ku naik turun melihatmu.. sorry mungkin aku labil tapi aku capek”
“Dan kau lebih memilih dengan Andrea? Kau pikir aku juga gak emosi?!!”
“Gak.. aku juga gak akan sama dia..aku gak mau lagi ada di sekitar sircuit”
“C’mon Val.. aku yakin kau gak akan tahan jauh dari MotoGP..”
Val tertegun, benar juga kata Karel. Aaaaahh tapi aku capek ribut-ribut, keluhnya dalam hati.
“Please… give me 3rd chance.. i promise.. no more tears of you”
Karel melepas kalungnya dan mengambil cincin yang kemarin Val lempar ke mukanya. Ia menarik tangan Val hendak menyematkan di jari manis wanita muda itu.
“Gak mau..” Val berjalan ke tengah track.
- bersambung-





Tidak ada komentar:
Posting Komentar