Selasa, 23 November 2010

FF Love Is Cintah

MotoGP Fan Fiction - One Shoot

Title     : Love Is Cintah
Genre  : Romcom (sok iyes)
Rating : T
Disclaimer :
FF buat Rein aka cekgu tapi bisa jugha buat sis Tiw0l aka Deevone mayan perannya disini :D

Enjoy...

Cast :

Jorge Lorenzo
Reinen
Deevone
Nicky Hayden
Ziflowershine  as Mama Zi ( Mama Rein )
Sweetz Ucha as Mbok Ucha
Scott Redding
Esther



"Mama mana pernah ngerti keinginan Rein selama ini!" gadis muda itu berlari keluar dan masuk mobil membanting pintu, sebentar saja Jazz merah itu sudah melaju kencang di jalan raya.

Reinen sebenernya gak pengen berkata keras sama mamanya tadi, mengingat hanya mama yang dia punya. Papanya sudah meninggalkan mereka berdua setahun lalu dan menikah lagi.

Mamanya selalu nyinggung tentang pacarnya Jorge Lorenzo. Sudah lama mamanya tidak setuju dengan hubungan mereka berdua dan selalu menentang anaknya pacaran sama rider yang menurutnya gak jelas itu.


Reinen tiba di kampus. Suasana masih sepi. Gadis itu memutuskan untuk ke kantin dulu mengisi perut karena tadi hanya sempat meminum susu tidak sempat sarapan keburu mamanya sibuk nyeramahin dia.

Nampak temannya Deevone sedang membaca buku. Agak tidak tepat disebut membaca sih, gadis itu seperti menyembah buku karena wajahnya tenggelam di balik buku.

"Dee.. pagi amat dah di sini?" Rein menjatuhkan diri di atas bangku panjang. Tangannya nyamber bungkusan kerupuk dan merobeknya. Sebentar saja terdengar bunyi krik krik.. apa kriuk kriuk -_-a

"Mbok Ucha minta spagetti 1 porsi sama kopimix.. huaaaaahh agak ngantuk" gadis itu nganga lebar menguap untung gak ada laler iseng masuk.

"Iya mbak Rein? Cabenya minta berapa?" Mbok Ucha dengan kain dan kebaya yang lusuh tergopoh-gopoh mendatangi Reinen.

"Ga banyak-banyak... 1 kilo ajah" cewek berbaju belang-belang kuning,ijo dan merah itu mengeluarkan cermin dan mematut diri sambil bedakin idung.

"Baik mbak..tumben biasanya 3 kilo?" mbok Ucha tersenyum senang, mending dia gak bakal rugi banyak-banyak hari ini.

"Adooohh kemaren aye dah mules-mules mbok.. eh cepetan kopimiknya..huaaaaaaaaahh" kembali Reinen menguap dan kali ini sukses berhasil nangkep 3 laler yang malang karena nyasar masuk mulutnya.

"Mayan dapet makanan pembuka" gadis itu mengunyah rejeki nomplok pagi-pagi itu.


Posisi Deevone masih nyembah buku tidak bergerak sedikitpun. Reinen mengernyit heran. "Dee? Woiii baca apaan sih? Jangan-jangan stensilan yah? Hayooo bagi!"

Tangan lentik Rein dengan kukunya yang item-item menarik buku yang dari tadi di pegang Dee di atas meja.

"Buseeet.. ternyata molor dimari! Deee... woiiiiiiiii ada GEMPA GEMPA GEMPA BANGUUUUUUUUUUUNN" suara Rein yang cempreng bikin gadis yang menaruh kepalanya di meja bangun.

"Mana gempa?! Mana gempa?!" Dee terloncat dari duduknya dan bergerak kebawah melongok-longok meja seperti mencari sesuatu.

"Dah dibawa kabur nooh sama tukang ojek" kata Rein cuek dan nyamber buku yang dari tadi dipegang Deevone. Mata gadis itu terbelalak menatap buku.

"Woii balikin!" tangan Dee nyamber-nyamber berusaha menarik bukunya tadi. Tapi Rein lebih gesit dan memindah-mindah posisi buku di tangannya.

"Harga cabe sekilo 2 ribu, bawang sekilo 3 ribu, terasi 1 ons seribu, kol gepeng sekilo 500 rupiah.. eettdaaaaahh.. kamu mau jadi bakul Dee?" Rein dah ngikik suaranya nyaingin mbak kunti di malem hari.

"Side job Rein.. mayan bisa nambah-nambah duit kuliah, ntar aku mau ke pasar... kulakan sayuran" Dee mesem-mesem menahan malu.

"Kereeeen hehehe" Rein memandang takjub temannya. Dia aja masih bergantung mamanya yang tukang mendre. Untung usaha mamanya cukup sukses hingga ia tak perlu ikutan banting tulang.

Lagian banting tulang kan pegel mana kalo apes bikin tulang remuk lagi. Rein geleng-geleng kepala, dia tidak ingin ikutan maen banting-banting.


Mbok Ucha meletakan spagetti dan kopimik pesenan Rein. Wanita itu mengelap keringatnya pagi-pagi nampaknya dia kecapekan.

"Napa bik Ucha? Kek ada masalah?" Dee menyeruput minuman wedang jahe yang hampir habis di gelasnya.

"Ya masalah.. ngulek cabe segitu banyak.. capek sayah" suara Mbok Ucha dibikin ngos-ngosan dan ingus dah kemana-mana karena kepedasan.

"Tapi gak papah demi mbak Rein, dah langganan sih" sambung Mbok Ucha sambil pamit ke belakang mau nglanjutin nyapu.

"Eeehh aku masuk dulu yah.. aku baru inget ada tugas siapa tau ada yang bisa di contek" Rein dah melesat ke ruangan.

Dee terbengong. Dilihatnya piring Rein dah licin dan gelas dah kering. Padahal baru satu menit bik Ucha meletakan tuh piring penuh dengan spagetti.

"Ckckcck cewek itu mah ga makan tapi mindahin tuh makanan ke perutnya" Dee pun bergerak masuk ke ruangan, nyari bahan nyontek juga dia.


***


"Masak malming absen lagi?!" Reinen duduk membelakangi kekasihnya Jorge Lorenzo, keknya ngambeg dia.

"Sorry cintah.. ada balapan, gak ada yang bisa gantiin" kata Jorge, dan buat singkatnya kita panggil aja dia Jojo Marijo -hmpfh-

"Tapi ini dah yang ke-13 kalinya ayang batalin.. ayang ga cintah ma cintah" bibir Rein berkerut, cewek itu hampir menangis rupanya.

"Gak dong..ayang kan cintah ma cintah -ini bahasa jadi belibet -_-a tapi tau kan maksudnya?-" Jojo mencolek bahu Rein.

"Kalo ayang cintah ma cintah yah sempetin dong..!" Rein bales mencolek bahu Jojo, tubuh Jojo terpelanting jatuh ke tanah. Maklum nyoleknya pake sekop yang nganggur di pojok taman.

"Gimana kalo besok cintah nonton balapan ayang? Mau kan" Jojo nabok bahu Rein mesrah.

"Ok.. masih di tempat itu kan ayang? Seeeepp" kata Rein semangat dan bales nabok Jojo. Tubuh Jojo melayang nyangkut puun. Dilihatnya tangan Rein memegang pentungan kasti.

"Jangan lupa cintah.. jam 8 dah mule balapannya.. uhuk.. uhuk.. uhuk!" Jojo ngos-ngosan. Pacaran dengan Rein selalu berakhir dengan tubuh yang lebam-lebam dan membiru.

Akan tetapi karena sudah terlanjur cintah ma cintanya itu dia pasrah dan rela melaluinya walau ombak datang menghadang, gunung terjal kalau perlu dia mendaki. -ceileh-


***


Rumah itu dah terlihat sepi. Jam menunjukan pukul 07.00 PM.

Gadis berkepang dua dan berbaju tutul macan warna merah terlihat mengendap-ngendap. Tangan kirinya memegang sandal jepit warna merah dan tangan lain membawa tas kresek hitam.

Tiba di ruang tamu cewek mungil itu menjinjit mencari kunci di rak atas, dengan susah payah dia meloncat-loncat menggapai kunci.

"Yeeeeeess dapet!" gadis itu langsung melesat menuju pintu keluar dan dengan terburu-buru memasukan kunci. Tangannya segera mendorong pintu begitu terbuka.

"Mau kemana Rein?" Mamanya sudah berdiri membelakangi pintu kamar yang memang berdekatan dengan ruang tamu.

"Uummmhh mau keluar bentar beli bakso mah" jawabnya boong tapi karena sambil nunduk mama Zi makin curiga.

"Tapi napa pake ngendap-ngendap tadi? Mama dah perhatiin dari tadi lho" wanita yang masih terlihat cantik diusia 40 an taon itu menatap tajam ke arah putrinya.

"Bentar aja kok mi" Reinen berlari keluar tanpa memakai sandal.

"Rein! Balik! anak kurang ajar.. malah lari.. Reiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnn" mama Zi berlari mengejar Rein yang terlihat lari tunggang langgang di jalan sekitar komplek perumahan itu.

Akan tetapi punggung Rein dah gak nampak, mama Zi balik ke rumah sambil ngomel panjang pendek.


Rein terus berlari kencang. Kakinya menuju rumah Deevone yang terlihat sudah menunggu di teras. Malem ini mereka janjian akan nonton balapan Jojo pacar Rein.

"Gak bawa mobil Rein?" Dee berjalan mengampiri Rein yang terlihat memegangi perutnya, napas gadis itu terlihat ngos-ngosan. Keringat bercucuran di wajahnya.

"Gak sempet Dee.. heeeh..mama dah mergokin heeeh..dan kunci dia heeeh.. yang pegang heeeh mintak heeehh minum Dee.." Rein menghempaskan tubuhnya di kursi teras.

Dee mengangguk dan berlari kedalam mengambil minum. Napas Rein dah satu-satu gituh bahaya kalau dibiarin.

Setelah siap-siap mereka berjalan beriringan nyetop taxi di jalan raya.


***


"Gak salah Rein? Jojo balap di tempat ginian?" Dee bengong sesampe di tempat keramaian itu.

Lapangan bola sudah disulap jadi pasar malem. Banyak penjual gorengan, martabak dan aneka mainan di malam itu. Pengunjung nampak berdesak-desakan.

Terlihat bapak-bapak dan ibu-ibu membawa anak kecil bahkan bayi di tempat itu.

Suara musik dangdut saling berlomba kenceng-kencengan dari berbagai sudut.

"Enggak Dee.. ini kan side job ayang, maklum duit hasil balap MotoGP dikit.. katanya mayan lho balap disini" senyum Rein mengembang. Gadis itu menarik tangan Dee.

Mereka berdua berlari menghampiri odong-odong yang penuh ditempati anak-anak. Dengan tanpa malu mereka berebut ma anak kecil lainnya.

"Walah mbak.. mbok ngalah ma anak kecil" seorang ibu-ibu berusaha mendiamkan anaknya yang nangis gak kebagian tempat.

"Ngantri dong aaaaahh" Dee cuek saja dan bersama Rein mereka tertawa bareng bermain odong-odong.

Mereka juga naik komedi putar sampe eneg dan membeli gulali. Semakin malem tempat itu penuh sesak dengan orang-orang yang membanjiri lapangan bola itu.


"Dee .. ayook aku dah ditelpon ayang neeh katanya mau mule balapannya bentar lagi" Rein menarik tangan Dee dan sampelah mereka di depan bangunan yang terbuat dari karton tebal.

Ornamen di bangunan itu terlihat menyeramkan ada patung tengkorak dan lukisan mbak kunti, mas pocong, buto ijo dan makhluk ajaib lainnya yang gak bisa disebut satu-satu.

"Aduuuh takooot.. ini kita mau ngapain Rein.. nonton balapan mosok disini?" Dee masih terlihat takjub sekaligus ngeri. Mana suara dari dalem terdengar mengerikan ada suara cekikikan segala.

"Ikut aku" Rein ngantri di depan loket dan setelah dapat mengajak Dee masuk bangunan itu. Biar suasana ngerinya maksa, Dee terlihat merapatkan tubuhnya disamping Rein.

Lorong itu terlihat angker dan agak gelap ada patung-patung angker. Maksa lagi. -_-a

Tiba di tengah ruangan keduanya naik ke panggung. Ditengah panggung terlihat tong besar yang menjorok ke bawah.

Banyak pasangan yang berdiri memegang besi pembatas sambil berbisik-bisik mesra. Kelihatannya mereka sengaja pacaran disini.

"Rein.. mana Jojo?" Dee masih mengikuti langkah Rein yang muter-muter di sekitar tong raksasa itu, tangannya menarik-narik baju Rein.

"Bentar ini aku lagi nyari ayang juga" Rein menjerit seneng. Dia berlari dan nubruk cowok berhelm yang sedang ngobrol sama cowok yang memakai helm juga.

"Cintah! Nongol juga dimari" cowok itu membuka helmnya dan seraut wajah ganteng tersenyum memeluk pinggang Rein.

"Iya dong.. oya.. ayang dah kenal Dee? Kenalin kalo lom" Rein nglendot manja di tubuh Jojo. Dee tersenyum dan bersalaman ma pacar Rein.

"Dee kenalin temen ku juga nih, Nicky.. sama ma aku dapet side jop disini juga" Jojo menyenggol lengan cowok disebelahnya. Yang dipanggil Nicky membuka helmnya.

Dee bengong menatap cowok ganteng di depannya. Nicky tersenyum dan mengajak salaman gadis itu.

"Kita tinggal dulu yah" Rein sudah menarik tangan Jojo mojok mereka terlihat berangkulan sambil ngoborol, ninggalin Dee sama Nicky yang sudah hadap-hadapan grogi.


"Temen kuliah Rein yah?" Nicky basa-basi bertanya tatapan cowok itu tajam menembus mata Dee.

"Iyaahh... emang balapannya nanti dimana?" Dee menarik rambutnya kebelakang dan melempar senyum ke arah Nicky.

"Belum pernah kesini sebelumnya? Nanti liet aja deeh" Nicky tertawa, telihat deret giginya yang putih. Kalau mau dia bisa jadi model iklan close up tuh, batin Dee.

Tak lama mereka terlihat akrab. Mata Dee menangkap dari jauh Rein sama Jojo saling berciuman di pojok. Beuuuuhh yang sedang pacaran.

Jojo sudah menghampiri Nicky dan mereka saling mengangguk.

"Girls.. kita tinggal dulu yah.." Jojo kembali mengedip sayang ke arah ceweknya Reinen. Dee lagi-lagi tersenyum ke arah Nicky.



"Terserah kalau kamu mau balapan di tempat kek gini, gak elit banget! Aku pergi!" suara nyaring seorang cewek menarik perhatian mereka.

Nampak seorang cowok cakep menarik-narik tangan cewek berbaju sackdress yang sepertinya dari kalangan menengah.

"Sayang, jangan egois gini.. ini kan demi cita-cita kita ngumpulin duit buat nikah"

"Bener mamaku, kamu gak guna!" tangan cewek itu mengibas kesal dan langkahnya cepat meninggalkan panggung.

Cowok itu menatap punggung ceweknya dan mendesah. Tatapannya berganti melihat ke arah Nicky dan Jojo.

"Itu Scott.. cintah, dan tadi ceweknya yang judes itu Ester, mereka selalu ribut.. fiuuhh untung aku punya pacar sepengertian kek cintah" Jojo maraih pinggang Rein lagi.

Keduanya saling mendekatkan wajahnya masing-masing lagi. "Ooohhh my.. bikin ngiri ajah" Dee memutar bola matanya. Nicky tertawa menimpali.

Kemudian Nicky dan Jojo beranjak meninggalkan mereka. Tak lama kemudian terdengar suara motor yang memekakan telinga.

Rein menarik tangan Dee mendekat ke arah pinggir tong besar yang di pagari besi. Setelah itu keluar kek pembalap lewat lorong masuk di tengah tong.

Pembalap itu menggeber motornya dan muter-muter di pinggir tong. Kadang motornya bisa sampai ke atas. Dan bergerak jumping.

"Ini namanya pertunjukan tong setan Dee" Rein tertawa ketika Dee masih terlihat bengong menatap pembalap-pembalap itu yang satu persatu keluar dan melakukan jumping.

Suasana di ruangan itu menjadi bising oleh suara motor Jojo, Nicky dan Scott yang saling berpacu bergantian mengelilingi lintasan tong raksasa itu.


***


Jojo mengajak Rein habis pertunjukan itu, keduanya duduk di atas rumput. Di depan mereka masih ramai dengan pengunjung yang memadati pasar malem.

Nicky sudah pulang dengan nganter Dee terlebih dahulu. Begitu juga Scott yang pamitan pulang barusan.

"Cintah.. gimana kabar mama Zi?" Jojo merangkul bahu Reinen.

"Masih gitu-gitu aja.. gak tau lah maunya mama" Rein mendadak sedih, hembusan napasnya terdengar berat.

"Ya udah gak usah bahas itu deeh" Jojo nyengir, senyumnya manis dan kadang kalau yang belum mengenalnya dikira Jojo tuh playboy.

"Udah malem ayang.. mama pasti dah jaga-jaga di depan pintu, tadi aku ngabur"

"Weeeeeee ngabur gimana? Gak ijin tadi?" Jojo menegakan duduknya.

"Mama tadi ga kasih ijin.. ayang.. kan cintah kangen ma ayang" kembali Reinenn beringsut merapat ke tubuh Jojo.

Keduanya saling menatap mata. Dan dibawah bulan purnama dan suasana sekeliling yang masih ramai Rein dan Jojo saling mendekatkan wajah.

Kedua mata Rein tertutup. Meski dia sering melakukan sama Jojo tapi tiap kali melakukan ini dia masih deg-degan ada perasaan sungkan tapi seneng.

Dirasakannya bibir jojo sudah melekat dan mendaratkan kecupan yang panjang.

Malam semakin bergerak jelang dini hari, keduanya nampak berpelukan. Tangan Jojo melingkar di pinggang Reinan yang membelakangi tubuh Jojo.

Reinen berpikir lebih baik nanti pulang dia loncat ke jendela kamarnya, toh tadi dia sengaja tidak mengunci jendela dari dalam.

Dirasakannya tangan Jojo makin erat memeluknya, dia tidak ingin berpisah dari ayangnya itu. Biarpun mama Zi tidak setuju.

Tekad gadis itu sudah bulat, mereka tidak akan nyerah untuk ngeyakinin mama Zi kalau pilihannya gak salah.
,,(O_O),,

Sabtu, 20 November 2010

FF Lupa - Lupa Ingat

MotoGP Fan Fiction - One Shoot

Title : Forget Me Not ( Lupa-Lupa Ingat )
Genre : Gak jelas
Rating :T
Disclaimer:
FF buat Sistah Sweetz aka Ucha aka Kuchang ma yg laen daah as piguran :D
Enjoy...

Cast:

Nicky Hayden
Ben Spies
Sweetz Ucha
Reinen
Esther
Zi
Deevone
Mince



"Neen aku bumbu kacangnya dikit aja" Sweetz Ucha berteriak pada temannya yang sedang mengantri batagor.

"Iyaaaaaah.. eeeeer aku dah parises berdiri kamu enak-enak maen nitip aja!" Reinen misuh-misuh gak jelas.

Setelah berabad-abad nunggu sampe rambutnya ada sarangnya lengkap dengan burung nangkring di atas kepalanya, gadis itu menghampiri meja meletakan batagor.

"Ihhh aku kan minta batagor bumbunya dikit" Sweetz Ucha masih protes.

"Aku dah ngomong cha.. dah lah kalo enggak mau buat aku semua" Reinen mulai memakan dengan cepat sepertinya cewek itu kelaparan.

"Apa tuuh?" Sweetz Ucha menghentikan menyendok batagornya.

Suasana kantin sangat ramai dengan jeritan teman-teman sekampusnya. Cewek-cewek di dekat meja Ucha sibuk rebutan baca majalah yang dibawa Deevone.

"Gilak ganteng bangeeet si Nicky, aku mau liet free practice-nya ahh" Ester berdecak kagum, tangannya mengelus photo Nicky di majalah itu kek ngelus orangnya langsung tuh.

"Liet dong" Ucha sudah nyamber majalah itu.

"Woiii sopan napa?!" Deevone melirik sinis ke arah Ucha.

"Aaaaaaaaaahh jangan sampai ketinggalan jemput ayang di airport! I miss you Nicky" gayanya sok kenal dan membikin gerombolan Deevone memandang sengit.

"Chaaa.. jangan norak deeeh.. Bu Asdos tahan diri napa? Di depan anak-anak lain buu.." Reinen mengingatkan.

Ucha tersenyum dengan gaya cool, tangannya menyapu rambutnya yang panjang berkilau. Dikembalikannya majalah ke geng Deevone dengan gaya dibuat seanggun mungkin.

Gadis itu sudah lupa sama batagor pesanannya yang sudah susah-susah diperjuangkan oleh Reinen. Sekaranga Ucha enak saja berjalan menuju ruangannya.

"Woiii.. mau kemana? Abisin dulu!" Reinen berteriak kesal. Akan tetapi dia akhirnya menyambar piring batagor punya Ucha dan menghabiskannya.


***


Ucha berdiri di belakang pembatas yang dipasang pihak bandara. Dia tidak sendirian karena pagi itu banyak gadis-gadis yang lain menunggu Rider MotoGP mendarat.

Satu persatu para rider MotoGP menampakan batang idungnya. Mulai dari Valentino Rossi, Danie Pedrosa sampe Jorge Lorenzo.

Mata Ucha mencari sosok yang ditunggunya dari tadi. "Nicky mana sih? Aaaaaah ga sabar pengen liet"

Begitu melihat cowok dengan hem pendek merah bertuliskan Ducati lengkap dengan topi nongol di pintu, ponselnya dia arahkan ke rider cakep itu.

"Nicky look at here.. please Nicky.. over here!" Ucha meloncat-loncat dengan tangan dadah-dadah ke atas kek Miss Lampung kesasar.

"Oiiiiiiii cowok liet dimari oiii.. godain kita dong.." baaaaaahh sekarang Ucha dengan gaya norak kek mbak-mbak penjual jamu genit menarik-narik tangan Nicky.

Biar norak kata-kata Ucha sempet membuat Nicky menatap cewek itu dengan berkerut dan membatin "Cantik nih cewek tapi agak norak" -hmpfh-

"Please minta tanda tangan.. di mana aja terserah" Ucha menatap mata Rider dari USA itu memohon, tapi karena gayanya najong Nicky mengeleng-geleng kepala dan ketawa.

"Ikkhhhh minta tanda tangan aja pelit!" tangan gadis itu meraih sandalnya dan dilemparkannya ke kepala rider itu dari belakang.

Gotcha! Kena! Sukses cha! Kamu berbakat jadi atlet lempar sandal, congratz!



"Siapa yang melempar aku sembarangan?!" Nicky berteriak kaget dan security yang mengiringinya bergerak mencari siapa yang sudah dengan kurang ajar maen lempar-lempar.

Mata bagus Nicky menangkap salah satu kaki yang telanjang tanpa alas kaki. Dilihatnya gadis itu salah tingkah wajahnya memerah nahan malu apa takut? Entahlah.

Security menarik tangan Ucha berniat mengamankannya tapi Nicky memberi isyarat tertentu. Beberapa security mengangguk dan melepaskan tangan Ucha.

"Maaf.. aku pens berat mu sungguh.. aku kan mau minta tanda tangan aja eh satu lagi kalo boleh foto bareng" Ucha berbicara lemah ketika Nicky sudah berdiri di depannya.

"Terus kalo di tolak make cara anarkis gitu?" Nicky menatap mata gadis cantik yang saat itu memakai rok kuning ceplok-ceplok ijo dengan atasan blouse merah ngejreng.

"Heheheh.. kalo kepepet sih.." tawa Ucha malu-malu, tangannya melintir-lintir tali tasnya sampe melintir kasihan tali tasnya jadi pelampiasan.

"Kalo gitu kamu musti belajar menerima penolakan" kata-kata Nicky terdengar tegas, cowok itu berjalan cepat dan segera digiring masuk mobil penjemput oleh para security.

"Eeeeerrr.. sombong! Lo pikir lo rider Amrik paling kece!" Ucha menendang sandal satunya lagi karena tadi yang buat lempar kepala Nicky sudah ngabur entah kemana.


Gadis itu berjalan lesu, padahal dia pagi-pagi bela-belain ga sarapan buat menunggu rider kesayangannya itu.

Di kampus dia boleh lah jadi asisten dosen yang dikagumi cowok-cowok tapi disini dia jadi kek anak ilang, mana kaki udah kek gembel gak pake sandal.

"Gaya gypsi keren juga'" seorang cowok tinggi berkepala agak gundul dikit tersenyum. Tatapan cowok itu ramah.

"Ga usah ngejek kalik.. mas.." Ucha berjalan keluar bandara hendak mencegat taxi.

Dia agak kaget ketika cowok setengah gundul itu digiring ke mobil mewah oleh para security berjaket Yamaha.

"Emang dia rider juga? OMG dia kan.. dia kan.. BEN SPIES!" tangannya nabok jitadnya berkali-kali.

"Aduuuhh napa aku bisa lupa?! Padahal tadi dia nyapa aku! Nyapa Aku!" Ucha menggelengkan kepala kesal, tanda tangan Nicky gak dia dapet boro-boro photo bareng.

Terus tadi Ben Spies rider Amrik yang cakep dah nyapa mala dijudesin.


***


Ben Spies masuk pitbox sepertinya ada kerusakan ato settingan yang salah. Cowok bertinggi 177 centi itu berjalan keluar dan membiarkan kru benerin tuh motor.

Mata rider ganteng itu tertuju pada gadis berbaju kuning ceplok-ceplok ungu yang sedang meleng nyari seseorang.

Sepertinya cewek ini memang suka make baju motip ceplok-ceplok kek pas dia bertemu di airport tadi pagi.

Ben berdiri tepat di depan Ucha dan berharap ditabrak gadis itu. Tapi entah karena rem tubuhnya yang pakem or apa gadis itu langsung mandeg.Ciiiiiiiiit.

"Haiii..napa berhenti? Dah siap-siap ditabrak lho" Ben nyengir, senyumnya kek di iklan relaxa keluar bunga-bunga tujuh rupa.

"Adoooh mas, aku nabrak juga pilih-pilih kalik.. ikhh ganjen" Ucha balik kanan dan berjalan cepat-cepat. Tapi mendadak dia mengerem lebih ugal-ugalan.

Tubuhnya sampai terdorong ke depan. Nih cewek pake motor apa kaki sih -_-a

"Itu kan Ben Spies! Adooohh napa bisa aku lupa.. aaaaaaaarrgg lupa lagi ma wajahnya?!" gadis itu tidak berhenti nabokin kepala nyesel.



Dari kejauhan Nicky memarkir Ducatinya. Cowok itu geleng-geleng kepala sepertinya kesel.

"Sirkuit macem apa ini?! Aneh, masak ada paku di aspal?!" Nicky tak habis pikir balapan pertama di Indonesia akan mengalami nasib sial, kebanan kek gitu.

Dia mikir untung di sirkuit coba kalau di jalan sendirian, malem-malem lagi belum kalo ada mbak kunti ngegodain ga kebayang deeeh.

"Itu biasa mas, biar kamu nambal ban di situ?" Mince salah satu mekanik mesem-mesem nyamber.

"Ntar liet aja, aku demo tuh yang punya sirkuit seenaknya aja ngebiarin tukang tambal ban berkeliaran di sekitar sirkuit."

"Yang dingin  yang dingin, aquah-aquah, tisu mas" seseorang cowok gundul bawa kotak dagangan nyolek-nyolek  tangan Nicky Hayden.

"What?! Apalagi ini? No thx" Nicky berjalan menjauh ke arah pembatas track melihat monitor yang di pelototin para kru.

"Mas beli dong.. ada rokok mas bisa nglencer mas.. mau satu lencer apa dua lencer boleh" tukang asongan itu masin mengikuti Nicky dari belakang.

"Tawarin ke yang lain aja ok?!" Nicky berniat masuk pitbox lagi tapi tanpa sengaja dia nabrak seseorang karena tadi buru-buru melangkah.

"Adoooohh" Ucha memegang bahunya yang terkena tubuh Nicky, gadis itu sepertinya kesakitan. Tapi ketika menyadari sapa cowok yang menabraknya Ucha semaput dengan sukses.

"Woiii.. aduuhh napa semaput di sini?!" Nicky menepuk-nepuk pipi Ucha yang tubuhnya ada di pangkuan dia.

"Mas aquah apa tisu, ada minyak nyong-nyong juga bisa bikin dia sadar lho" Pengasong itu masih dengan setia tidak beranjak mengikuti Nicky.

"Shut up.. ganggu aja!" Nicky rupanya sudah tidak sabar ngadepin pengasong yang kek kutil bandel gak mau pergi.

"Whalah mas.. kalo ga mau ya udah.. bule kere!" pengasong itu berbalik arah dan mengejar Valentino Rossi yang saat itu melintas di depannya.



Nicky terpaksa membopong tubuh Ucha ke pitbox. "Guys ada cewek semaput gimana nih?!"

"Ya kasih napas buatan lah" mekanik botak bernama Mince itu senyum mupeng dan mendekati Nicky.

"Well.. kamu yang akan ngasih?" Nicky menaikan alis dan tersenyum dia bergerak bangun memberi tempat buat Mince.

"Ikhh ogah! Napa gak kamu aja Nick?" Ucha bangun dari sofa dan memegang tangan Nicky. Lupa dia kalau tadi lagi pura-pura pingsan -_-a

"Kamu?!!" Nicky rupanya baru inget wajah Ucha, ya gadis itulah yang tadi pagi nglempar sandal ke kepalanya.

Nicky meminta para kru untuk membawa gadis itu keluar. Ucha meronta-ronta berusaha melepaskan diri.

Cowok Amrik bermata indah itu terus memperhatikan gadis itu yang setengah diseret menjauh oleh salah satu kru bertubuh gede.

Dia tidak bermaksud kasar sebenernya, tapi ada hal lain dari gadis itu yang mengingatkan dia pada seseorang dimasa lalunya yang ingin dia lupakan.

"Dasar bule nyebelin!" Ucha menutup mukanya dan berdiri dipinggir jalan menangis. Tubuhnya terlonjak kaget ketika ada suara klakson mobil terdengar begitu dekat.

Seraut wajah ganteng nongol dari jendela dan tersenyum. Cowok itu berkacamata hitam rambutnya dispike.

"Mau ikut naik? Aku anterin kamu pulang" ajak cowok itu ramah.

Ucha masih bengong menatap pengendara itu. Dipikirnya dia cewek apaan seenaknya aja tuh cowok gak kenal ngajak naik mobilnya.

"Eeehh mas , aku bukan cewek gampangan yah.. hush hush.." Ucha mengibaskan tangannya kek ngusir ayam tetangga yang sering makan bunga di terasnya.

"So what.." Cowok itu beringsut dan menjalankan mobilnya kembali meninggalkan Ucha di pinggir jalan.

"Wekkzz itu kan Ben Spies.. adoohh masak aku lupa lagi.. ckckck" Ucha tidak habis pikir dalam 1 hari bisa lupa ma orang sampe 3 kali -_-"


***


Ucha menaiki eskalator di mall paling megah yang menyatu dengan hotel terkenal di daerahnya. Malem hari mall itu terlihat ramai.

"Ssstt pssstt sini!" suara di belakangnya memaksa dia berbalik. Terlihat cowok ganteng tersenyum ke arahnya melambai dari food counter tak jauh dari dia berdiri.

"Sape lo?" Ucha sinis dan melengos berjalan cepat-cepat dan bergerak di antara gantungan baju. Langkahnya terhenti mendadak, secepat kilat dia berlari ketempat tadi.

"Adoohh aku amnesia apa yah? Naseeb.. naseeb.. dia tadi kan Ben Spies.. napa ingetnya telat sih?" gadis itu meratap dan nabokin kepalanya lagi.

"Haii" seorang cowok bertopi Ducati sudah berdiri di depannya dengan tatapan ramah.

Mata Ucha melotot tidak percaya melihat siapa yang menyapa. Bagaimana mungkin dia yang kek sombong gitu mendadak mau beramah tamah ma dia.

Tangannya sudah nabokin mukanya sendiri. Nicky mengernyit heran dengan gadis di depannya yang kelihatan tidak waras.

"Are you ok?" kembali Nicky mengeluarkan suara, kali ini terdengar cemas.

"Im fine .. fiuuhh hehehe" senyuman najong mengembang dari wajah Ucha yang mulus.

"Mau nemenin aku makan ? Yuukk" Nicky sudah berjalan masuk food court dan menyambar buku menu.

Gadis itu asli kek kambing congek bengong gak percaya apa yang barusan dia dengar, Nicky mengajak dia makan bareng!.. Ulalala.

Setelah tersadar Ucha langsung melesat masuk dan ngambil tempat duduk di depan Nicky. Kembali cewek itu berusaha memberikan senyum paling muanis biarpun yang keluar asem.

"Kamu mau pesen apa?" Nicky memberikan buku menu ke hadapan gadis itu.

"Aku ayam pangang 1 ekor aja, nasi sebakul, ma es teh satu poci gede udah.. maklum saya udah kenyang"

"Ooo well.. " Nicky untuk kesekian kali dibuat takjub dengan Ucha, ajaib bener nih cewek. Batinnya.

Begitu pesananan datang gadis itu langsung nyamber ayam dan nasinya.

Nicky bisa melihat nasi di atas piring Ucha udah ngalah-ngalahin puncak gunung Himalaya tinggal ditancepin bendera aja tuh dah mirip.

Singkat cerita mereka berbicara di sela-sela makan dan mereka tambah akrab. Sehabis makan dan bener-bener makanan mereka habis-habisan mereka memutuskan berkeliling mall.

Ternyata Nicky orangnya asik. Itu yang ditangkap oleh Ucha sehabis mereka ngalor ngidul balik ngulon ngobrol kesana kemari tiada habis-habis.

"Aku anterin kamu pulang" Nicky melangkah ke tempat parkir diikuti Ucha.

"Ok.. tau jalan putih-putih melati no.69 gak?" Ucha sudah berbunga-bunga kapan lagi dia dianter pake mobil super mewah.

"Gampang ntar tinggal nanya-nanya" jawab Nicky enteng. Mereka melewati deretan mobil mewah.

Ucha berpikir pasti pembalap kek Nicky mobilnya kalau tidak Ferarri ya Mercy keluaran terbaru walau itu nyewa. Mana mau coba rider sekaya dia nyewa mobil murahan.

Akan tetapi langkah mereka semakin jauh dan tidak berhenti di deretan mobil mewah. Nicky berhenti di deretan motor dan mencari uang untuk bayar parkir.

Ucha melongo parah ketika Nicky menarik skuter butut berwarna ijo telor bebek yang udah kusam.

"Nick.. kamu Nicky rider MotoGP kan?" Ucha menelan ludah. Dia sudah mikir jangan-jangan yang ngajak makan barusan Nicky KW 3 alias Nicky abal-abal.

"Sure.. ayo naik" Nicky memberikan uang receh ke tukang parkir. Akhirnya dengan sangat.. sangat terpaksa Ucha naik ke atas jok skuter butut itu.

"Aku nyewa motor antik ini cha.. keren yah.. di Amrik ga ada yang seperti ini!" Nicky mulai menstarter motornya.

Tangan Ucha kaku memegang bagian belakang jok skuter. Ingin dia nangis, malem-malem dingin harus naek motor.

"Cha pegangan dong" tangan Nicky meraih tangan gadis itu dan ditaruhnya di pinggangnya.

Perlahan skuter butut itu berjalan dan bergabung dengan ratusan motor lain di jalan raya. Tangan gadis itu berusaha menahan roknya dari serbuan angin.

Dia tidak mau begitu aja memberikan pemandangan gratis pada cowok-cowok yang nongkrong di pinggir jalan raya.

Aroma tubuh Nicky dapat dia cium dari jarak dekat. Tangannya yang melingkar di pinggang rider Amrik itu semakin erat.

Ucha dapat merasakan setiap helaan napas dari Nicky lewat tangannya. Perut rider itu bergerak halus, dirasakannya otot perut itu kencang dan kokoh.

Aku gak bakal nyesel lagi malem ini dibonceng motor butut ini. Teriak Ucha dalam hati.

Dia sudah merasakan sensasi yang berbeda dari perjalanan malam ini dengan rider paporitnya. Gadis itu bersandar di punggung Nicky.

Motor butut itu semakin bergerak perlahan kemudian berhenti. Nicky merasakan kepala gadis itu begitu berat bersandar di punggungnya.

"Cha.. bangun dah nyampe" Nicky melepas helm dan menyentuh bahu Ucha yang ada di belakangnya.

Ucha tersentak bangun dan mengelap bibirnya takut ileran. Rupanya dia tertidur di punggung Nicky.

Tangan Nicky membantu Ucha turun dari motornya. Mereka berdua sudah hadap-hadapan di teras.

Nicky menatap gadis di depannya. Penerangan malam itu mayan membatu melihat mata Ucha yang terlihat berbinar-binar dan tersenyum.

"Cha.." tangan Nicky menarik tubuh gadis itu dalam rengkuhan lengannya. Diciumnya gadis itu perlahan.

"Sorry.. hanya tadi ketika turun itu satu-satunya hal yang ingin kulakukan ke kamu" Nicky menjauhkan wajahnya.

"Ga papa Nick" bibir Ucha berdecak dan berusaha lagi merasakan aroma mint yang sempat dikecapnya tadi.

"Aku pulang dulu" Nicky berjalan mundur akan tetapi satu menit kemudian dia berlari ke arah Ucha dan memegang dagu cewek itu.

Disentuhnya bibir lembut gadis itu dengan bibirnya lagi. Mata Ucha terpejam kedua tangannya meremas punggung cowok itu.


***


Mata gadis itu menatap kelambu putih di atasnya. Ranjangnya lengkap dengan kelambu  seakan membawa dia seperti jaman dulu.

Bagaikan putri-putri keraton jaman majapahit Ucha tersenyum. Masih diingatnya ciuman Nicky tadi begitu lembut dan hangat.

Lemparan sandal dia di pagi hari dan kelakuan dia yang pura-pura pingsan di depan Nicky kembali terbayang. Nicky tadi begitu berbeda.

Beberapa jam kemudian terdengar bunyi ngorok Ucha tanda gadis itu sudah melayang ke dunia mimpi.


***


Ucha sudah berada di sirkuit lagi. Entahlah pagi ini gadis itu apa tidak ada kuliah, ijin or bolos ckckck.

Nicky berjalan di depannya. Wajah Ucha sudah bersinar-sinar, aneh.. kenapa bisa begitu. Apa gadis itu bawa senter buat nyorot mukanya di pagi hari? Gak tau lah.

Cowok itu ternyata terus berjalan menuju pitbox tanpa memperdulikan senyum Ucha yang sudah dimanis-manisin. Tau yang pagi buta borong pemanis di warung sebelah.

"What the hell?" tangan gadis itu bertolak pinggang. Segera saja dia mengikuti Nicky.

Nicky terlihat berdiskusi serius dengan mekaniknya. Ucha mendekat ragu-ragu, walau perasaannya gak enak, tetapi diberanikannya menyapa rider itu.

"Nick.." Ucha melintir-lintir tali tasnya lagi. Kebiasaan.

"Kamu? Napa kamu ada di sini?" suara Nicky meninggi, wajahnya kaku menatap galak cewek itu.

Aduuh apes deeh Ucha.. jangan-jangan tuh cowok menderita kelainan apa ilang ingatan.

"Kamu yang meminta aku datang semalem" bibir Ucha sudah bergerak-gerak, dia menahan mau nangis.

"Hello girl..kamu aneh!" Nicky keluar dan menuju pitbox Valentino Rossi calon teammatenya.

"Ada apa sih dengan cowok itu?! Dia yang aneh... eeeeeeerr kurang ajar! Mana tadi malem nyipok aku.. lagi..sekarang pura-pura kek ga kenal"

"Mbak tisu? Apa aquah? Minyak angin juga ada, siapa tau mbak masuk angin apa sakit perut" tukang asongan yang kemarin masih berkeliaran dan sekarang sudah nangkring di samping Ucha menawarkan dagangannya.

"Tisu aja mas" gadis itu mengambil tisu 5 biji dan memberikan uang seribu lembaran.

"Mbak satu biji aja ga dapet kalo seribu, lah itu ngambil 5.. kira-kira dong mbak" Pengasong itu nyolek-nyolek tangan Ucha.

"Eeeuuwwhh kalo gak boleh ya udah!" dilemparnya tuh tisu dan mengambil uang seribuan di atas kotak pengasong itu.

"Halaah mbak.. kagak bule.. kagak sampean.. kere semua.. " pengasong itu kembali jalan-jalan dan menjajakan dagangannya diiringi suaranya yang cempreng.


Gadis itu termenung di pinggir paddock.

"Ehem pagi-pagi udah melamun" senyum cowok ganteng berjaket Yamaha kembali mengembang di samping Ucha.

"Gak usah resek!" Ucha menatap beberapa rider Moto2 yang sedang latihan bebas dan muter-muter sikuit di depannya.

"Ok.. keknya tiap aku datang selalu gak pada saat yang tepat" cowok itu berlalu dan masuk pitbox Yamaha tech3.

Kembali Ucha terperanjat melihat punggung cowok itu. "God! Itu kan Ben Spies.. alamaaak mosok aku lupa lagi"

Sekarang kelakuan cewek itu makin aneh. Kepalanya dia bentur-benturkan di tiang bendera eh sirkuit.


***


"Aku duluan" Ucha berlari masuk ruangan praktek dr. Zi. Masih sempet didengarnya suara-suara protes ibu-ibu di belakang.

Ucha duduk di depan dokter muda itu. Dilihatnya dr. Zi tersenyum, sore ini dokter ahli sarap itu memakai jilbab warna birunya yang manis.

"Ada keluhan apa mbak?" suara dokter itu terdengar ramah.

Ucha menceritakan tentang dia yang selalu lupa dan tentang seseorang yang dia temui bersikap aneh. Dia tidak menyebut orangnya siapa.

"Apa itu penyakit dokter? Padahal semalem bener-bener kami akrab tapi tadi kek dia gak pernah ngenal aku sama sekali" Ucha menyambar tisu di depan meja dr.Zi.

"Perlu pemeriksaan lebih lanjut itu, bisa aja karena kebawa perasaan gugup. Apa itu berlaku buat barang apa mata kuliahmu gitu?"

"Yang ini sama orang doang dok dan sama orang tertentu"

Akhirnya Ucha keluar dari ruangan itu dengan gontai. Matanya masih nangkep sesosok cowok bertopi Ducati masuk ke ruang prakter dr.Zi.

"Itu tadi kan Nicky" gumamnya. Tapi karena dah sore gadis itu menuju jalan raya menyetop angkot lewat.


***


Suara ketukan di pintu membawa Ucha keluar dari kamar. Begitu pintu dibuka nampak wajah yang sangat di kenalnya tersenyum.

"Haii.. ga ganggu kan?" Nicky berdiri jengah. Mata Ucha menangkap skuter butut parkir di bawah puun mangganya.

"Masuk.." Ucha memberi jalan, kemudian gadis itu mengajak Nicky ke ruang tipi menonton sinetron kesayangannya di Indos.

"Yang lain pada kemana?" suara Nicky kembali terdengar.

"Oooh pada kondangan ada sunatan di kampung sebelah" Ucha menjawab tanpa meleng sedikitpun dari tipi yang saat itu nayangin ular gede jadi-jadian lagi terbang, spesial effect yang kasar tentu saja.

"Cha.. kok dingin gitu ma aku?" Nicky meraih tangan gadis itu dan meraih dagu Ucha biar ngadep dirinya.

"Kamu kemana aja tadi pagi? Aku nyapa kamu di pitbox tapi kamu seolah-olah gak ngenal aku" air mata Ucha sudah mengalir di pipinya.

"What? Ga mungkinlah.. sama kamu ini mosok aku cuekin?!"

"Kamu tadi pagi kek galak gitu ma aku" suara Ucha sudah meninggi.

"Sorry.. aku mana mungkin sampe hati galak-galak ma kamu" Nicky mendesah galau.

Ditatapnya wajah yang bersimbah air mata di sampingnya. Tangan cowok itu meraup tubuh gadis itu.

"Sorry Sweety.." diciumnya rambut Ucha yang panjang dan bau shampo bayam campur ayam.

Diraihnya dagu Ucha, wajah dan tubuh Nicky semakin merapat ke arah gadis itu.

Ucha mengatupkan matanya dan dirasakannya napas Nicky menyapu permukaan kulit wajahnya. Bibirnya kembali merasakan bibir lembut Nicky menyentuhnya.


***


Siang itu sirkuit nampak mendung beberapa mekanik sibuk kesana kemari. Beberapa rider masih kongkow-kongkow nunggu motornya siap.

Ucha berjalan riang, rok  hijau ceplok-ceplok kuningnya bergerak-gerak tertiup angin.

Senyumnya merekah melihat Nicky yang berdiri bareng Jorge Lorenzo sedang bercanda.

"Nicky!" Gadis itu berlari dan meloncat bergelayut di leher Nicky.

"Apa-apaan kamu? Gadis gila!" Nicky memanggil security yang nampak berjaga-jaga di setiap penjuru sirkuit untuk mengamankan Ucha.

"Lepasin aku.. enak aja kamu ngatain aku gila.. nah liet kan.. siapa yang gila? Kamu itu huhuhu" Ucha menangis dan meronta-ronta di tangan security yang menyeretnya menjauh.


Hujan turun dengan deras di sirkuit. Ucha memeluk lututnya pandangannya tertuju pada butiran hujan yang semakin turun dengan lebatnya.

"Kenapa duduk disini?" suara cowok ganteng mengagetkan Ucha yang sedang bengong.

"Ehhh suka-suka aku! Emang sirkuit punya eyang situ!" samber Ucha sewot.

"Fine.. aku gak akan ganggu kamu dan nyapa-nyapa kamu lagi.. kamu manis sebenernya kalo gak jutek gitu" cowok itu tersenyum dan berjalan menjauh masuk pitboxnya yang bertuliskan Yamaha.

Kepala Ucha bergerak cepat menatap cowok itu lagi. "NOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO... ITU BEN SPIES! NAPA AKU LUPA LAGI!!!"

Gadis itu menangis meraung-raung sejadi-jadinya. Untung hujan lebat menenggelamkan suara tangisnya kalau enggak bisa-bisa dia ditendang dari sirkuit itu.

,,(O_O),,

Rabu, 17 November 2010

FF Stunt Girl In Love

MotoGP Fan Fiction  - One Shoot

Title : Stunt Girl In Love
Genre : Romance
Rating :T
Disclaimer :
Sorry buat yang mpe bosen cuman ada 2 nama rider di FF ini.
Satu lagi karena ga pengen bikin cemburu istri-istri abang yang laen, kembali gw musti berela-rela hati ma Karel lagi -hmpfh-


Cast :

Karel Abraham
Nicky Hayden
Valerye
Sweetz Ucha





Brno Ceska

Panas Bulan Agustus begitu menyengat siang ini. Suara balapan di atas track sangat kencang dan memekakan telinga.

Bagi yang terbiasa menonton balapan langsung pasti akan memakai headset or ear plug buat melindungi telinga.

Gadis berambut panjang warna cokelat dengan sackdress putih ruffles itu berdiri dekat pembatas sirkuit.

Kedua tangannya berusaha menutup kuping, Sebuah usaha yang sia-sia tentu saja.

Kelas Moto2 baru saja menyelesaikan sesi free practice , beberapa rider memasuki paddock untuk memarkir kendaraan dekat pit box masing-masing.

Pandangan gadis itu tertuju pada rider dengan jamsuit warna biru bertuliskan AB Cardion.

Wajahnya familiar dan sering muncul di majalah atau koran-koran.

Cowok itu tersenyum dan nampak berbicara dengan pria paruh baya berkacamata, seorang kru mekanik membawa motor bernomor 17 itu masuk pit box.

Cewek berambut panjang itu nampak ragu mendekat, meski dia sudah agak yakin tidak salah orang tetapi karena belum pernah bertemu sebelumnya tak ayal membikin dia deg-degan.

Langkah cewek itu semakin mendekati sosok cowok bertinggi 180 centi itu, kurang beberapa langkah cewek itu tiba-tiba berbalik arah.

"Sweetz?.. hai honey..." langkah gadis berbaju putih itu terhenti dan dengan ragu-ragu berbalik ngadep ke arah rider bermata hazel itu.

"Oooh hai.." cewek yang dipanggil Sweetz itu berdiri dan menunggu rider berseragam biru itu mendekat.

"Akhirnya kamu datang juga" Cowok itu berdiri dan memandangi cewek yang ada di depannya agak lama.

"Iyah, kan udah janji" bibir cewek itu entah mengapa bergetar sewaktu menjawab, tangannya bergerak menyelipkan rambut di belakang telinganya dengan gugup.

"Kau lupa sesuatu Sweetz?" cowok yang ternyata Karel Abraham adanya itu tersenyum dan berkedip menggoda ke arah cewek itu.

"Eeehh apah.." gadis itu gugup semakin salah tingkah.

"Biasanya tiap ketemu aku, kamu akan lari memeluk dan menciumku" Karel menatap tajam ke arah gadis berambut panjang itu tanpa menghilangkan kesan ramah di wajahnya.

Nanti kalau kau ketemu sama Karel bersikaplah wajar dan kamu musti inget kebiasaan pertama ku kalau ketemu dia langsung memeluk dan mencium pipinya.

Pesan itu kembali terngiang di kepala gadis yang nampak tidak nyaman dengan high heels 10 centi yang dipakai di kakinya.

O God, apa aku harus melakukan hal itu juga? gadis itu membatin. Untuk memeluk dan mencium Nicky Hayden cowoknya saja dia kadang malu.

Dan sekarang dia harus melakukan kebiasaan yang dilakukan Sweetz terhadap Karel, cowok dari sisternya itu.

"Kamu sakit?" Karel bergerak menyentuh kening gadis itu dengan tangannya.

"Aaahh enggak, aku cuman agak.. aahh" hampir saja gadis itu keceplosan untuk menjawab karena dia tidak terbiasa berada di sirkuit yang bising.

Inget Val kamu sedang jadi Sweetz jangan sampai kau ketahuan, masak buat berakting dikit saja kamu gagal. Gadis itu memejamkan mata berusaha konsentrasi.

"Tunggu sebentar disini yah?" Karel berlari ke pit box mengambil kunci mobil dan cowok itu kemudian menyambar tangan gadis itu.

Digandengnya tangan Val menuju parkiran. Karel membukakan pintu Ferarri dan menyilahkan gadis itu masuk.

Karel berputar dan masuk memegang kemudi, cowok itu masih menatap lurus ke depan belum juga menstarter mobilnya.

Val duduk semakin gugup apalagi melihat tubuh Karel bergerak condong ke tubuhnya dan wajah cowok itu menunduk mendekat ke wajahnya.

Reflek wajahnya menjauh. Karel menatap mata gadis itu dan tersenyum, kemudian tangannya meraih tubuh didepannya.

Dipeluknya Val dengan erat dan agak lama, bibir Karel dirasakannya mencium rambutnya. "Miss you so much, Sweetz..."

Val menahan napas, kedua tangannya kaku di jok mobil. Inget Val, Karel kangen sama sister mu bersikaplah wajar. Gadis itu memperingatkan dirinya sendiri.

Akan tetapi usaha buat meyakinkan diri ternyata gagal. Ya dia memang Stunt girl yang payah.

Perlahan Karel menjauhkan tubuhnya, dia menstarter mobilnya. Tidak lama Ferarri itu bergerak meninggalkan parkir Brno sirkuit.


***


"Val, please tolongin aku.." Sweetz terbaring dengan kaki dan tangan berbalut perban, wajahnya berlinang air mata.

Kecelakaan tadi memaksa gadis itu dirawat di Hospital dari sore.

"Ngomong saja sebenarnya sama Karel, aku yakin dia bakal ngerti dan pasti akan kesini"

Tangan Val mencengkram pinggir bed rumah sakit yang bercover warna biru muda itu.

"Iyah dia akan kesini, tapi untuk berapa lama? Gadis-gadis diluar sana sudah siap-siap untuk merebut perhatiannya dia akan lupa sama aku yang terbaring disini"

Sweetz menangis frustasi. Dia kesal dengan nasibnya yang ditabrak saat dia pulang dari rumah Deevone, teman kampusnya.

"Kalau Karel memang mencintai sista, ga bakal dia ninggalin sista" Val masih menggeleng menolak permintaan gila itu.

Bisa-bisanya Sweetz meminta dia untuk menjadi stunt girl, kalo buat film or sinet masih diterima. Laah ini disuruh pura-pura jadi pacar Karel.

Tidak aneh sebenernya kenapa Sweetz meminta adiknya menggantikan dirinya karena mereka berdua terlahir sebagai kembar identik, hanya Sweetz lebih dulu 15 menit dari Val.

Orang tuanya saja sampai sekarang masih sulit membedakan kedua putrinya yang tumbuh menjadi remaja yang cantik-cantik.

Teman kampus yang sudah terbiasa bergaul lama dengan mereka berdua akan dengan mudah bisa membedakan mulai dari kebiasaan dan tingkah kedua gadis kembar itu.

Sweetz dilihat dari sosoknya yang suka berbaju feminim dikenal ramah dan mempunyai banyak macam kegiatan di kampus.

Sifatnya yang mudah bergaul membuat dia mempunya banyak teman dari mulai adik angkatan, senior, dosen sampai tukang becak dan preman pasar mengenalnya.

Kebalikan dengan Val, gadis itu cenderung tertutup. Sehari-harinya gadis itu lebih sering terlihat di taman membaca buku kadang bermain biola.

Nicky Hayden cowok Val dengan mudah bisa menemui pacarnya yang pasti bakal terlihat di bawah pohon sedang baca ato bermain musik.

"Val, tolong temui Karel besok jam 11 di sirkuir Brno!" suara Sweetz terdengar memaksa.

"Sweetz.. aku ga yakin ini bakal berhasil aku..." suara Val tercekat berusaha mencari alasan akan tetapi melihat sisternya menatap memohon membuat dia menangis.

"Please.. babe.. tolong sista mu ini, kamu sayang aku kan?" tangan Sweetz yang tidak berperban meremas tangan adiknya.

Val mengangguk lemah, dilihatnya suster masuk dan memeriksa sista nya. Gadis itu berpamitan dengan kakaknya.

Langkah Val gontai, gadis itu terlihat linglung. Dia harus cepat-cepat sampai ke rumah sebelum larut malam.


***


Setelah sampai di rumah dibukanya kamar Sweetz, langkahnya menuju lemari kakaknya.

Tangan Val mengambil baju sistanya untuk memilih apa yang akan dipakai besok.

"Ya tuhan, aku musti pakai rok ato baju berumbai-rumbai gini" gadis itu menggeleng berdecak.

Kepalanya pusing ketika ingat kebiasaan Sweetz yang suka mengenakan highheels setinggi 10 centi.

Diraihnya kotak sepatu berwarna pink, disana tergeletak sepatu pink cantik berpita seperti yang ada di display butik-butik mahal.

Val melepaskan bajunya dan mengenakan sackdress putih dan sepatu pink itu. Kakinya berusaha menyesuaikan alas kaki yang membuat dia makin menjulang.

Perlahan dia melangkah di depan cermin, karena tidak terbiasa memakai highheels Val terjatuh. Pantatnya dirasa sakit karena mengenai lantai.

Hapenya berbunyi nyaring, lagu Rude Boy dari Rihanna mengalun di kamar itu. Val bangkit dan menyambar hapenya.

"Ya sayang.." suara Val terdengar senang bibirnya tersenyum.

"Belum bobo hun?" suara Nicky diseberang terdengar ngebass.

Suara yang sering membuat Val melayang kalo Nicky sedang merayu dengan bernyanyi sambil memetik gitar di taman kampus.

"Belum Nick.." Val tertawa manja, seperti malam-malam sebelumnya setiap akan tidur Nicky selalu menelpon terlebih dahulu.

Biasanya mereka menghabiskan berjam-jam sampai salah satu diantara mereka tertidur.

"Besok ada pertemuan membahas bazar amal di ruang UKM, nanti kamu langsung kesana karena aku ngajar sampai jam 11"

"Eeerr keknya aku ga bisa Nick,  besok aku ada acara eehh eemmm".

Damn! Kenapa aku lupa nyari alesan kalo besok bakal nemuin Karel.

Val tidak berhenti menabok kepalanya, sekarang dia ngrasa skak mat pikirannya blank.

"Lho kan ga enak Val, bukannya kamu sendiri yang kemarin semangat ngedukung aku bikin nih acara?" suara Nicky di seberang terdengar kesal.

Bagian yang tidak disukai dalam keadaan seperti ini, Val tidak bisa berbohong minimal ngeles lah.

Akhirnya gadis itu bercerita tentang keadaan Sweetz dan semua ide gilanya tadi.

Seperti yang diduga Nicky marah dan kalo sudah seperti itu suara Nicky jadi meninggi.

"Dan kamu mau ngikutin rencana kakakmu?"

"Aku ga bisa nolak Nick, Sweetz sangat khawatir tentang cowoknya. Aku udah berusaha ngeyakinin dia tapi Sweetz tetep ngotot".

Sambungan telepon masih berjalan akan tetapi hening. Val mulai cemas. "Nick.. kamu masih disitu?"

Terdengar helaan napas berat dari seberang.

Val yakin wajah Nicky pasti berkerut dan tangan cowok itu dipastikan mengacak-acak rambutnya sendiri seperti kebiasaan selama ini kalau lagi gundah.

"Aku ngrasa.. aku ngrasa kalo aku bakal kehilangan kamu Val.."suara Nicky mendesah.

"Nick.. aku janji permainan ini ga akan pernah ngubah perasaanku ke kamu. Aku sangat mencintaimu" kata-kata Val terdengar yakin.

"Sure.. okay.. hati-hati besok yah. Love you" terdengar kecupan Nicky dari seberang telepon.

Val pun membalasanya sambil tersenyum "Love you too, muaaaccchh"

Klik. Sambungan telepon diputus.

Gadis itu lama terbengong. Terdengar suara ketukan dipintu, kemudian pintu terbuka seraut wajah cantik wanita paruh baya menyunggingkan senyum.

"Waaah anak mama lagi ngapain ini? Cantik banget..mau ada pesta yah sampe dandan pake baju gitu?"

"Enggak ma.. ini cuman lagi liat-liat baju Sweetz, sapa tau aku butuh buat pinjem kalo ada pesta nanti" Val bergerak dan merangkul bahu mamanya.

"Oya papamu yang ngejagain Sweetz di Hospital, mama disuruh pulang katanya khawatir ma anak satunya dirumah ga ada yang ngurus"

Wanita cantik itu mengacak rambut putrinya gemas.

"Hahaha.. papa ikhh.. aku kan dah gede, tapi iya sih.. besok sapa yang bakal bikinin roti bakar mama yang terkenal enak dan ga tertandingi buatan manapun"

"Huuhh maunya.. ya udah mama pergi tidur dulu yah.. capek nih" Mama Val berjalan keluar meninggalkan salah satu putri kembarnya.

Val tersenyum dan segera beranjak ke kamarnya menyiapkan diri untuk tidur.


***


Photobucket


Ferarri berhenti di sebuah pavilliun bercat biru yang masih berada di salah satu komplek sirkuit Brno.

Kalo para rider MotoGP, Moto2 dan rider-rider dari kelas 125 cc kebanyakan beristirahat di container, untuk Karel yang merupakan anak dari pemilik sirkuit Brno ini disediakan pavilliun tersendiri.

Karel membukakan pintu samping dan membantu Val keluar. Digandengnya tangan cewek itu naik undakan kecil.

Terlihat pengurus pavilliun membukakan pintu. Wanita berseragam orange itu mengangguk kecil menyilahkan Karel dan Val masuk.

'Mau minum apa sayang?" Karel menarik Val duduk di lantai tatami.

Ruangan di dalam bergaya jepang, meja pendek terbuat dari marmer putih menghiasi ruang tamu.

"Apa aja" Val duduk salah tingkah karena tidak terbiasa memakai sackdress pendek.

Karel berdiri dan menyambar botol bir, dituangkannya bir di atas gelas besar yang ada di bar table.

Cowok itu tersenyum menghampiri Val, diletakannya gelas di atas meja.

Mata Val menatap minuman itu. Aduh... itu kan bir aku ga doyan, batinnya.

"Ayo diminum..honey" Karel mengangkat gelasnya mengajak toss.

"Aku ga suka bir" akhirnya terucap juga kata-kata itu dari mulut Val.

Karel menatap heran, pandangan cowok itu tiba-tiba menyelidik gadis di depannya itu.

"Wow.. selera mu dah berubah yah?" tawa kecil Karel mengagetkan Val.

Bodoh! Val memaki dirinya, pasti Karel akan semakin curiga dengan penyamarannya.

Wajah Karel mendekat ke wajah gadis itu. "Jadi minuman yang kamu suka apa sekarang?"

Tatapan Karel begitu tajam dan dalam. Val menarik nafas, jantungnya berdetak kencang. "Boleh aku minta orange jus ato coke?"

"Sure.." Karel berteriak memanggil pelayannya. Tak lama segelas besar jus jeruk sudah nangkring di atas meja.

Val dengan perlahan mengambil gelas dan meminumnya. Mata Karel dari tadi tidak henti menatap wajah Val.

Pandangan cowok itu yang seperti sedang menyelidik, seolah-olah menelanjangi gadis itu.

Fail!. Val memaki kesal dalam hati, dia tidak berkutik di ruangan itu bersama Karel. Dia tidak punya kemampuan berkomunikasi dan ngelucu seperti Sweetz.

Aku yakin dimatanya sekarang, aku hanya gadis yang sangat membosankan. Sorry Sweetz. Val hampir menangis.

"Mau menemani aku malam ini di wellcome party?" Karel memecah keheningan di ruangan yang sejuk itu.

"Aku ga bisa, aku ada piket menjaga perpus dari sore sampai malem. Apalagi ini akhir weekend taman bacaan pasti rame" jawaban Val seperti yang sudah-sudah masih gugup.

"Ok, aku temenin kamu ke perpus kalo gitu" senyum Karel tak henti tersungging dari bibirnya.

Tangan Karel meraup tubuh Val ke dadanya. Dipeluknya tubuh gadis itu. Lagu Never gonna leave your side - Daniel Bedingfield mengalun lembut.

Val bagaikan terbuai di pelukan rider Ceska itu. Dirasakannya tangan Karel meraih dagunya, sebelum sempat mencegah bibir Karel sudah menyentuh bibirnya.

Tangan Val meremas pinggang cowok itu. Aroma vanila dari tubuh Karel seakan-akan bisa dirasakan dari bibirnya langsung.

Ingin dia melepaskan diri sebelum dia terhanyut. Aduuhh ciuman ini sebenernya buat Sweetz bukan buat aku, mengingat hal itu tangan Val segera menghela dada Karel menjauh.

"Im breathless" Val ngeles dengan gugup. Karel tersenyum jail dan mengedip nakal.

"It's okay" Karel bergerak mendekat Val lagi dan menarik tangan lembut itu. Dipeluknya tubuh Val, kembali ruangan itu dipenuhi suara bibir saling bertaut.

Perasaan Val seperti melayang bagaikan kapas yang tertiup angin , dirasakannya ruangan sekitar seperti berputar

Jantungnya berdegup kencang. Semakin Karel menekan bibirnya, semakin Val menginginkan cowok itu. Bayangan Nicky, cowoknya sudah menghilang.


***


Langkah Val gontai masuk kamar. "Ya Tuhan... ini baru hari pertama saja sudah seperti ini"

Gadis itu mendesah, air mata mengalir deras. Dipeluknya boneka lumba-lumba pink gede.

Seharian dia menghabiskan waktu bersama Karel, di pavilliun dan di perpus tadi. Karel dengan sabar menunggunya piket.

Sesekali cowok itu membantunya merapikan buku dan naik tangga mengembalikan buku yang tebal-tebal di rak paling atas.

Besok sebelum qualifikasi cowok itu memintanya menemani di sirkuit. Tiba-tiba suara yang di kenalnya di lante bawah membuat dia terlonjak.

Itu suara Nicky dengan mamanya yang sedang bercanda. Val bangkit dan menyeka air matanya, gadis itu melesat keluar.


Photobucket


"Hai sayang" Nicky melambai meminta Val turun.

"Dari mana Nick?" Val tersenyum menghampiri Nicky.

"Dari persiapan bikin stan bazar di hall tadi, gimana dengan 'tugas negara' mu"

"Apaan.. tugas negara.." Val ngikik, perlahan dia sudah menguasai keadaan.

"Ga mau cerita nih?" alis Nicky bergerak-gerak menggoda ceweknya.

"Ya gitu deeeh.." Val memang tidak terbiasa berbohong, senyum gadis itu memudar.

"Kalau aku cerita, kamu ga marah Nick?" Val menatap wajah Nicky cemas.

"Marah ga yah? Tapi aku cowok mu berhak tau dong.. apa yang dilakukan cewek ku seharian ini jadi stunt girl" Nicky menarik tangan Val menuju sofa.

Akhirnya Val menceritakan pertemuan awal dengan Karel. Nicky terus memperhatikan gadis di depannya yang terus ngomong.

"Sweetz perlu bayar kamu mahal tuh, terus apa lagi?" Nicky tertawa. Dan tawa itu menyadarkan Val, kalo cowoknya lebih terlihat cakep dari cowok manapun.

Val terdiam sebentar. Perlu ga dia cerita bagian Karel mencium dirinya. Semakin Val ingin menutupi perasaanya, dia semakin merasa bersalah.

"Nick.. Karel mencium ku" Val menatap Nicky, ketika kening Nicky berkerut minta dia lebih menjelaskan lagi. Jari Val menyentuh bibirnya.

Nicky meluruskan punggung, wajahnya mendadak kecewa. "Apa bagian itu perlu pakai stunt girl juga?"

"Aku ga bisa menghindar" dan tidak menolak! Ingin dia meneruskan kata-kata itu sebelum dia menggigit bibirnya.

"Aku pulang dulu" Nicky terdiam lagi kemudian beranjak keluar. Val segera mengejarnya.

"Oya besok kamu ikut jaga stan kan?" Nicky berbalik untuk mengingatkan jadwal Val.

"Aku ga bisa Nick.. you know.."

"Ya ya ya.. jadi stunt girl.. " Nicky tersenyum tapi kelihatan terpaksa.

"Aku janji ini akan cepet berakhir begitu Sweetz sembuh"

"Jangan banyak janji Val" tangan Nicky meraup kepala Val di dadanya. Diciumnya kening gadis itu.

Val menatap punggung Nicky yang memasuki BMW hitam. Mobil Nicky mengklakson sebelum menghilang ke jalan raya.


***


Qualifikasi pagi ini berjalan lancar. Meski hasil belum seperti yang diharapkan Karel tetap nampak puas.

Cowok itu memarkir motornya dan keluar menemui Val yang duduk di tribun penonton.

"Hai girl.." Karel duduk di samping Val yang pagi ini memakai topi rajut pink.

Beberapa gadis nampak menatap iri ke arah Val. Val yang menyadari itu jadi maklum kenapa Sweetz bersikeras meminta dia jadi stunt girl.

Karel anak milyuner dan wajahnya cakep, jelas jadi sasaran utama gadis-gadis di kota Brno ini.

Orang tua mana yang ga bangga punya mantu sekaya dan sekeren dia.

Val menatap profile pembalap disampingnya. Hidungnya bagus, sepasang mata dan alis yang menawan dan jangan lupa bibirnya yang hot, sure.. you're know why.

Mengingat begitu hot-nya bibir rider itu, Val tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Wew.. kok diem?" Karel nyenggol bahu cewek di sampingnya.

"Emmhh.. mang kita mau kemana rel?"

"Ikut aku" Karel menarik tangan Val bangun dari duduknya. Mereka berjalan bergandengan menuju belakang pitbox.

Langkah mereka melewati jalan kecil yang sengaja dibuat dari batu yang tertata rapi. Dari jauh warna biru danau buatan itu membentang indah.

Karel duduk diatas rumput, tangannya memeluk kakinya yang ditekuk ke depan.

Val mengambil tempat disamping Karel, rok bunga-bunganya mengembang membungkus lututnya.

"Sweetz..next race akan diadakan di Indianapolis. mau temenin aku selama disana?"

"Aku ada kuliah rel.. enggak tau apa aku bisa gak?" beuuuuhh kalo Sweetz yang ditanya pasti bakal ngomong iya, sorry kelupaan. Val membuang napas.

"Aku berharap kamu bisa nemenin selama aku race di Amrik" dari samping Karel memperhatikan wajah cantik di sampingnya.

Wajah itulah yang sudah beberapa bulan ini selalu menghiasi mimpinya.

Tetapi entah mengapa, sejak siang kemarin dia seolah-olah baru mengenal sosok cewek disampingnya sebagai cewek yang dicarinya selama ini.

Keduanya terus berbicara sesekali mereka tertawa bersama. Bahu mereka kadang saling bersentuhan tidak sengaja.

Panas matahari bulan Agustus lumayan menyengat tapi sepertinya Karel dan Val tidak menyadarinya.

Mereka terlihat bertatapan mata, senyum keduanya lepas.

Meski tanpa saling berbicara berlebihan dengan hanya kontak mata keduanya merasakan kebahagiaan dan saling membutuhkan.


***


Sweetz nampak memandang jendela Hospital dengan hampa.

Val sore ini belum nongol. Dia sudah tidak sabar mendengar laporan adiknya.

"Ayo masuk Nick" terdengar suara mamanya mempersilahkan seseorang di kamar rawatnya.

Senyum Sweetz tersungging melihat cowok adiknya mendekati dirinya.

"Val mana Nick?"

"Aku janjian di depan tapi dia belum nongol juga, aku sms dia untuk masuk dulu melihatmu"

Nicky membawa bunga dan 1 keranjang penuh buah.

"Oooh .. makasih Nick" Sweetz agak kecewa tapi dia berusaha tersenyum.

"Gimana keadaanmu? Masih sakit?" Nicky menatap wajah di depannya prihatin.

"Sorry.." suara di belakangnya kedengaran ngos-ngosan. Val berdiri dengan berkeringat, nampaknya dia habis berlari.

"Val... lama amat kau.. dari mana? Gimana sayang.. ga sabar aku.. gimana Karel?" Sweetz segera membrondong Val dengan pertanyaan.

Val berjalan dan duduk di samping Sweetz, wajahnya tersenyum gugup ke arah Nicky.

"Aku tadi nunggu kamu lama banget Val..." Nicky mengambil air aquah dan diberikan ke ceweknya.

"Sorry.. tadi aku nemenin Karel, dia mengajak aku ke rumahnya dan ngenalin aku ke mamanya"

"Wah iyah?! Yang bener Val.. God bless you!.. Yiihaa akhirnya.. aku bakal ada kesempatan jadi menantu paling kaya! Gimana mamanya Karel? Dia baik kan?!"

Meski sedang sakit, berita yang di bawa Val membuat Sweetz melambung. Karel mengajak adiknya yang saat itu lagi jadi dirinya ke rumahnya booow.

Fufufufu... Lalalala. Ingin rasanya Sweetz menari kalo kakinya ga lagi cedera karena patah.

Val tersenyum. Melihat sistanya tak henti tertawa bahagia membuat dia tersadar. Ya, kamu cuman stunt girl Val. C'mon wake up.. kamu sudah punya Nicky.

Pandangan Val bertemu dengan mata Nicky. Tanpa perlu Val berbicara, cowok itu sudah tau. Dia sudah kehilangan cintanya.

Nicky pamitan pulang. Wajahnya muram, langkahnya cepat-cepat menyusuri lorong Hospital.

Suara di belakangnya yang memanggilnya tidak dihiraukan. Cowok itu menggeleng sedih.

"Nick.. please..berhenti.. enggak seperti yang kamu pikir. Aku masih mencintaimu dan akan tetap mencintaimu"

Val mengejar Nicky berusaha menyentuh tangan cowok itu. Nicky berbalik menatapnya.

Dilihatnya Val menangis, gadis itu menubruknya. Diraihnya tubuh Val kepelukannya.

Nicky tersenyum dan mencium kening Val. "Aku berharap tidak akan pernah kehilanganmu Val"


***


Val menatap langit-langit. Nicky tadi memintanya untuk mengaku pada Karel tentang permainan stunt girl itu besok habis race.

"Seandainya bisa segampang itu" gadis itu mendesah. Air mata mulai merembes keluar dan membasahi rambutnya.

Val bangkit dan mengambil air, beberapa menit kemudian gadis itu sudah bersimpuh dilantai beralaskan karpet bulu berwarna cokelat

Sudah lama dia tidak berdoa sampai menangis seperti yang sedang saat ini dilakukan.

"Tuhan jangan biarkan aku jatuh cinta sama Karel" tangis gadis itu pecah.

"Kumohon.. Tuhan..Jangan biarkan aku jatuh cinta sama Karel..."

"Tuhan .. kumohon jangan biarkan aku melukai orang-orang yang kusayangi..."

Beberapa jam kemudian, tubuh gadis itu sudah dalam posisi tertidur. Air mata Val mengering di pipinya.

Sampai pagi hari gadis itu ternyata tidak berpindah tempat.

Sampai mamanya masuk ke kamar dan memandang heran kenapa putrinya tertidur di lantai.

Wanita itu mengambil selimut tebal. Karena mamanya tidak kuat mengangkat tubuh Val, diselimutinya gadis itu.


***


Sirkuit Brno penuh sesak oleh lautan manusia. Panas di bulan Agustus tidak menghalangi mereka untuk menonton balapan.

Val melindungi matanya dengan telapak tangan. Tangan Nicky masih erat menggenggam tangannya.

"Nick.. aku ga sanggup ngomong sama Karel" Val mulai nerves lagi.

"Harus Val.. semalem kita sudah sepakat, akhiri permainan kalian hari ini!" Nicky menatap kesal ceweknya.

"Tapi ini kejam buat Sweetz"

"Nope... kalau Karel memang mencintai kakakmu, dia ga punya alasan sampe khawatir gitu"

Race berlangsung seru. Terlihat Karel sudah memasuki paddock.

Setelah menanggalkan helmnya, cowok itu mendapat selamat dari papa dan mamanya serta para kru.

Karel berjalan keluar untuk menonton acara di podium. Matanya menangkap sesosok gadis yang dicintai sedang berdiri bingung menatap dirinya.

Cowok itu tersenyum dan menghampiri gadis itu. "Hai.. tadi kemana sebelum race?"

"Aku ada acara mendadak, sebenernya ada yang mau aku sampaiin ke kamu rel"

"Aku juga, ayo ikut aku. Papa dan mamaku tadi nanyain kamu" tangan Karel bergerak menarik tangan Val.

"Rel.. dengarkan aku dulu.. ini penting!" Val diam sebentar ragu, gadis itu melihat ke arah Nicky.

Nicky dari jauh mengangguk dan pandangan cowok itu menyuruh dia berbicara sekarang juga.

"Apa.. sayang?" Karel tersenyum menatap gadis yang ada di depannya.


***


Berakhirlah semuanya...

Sweetz terbaring dengan air mata membasahi pipinya. Val menunduk mencengkram bed cover.

Nicky berdiri di dekat jendela, pandangan cowok itu kaku. Sedangkan Karel berdiri di tengah ruangan ngadep ranjang Sweetz.

"Maafkan aku rel.. Aku yang salah.. Aku yang memaksa Val... Aku terlalu takut kehilanganmu" bibir Sweetz bergetar, butir-butir air mata terus jatuh membasahi bantalnya.

"Wow.." Karel menggelengkan kepala, cowok itu tersenyum pahit.

"Aku juga meminta maaf.." suara Val tercekat menambahi.

"Aku sebenernya sudah ngrasa, walau aku tak yakin" Karel bergumam sedih.

"Bagaimana mungkin Sweetz yang ku kenal riang, ramah berubah pendiem, begitu tenang kadang gugup" cowok itu melanjutkan.

Karel membuang nafas "Sweetz yang akan berteriak senang ketika kuajak menghadiri party berubah lebih memilih menjaga perpus karena ada piket"

Cowok itu tertawa sambil menggeleng. "Tapi hal itu membikin aku penasaran dan apa salahnya sambil jalan menyelidiki keanehan kalian"

"Rel.. sekarang semua udah jelas.. kau bisa balik ke Sweetz dan aku balik ke Nicky" Val menghapus air mata yang sempat menitik di pipinya.

"Maaf.. aku sudah ga bisa lagi" Karel berkata tegas.

Kata-kata Karel membikin Sweetz semakin terisak,gadis itu menutup muka dengan tangannya.

Nicky menahan nafas. Meskipun sudah bisa menebak-nebak, Ini bagian yang sangat ingin dihindari.

'Rel.. please.. kasih sista ku kesempatan. Kami ga ada niat buat mempermainkan mu.. sungguh" Val menatap mata Karel dengan berlinang air mata.

Karel memperhatikan Val dan Sweetz bergantian. Keduanya memang sangat mirip persis dari potongan rambutnya juga.

"Aku ngrasa beberapa hari kemarin adalah saat yang terindah dalam hidupku. Tapi aku harus tau diri, gadis yang benar-benar aku cintai sudah ada yang punya. Aku mundur..."

Karel melihat bahu Val terguncang, gadis itu menangis dan menatap nanar ke arah Sweetz.

Nicky mendesah dan menggeleng sedih, ingin dia berteriak  saat itu juga.

"Maaf.. aku pulang" Karel mengangguk dan berbalik ke arah pintu.

Bunyi sepatunya dilantai bagaikan palu yang menghantam dada Val. Gadis itu melihat sistanya dengan sedih, pipinya basah.

"Apa kau juga mencintainya Val?" Sweetz masih menangis dan menatap adiknya.

Sweetz semakin menggelengkan kepala ketika dia mendapat jawaban dari mata Val yang sudah tertutup air mata.

"Aku harus gimana?" Val bangkit melihat Nicky. Cowok itu menunduk pasrah.

Bunyi sepatu itu sudah menghilang. Val bimbang mencengkram pinggiran bed.

"Follow your heart" dengan tangis Sweetz masih kuat memberi perintah ke adiknya, walaupun hatinya hancur.

Val melangkah mundur. Kemudian gadis itu berlari melewati lorong Hospital.

Tubuh Karel sudah tidak nampak, Val terus berlari menuju parkir mobil.

Karel memasuki Ferarri. Dia menghembuskan nafas berat. Dimasukkannya kunci, derum halus mobil keluar.

Ketika pandangannya melihat ke depan, diluar sana sudah berdiri Val dengan tatapan yang penuh air mata.

"Karel"

Karel menatap Val, matanya bisa membaca gerak bibir disana memanggil namanya.

Val menatap lewat pantulan kaca, garis bibir cowok itu terliat samar-samar.

Betapa selama beberapa hari ini hanya bayangan cowok itulah yang selalu hadir di mimpinya.

Dia tidak menyangka saat-saat mereka saling menatap walau tanpa saling menyentuh itu sudah cukup membikin dia bahagia.

Karel memencet tombol, dan pintu di samping membuka.

Val berlari ke samping, gadis itu menatap Karel lama.

Cowok itu tersenyum tipis dan membuka tangannya. Val menghambur ke pelukan Karel.

Gadis itu menangis di pangkuan Karel. Tangan Karel bergerak membelai rambut Val.

"I'm never gonna leave your side" wajah Karel menunduk di atas wajah Val yang masih berlinang air mata.

Pintu mobil kembali menutup. Perlahan mobil merah itu meninggalkan parkir Hospital dan menembus kepadatan arus lalu lintas di siang hari.

,,(O_O),,

FF The Remaining Of Last Races

MotoGP Fan Fiction

Title : The Remaining Of Last Races
Rating :T
Genre : Romance
Setting : Race Valencia 2010

Disclaimer:
Ini Fan Fic yang lain, bukan bagian dari cerita Races, Love And Death
Tapi pemain masih sama melibatkan Riders MotoGP dan Moto2 serta rider kelas 125 cc
Race di Valencia kemarin super tegang yah, nah idenya dari situ :P


Cast:

Nicky Hayden
Karel Abraham
Val Fairy
Sweetz Ucha
Zi-Flowershine
Deevone Kimzter
Ester Lareina
Jules Cluzel
Marc Marquez
Ben Spies



Supporting :

Casey Stoner
Scott Redding
Andrea Iannone
Julian Simon
Valentino Rossi
Jorge Lorenzo
Dani Pedrosa
Reineenn
Cindy



Valencia 6 Nopember 2010

Angin di sekitar sirkuit Valencia sangat kencang siang ini. Beberapa jam lagi akan diadakan qualifikasi kelas Moto2 sebelum qualifikasi kelas MotoGP dimulai.

Istri-istri Nicky terlihat sedang ngerumpi di paddock, ada dua calon dokter si seksi Ziflowershine dan si bohay Sweetz Ucha yang ngomongin bisnis kesehatan.

"Bu Zi, kalo kita lulus ntar bisnis vaksin rabies yuk... menjanjikan keknya buat masa depan kita"

Sweetz Ucha ngomong sambil jilat-jilat ice cream magnum yang dia palak dari rider kelas 125 cc Marc Marquez.

Kasian tuh rider sekarang sedang nangis guling-guling di pitbox ga rela es-nya diembat Istri Nicky yang sudah terkenal di kalangan rider motoGP sebagai preman.

"Ok juga idenya!" mata Zi kelihatan berbinar-binar cerah, tapi bukan karena ide Sweetz yang tadi dia nilai ok itu.

Zi ngiler melihat lidah istri Nicky yang pertama itu menjilat ice magnumnya, tapi bukan ngiler lidah Sweetz juga tapi karena dia pengen ICE CREAM MAGNUM itu!

"Bagi sizt.." Zi menelan ludah mupeng ke arah Ice cream itu.

"Eleh.. beli gih.. eh.. tuh liet Sekot bawa magnum samber gih" Sweetz yang melihat Scott Redding bawa ice magnum nunjuk-nunjuk.

Scott Redding yang sadar kalo ice cream yang baru dia beli terancam bahaya langsung lari ngejauh.



Photobucket


Ziflowershine yang sudah napsu biar mirip brand ambasador Ice magnum Eva Mendes, langsung ngejar Scott yang pontang-panting melarikan diri.

Zi ngejar  Scott sambil bawa sapu yang entah dari mana sudah berada dalam tangannya.

"Woiiii.. kasihkan es-nya.. woiii.. " Zi sampe angkat roknya tinggi-tinggi saking semangatnya ngejar-ngejar tuh rider yang berusia 17 tahun.

Beberapa rider Moto2 yang sedang siap-siap di paddock bertepuk tangan nyemangatin.

"Ayoooo angkat rok nya! Kurang tinggi!"

"Bruuuuugg" terdengar suara gedebug. Ternyata Zi terjatuh karena high heels-nya nyangkut kabel.

Jeremy Burges dan Paul Denning geleng-geleng kepala melihat Zi ndlosor.

"Ckckckck Istri Nicky itu bener-bener deeh.. berondong sampe dikejar-kejar gitu.. kasian Scott" Burges maen njeplak aja.

"Nicky musti diperingatkan, istri-istrinya sudah mengganggu ketenangan para rider yang masih bau kencur" Denning menambahkan.

Buseeett om-om mekanik dan kepala mekanik MotoGP aja sampe pada heboh gozipin kelakuan istri-istri Nicky.


***



Di pitbox AB Cardion

Manajer Tim Karel Abraham senior sedang diskusi dengan mekaniknya.

"Sudah teratasi problemnya?" Pria paruh baya berkacamata itu mendelik ke arah motor bernomor 17 itu.

"Sedikit lagi Sir" Kru mekanik itu mengangguk ke arah Milyuner dari Brno itu.

"Karel mana ya?" Mr. Abraham melangkah keluar pitbox.


Sementara Abraham senior celingak-celinguk nyari anaknya, ternyata sang Junior sedang tepe-tepe ma istri-istri Nicky.

Val Fairy berdiri bersama Deevone Kimzter ngegozipin F1.

"Kimi mantan ku kapan balik ke F1 yah? Dah kangen banget aku" siang ini Deevone memakai tanktop sekseh.

Julez Cluzel yang sedang senggol-senggolan sama Ester saja sampe nelan ludah. Ester yang melihat hal itu langsung ngamuk nabokin kepala Jules.

"Mana ada harapan sizt, dah lah terima aja" Val ngakak ke arah Karel yang dari tadi gerak-gerak niruin monyet buat narik perhatiannya.

"Napa kamu ketawa geje Val?" Deevone menoleh ke belakang dan dilihatnya Karel sedang bergaya ala sarimin pergi ke pasar.

"Buseeet.. sarap kali tuh rider ..salah makan yah?!" Deevone mengernyit setelah melihat apa yang membuat Val ngakak geje.

Karel senyam-senyum ga jelas mendekati ke 2 istri Nicky yang seksi-seksi itu.

"Hai Val lagi ngapain?"

Asli pertanyaan bego, sudah tau Val sedang nge-gosip masih tanya.

"Kita lagi nyangkul Rel" Deevone nyamber sewot.

"Nyangkul apa nih?" jelas bukan sebuah pertanyaan tapi flirting.

Senyum Karel berhenti ketika melihat Val menaikan alis dan menarik bibirnya serius.

"Dee pinjem Val bentar dong" Karel dah nekat sekalian aja ngomong.

"Ettt.. daahh! Emang Val barang apa?!" suara Dee makin meninggi.

Val berjalan ke arah garis pembatas sirkuit dan paddock. Karel yang melihatnya langsung girang dan mengejarnya.

Sementara Deevone misuh-misuh " Jadi cewek kegatelan amat kau Val, ketahuan abang nyahoo.. lo!"


Angin kencang menggerakan rambut Val yang panjang dan bikin rambut berkibar-kibar hingga saingan sama bendera Spanyol yang di iket di tiang salah satu sudut sirkuit.

"Bentar lagi qualifikasi kan rel.. kok lom siap-siap?" suara Val tenggelam dengan deru angin di sekitar.

"Apaaaaaahh" Karel mendekatkan kupingnya ke bibir Val.

"Masak ga kedengeran?" Val menghentakan kaki kek anak kecil minta dibeliin lolipop.

Karel ngakak dan posisi dia agak menunduk ke wajah Val.

"Adoohhh kamu ngapain rel..? Jangan deket-deket gini, ntar pada salah sangka dikirain kita lagi mesum lagi"

Cowok itu semakin memanfaatkan keadaan, karena mereka saling teriak tidak mendengar suara.

Wajah Karel hanya berjarak beberapa inci saja dari wajah Val. Karel menatap bibir yang bergerak-gerak itu, sebenernya dia tau Val sedang nanya apa.

Berada di dekat wanita yang dicintainya itu membuat dia melayang, hidungnya bisa mencium aroma wangi tubuh di depannya.

Entah sadar apa tidak tangan Karel sudah meraih pinggang Val, keduanya terus berbicara kadang wajah mereka hampir bersentuhan karena ngakak bareng.


***



Karel Abraham senior melihat putranya berada di luar sana, mendesah. "Bagaimana caranya supaya Karel lepas dari istri Nicky itu"

"Jangan terlalu keras sama Karel, kau dulu sudah berusaha memisahkan mereka tapi nyatanya? Karel yang ngejar-ngejar lagi kan?" Carol Abraham menyentuh bahu suaminya.

"Gak bisa dibiarkan! Apalagi Val sudah jadi istri orang, mau anakmu dituduh nglanggar pagar ayu?"

Bahkan di barat aja tau juga istilah pagar ayu -hmpfh-

"Kalo papa dulu ngebiarin Karel nikahin Val kan ga perlu godain dia sebagai istri orang laen" entah mengapa kali ini Mrs.Abraham jadi kesal sama suaminya.

Wanita itu ingat betul, Val melempar uang yang ditawarkan buat kompensasi menjauh dari anaknya di lantai rumahnya dulu.

Mrs. Abraham bahkan tau Karel sudah tidak mau mengenal wanita manapun yang dibawa agar dia bisa melupakan Val.

"Wanita itu ga pantes bersanding ma anak kita Ma!"

"Pantes ga pantes nyatanya Karel cintanya sama tuh anak gimana lagi? Pa, sadar dong.. ga selamanya bibit bebet bobot berlaku di cinta"

Mr.Abraham meraih hapenya. Mrs.Abraham menggeleng pasrah, dia tau suaminya punya banyak cara buat misahin anaknya dan wanita yang dicintai Karel itu.


***



Nicky Hayden membanting hapenya. Deevone yang sedang mematut merias diri sampai terlonjak kaget.

"Val lagi dimana Dee?" wajah Nicky merah menahan amarah.

"Di luar bang" Dee menunjuk jarinya kearah luar dengan gemeter.


Photobucket


Langkah Nicky cepat-cepat, pandangan pria itu menyapu paddock. Di deket pembatas track nampak tangan Karel memeluk pinggang istrinya.

Keduanya saling tatap dan kadang tertawa. Sesekali jari Karel menyelipkan anak rambut yang menutup wajah Val dibelakang telinga wanita itu.

Nicky sudah di dekat keduanya. Karel yang langsung menyadari kedatangan Nicky melepaskan pinggang Val.

Val yang melihat kemarahan suaminya mundur wajahnya nampak ketakutan.

"Ini peringatan buat kamu rel..jauhi istriku!" tangan Nicky mendorong dada Karel. Badan cowok itu membentur beton di belakangnya.

Diseretnya tangan Val secara kasar, Val memprotes "Bang jangan cepet-cepet"

Nicky tidak peduli, dihempaskan tubuh Val di atas sofa setelah tiba di pitbox. "Memalukan! Masih di sirkuit Val,, tega-teganya kalian pamer kemesraan diluar sana!"

"Maaf.." Val tidak sanggup ngomong apa-apa, karena tau dia yang salah.

"Jauhi Karel, Val! Kau istriku, apa kata rider laen!" tangan Nicky melempar ke udara kesal.

Val menangis. Deevone mendekati Val dan ngelus pundaknya "Kamu sih, mau selingkuh berani-beraninya dekat paddock sini"

Tangis Val makin kenceng. Tangisan anak yang digebukin ibu tiri di sinetron-sinetron kalah deh.


Nicky keluar dan dia segera berusaha fokus sama qualifikasi terakhir musim 2010 ini.

Qualifikasi siang ini berlangsung lancar. Lumayan di race terakhir performa Desmo naik.

Nicky ada di posisi ke 5 besok, dia bakal mulai balapan di pole 5 di belakang Valentino Rossi.


Nasib Karel di qualifikasi Moto2 buruk dia harus mulai balapan di posisi 11.

Karel menyambar tas dan helm, langsung saja cowok itu menuju container dan mengunci diri disana.

Mrs. Abraham menatap suaminya menyalahkan.

"Aku hanya ingin yang terbaik buat putra kita" Mr. Abraham membetulkan kacamatanya.


***



7 Nopember 2010 Autodrome Comunitat Valenciana Circuit.

Balapan kelas 125 cc berlangsung seru.

Marc Marquez berhasil naik podium dah mengukuhkan diri jadi World Champion di kelas capung.


Photobucket


Ester loncat-loncat dari bawah dan teriak-teriak "Marc!!! Aku padamuh!"

"Baaaahh mulai berpaling kau ter..." Jules merengut cemberut sampe bibirnya berkerut.

"Aaahh bentar ini! Aku mau photo-photo sama Marc" Ester ngacir ninggalin Jules yang masi bete.

Ketika Marc turun dan mau bergabung sama kru yang akan merayakan titelnya, Ester sudah narik tangan cowok itu.

"Marc photo yah!" Ester megang ponselnya dan ndeketin pipi ke muka Marc sambil action.

"Kok cuman photo doang, kissnya mana?" Marc mendekatkan pipi ke depan bibir Ester.

"Ikhh malu disini ntar diliet orang lagi" gadis itu menggeleng, nolak permintaan Marc.

"Bentar aja ter.. pan juara, mosok dianggurin" tangan Marc menepuk-nepuk pipinya minta dikiss Ester.

"Ya udah merem dulu, pan grogi kalo dilietin"

Marc memejamkan matanya, cowok itu deg-degan.. maklum dia seumur-umur belum boleh ciuman ma emaknya.

Ester melepaskan sandal jepit bolong dari kakinya, dengan seenak jitad ditempelkannya tuh sandal ke pipi Marc.

"Udah Marc, eh aku pergi dulu daaahh" Ester langsung ngabur sambil dadah-dadah.

Marc tersenyum senang sambil tangannya menyentuh pipi yang tadi dicium Ester.

Hatinya girang bukan main biarpun tadi ngrasa aneh kok bibir Ester yang  nempel di pipinya lengket dan panas.

"Kok kek saus?" Marc ngomong sendiri melihat di telapak tangannya ada noda merah seperti ada campuran cabai.


***



Kelas Moto2 di race terakhir ini juga berjalan tak kalah sengit. Andrea Iannone yang berusaha menjadi runner up segera leading.

Di sepuluh lap awal Julian Simon berusaha mengejar, sedang Karel Abraham mulai meringsek naik ke posisi 7.

Kurang 7 lap Karel sudah membuntuti Scott Redding di posisi 5 dan tak lama kemudian berhasil overtake rider Britis itu.

Sekarang posisi 1 diperebutkan Andrea, Simon, Elias dan Karel.




Di pitbox Ducati no 69

Dari tempatnya menonton tanpa sadar Val sudah loncat-loncat diatas sofa nyemangatin, suaranya ribut memberi dukungan ke rider bernomor motor 17 itu.

Deevone yang sadar nabok pantat Val " Woiii sadar neng.. ada abang nglietin tuh"

Wajah Nicky kaku melotot ke arah istri-istri Nicky yang mala heboh sendiri menonton layar tipi tanpa mempedulikan suaminya.

Sweetz Ucha menghampiri suaminya " Adoohh abang kalo lagi cemberut jadi ganteng gitu kek Sule prikitiw, pangling saiah"

"Sule? Baaahh musti periksa mata kau Cha.. kek gitu dibilang ganteng" Zi dari belakang dah nyamber.

"Kalian seneng ga sih sebenernya jadi istri-istriku?" Nicky mendadak melow dan berkaca-kaca.

Belum sempet Ucha Sweetz dan Zi menjawab, padahal mulut mereka berdua dah nganga lebar.

Mendadak pitbox dipenuhi jeritan Val yang histeris melihat Karel berhasil overtake Andrea dan Julian Simon.

Di race Moto2 Valencia ini Karel berhasil juara dan untuk pertama kali dalam kariernya ngeraih podium 1!

Deevone ikut loncat-loncat berpelukan dengan Val ngerayain Karel yang juara.

"Vaaaaaaall selingkuhanmu juara!" Zi yang ikut menghambur memeluk Val dan Dee menjerit.

"Uuupppsss" Zi sadar dan menutup mulutnya dengan tangan, biarpun sangat telat.

Nicky mendengar jelas, meskipun dia tau gosip itu sudah lama dan kemarin sebelum qualifikasi memergoki keduanya.

Tapi mendengar istri lainnya seolah-olah mendukung tak ayal membuat dia sakit hati, Nicky segera keluar meninggalkan pitbox.

"Kamu paling bisa bikin suasana kacau" Sweetz nabok kepala Zi.

"Jiaaaahh aku kan ga nyadar, sorry.. Sakit tau.. Naboknya niat banget!" Zi gantian nabok kepala Sweetz.

"Stoooooopp ibu-ibu, abang gimana nih?" Deevone berdiri diantara mereka menengahi.

"Aku akan susul abang!" Val berlari keluar menyusul Nicky.

Nicky berdiri di pembatas sirkuit, melihat beberapa rider Moto2 melakukan winning lap.

Tatapan matanya memperhatikan ke arah motor bernomor 17, Karel menggerak-gerakan tinjunya dengan senang.

Scott Redding, Andera Iannone dan beberapa rider laen memberi selamat dan menepuk bahu cowok itu.

"Bang.. aku ga tau aku harus minta maaf gimana.. Aku ga ada maksud.." Val sudah berdiri disamping Nicky dan tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

"Aku pikir kau sudah melupakannya Val" Nicky menggeleng pahit. Pria itu menundukan kepala dan tangannya berpegangan pada tiang beton.

"Aku selalu mencoba bang... aku minta maaf sungguh.. aku akan berusaha melupakan dia" Val menangis, perasaannya sakit melihat mata Nicky yang juga terluka.

Val sendiri tidak yakin apa dia bakal bisa menjauh dari pesona Karel.

"Apa kau mencintaku? Aku sungguh tidak ingin kehilangan satu pun dari kalian"

Val memeluk Nicky dan menangis di dada rider asa US itu, tangan Nicky bergerak memeluk pinggang istrinya.


Photobucket


Karel, Andrea dan Julian naik Podium, gemuruh tepuk tangan memenuhi sirkuit.

Sepasang mata rider dari Ceska itu menyapu wajah kru dan penonton di bawahnya, dilihatnya Papanya yaitu Mr.Abraham mengacungkan dua jempol kepadanya.

Mamanya juga mencium dari jauh, senyum Karel mengembang dan dia menarik napas senang kebahagiaanya membuncah siang itu.

Karel mengangkat tinggi piala berbentuk lion bersayap, senyumnya mendadak hilang. Dari jauh dilihatnya tangan Nicky membelai pipi Val.

Rider Amrik itu mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Karel memejamkan mata.

Ketika tangan Andrea menyentuhnya memberi tanda untuk berpose bareng, Karel terpaksa tersenyum.

Sebelum turun pandangan Karel masih menangkap pemandangan di dekat track, kepala Nicky masih menutupi wajah Val.


***



Nicky duduk di atas motornya. Zi yang membawa payung menebar senyum ke semua rider di sekelilingnya.

Deevone mendekat "Zi gantian! Sonoh kamu urus yang lain"

"Beuuhh nanggung, ini bentar lagi mau warm up lap" Zi mencengkram gagang payung yang berusaha direbut Dee.

"Berikan woiiii!" Dee berhasil menyambar payung dari tangan Zi.

"Sayangku semua kenapa jadi rebutan?!" biarpun kedengaran protes tapi dari suara Nicky kelihatan rider itu bangga dikelilingi wanita yang seksi-seksi.

Zi ngomel-ngomel melangkah ke paddock, kesalnya semakin bertambah melihat Jorge Lorenzo dipayungi Reineenn.

Melihat ke arah Danie Pedrosa siapa tau ada lowongan UG, nampak Cindy menebar senyum bangga memayungi rider yang sudah lama jadi favoritnya itu.

"Sial amat aku siang ini, dah ga ada lowongan sama sekali" Zi duduk di pitbox cemberut. Pandangannya mencari Sweetz Ucha dan Val akan tetapi keduanya tidak nampak.

Kru MotoGP masih memeriksa kesiapan motor untuk race.

Sweetz Ucha mendekati sesosok pria tinggi besar yang duduk di atas motor warna hitam dan kuning.

"Kamu sudah ga papa Ben?" wanita itu tersenyum menghampiri Ben Spies.

"Aku sudah siap Cha, makasih yah dah sempet mau nyapa aku" Ben menatap wajah istri pertama Nicky itu sambil tersenyum senang.

"Good luck" Sweetz menjauh, sebelum menghilang wanita muda itu berpaling dan melempar senyum ke arah Ben.

Senyum Sweetz semakin membuat Ben bersemangat, dia sudah tidak sabar memacu tunggangannya di track.

Beberapa menit kemudian setelah lampu hijau dinyalakan tanda dimulainya start, motor-motor berkekuatan mesin 800 cc itu bak anak panah meluncur cepat di atas track.

Corner awal dilaluinya dengan mulus semua motor selamat ga ada yang ndlosor.

Nicky berhasil mengikuti Casey Stoner yang leading di depan. Ke empat istrinya berteriak-teriak di pitbox.

"Abang hebat! Ayo podium... last race di taun 2010 ini!" Sweetz mengepalkan tinju ke atas.

Ketika kamera tipi memperlihatkan persaingan Marco Simoncelli dan Jorge Lorenzo, kru Ducati berteriak kecewa.

"Eh ada apa ini?" Zi melangkah keluar.

Kamera tivi memperlihatkan Nicky yang jatuh di atas gravel. Sweetz, Val dan Dee berteriak kecewa.

"Aduuuuhh tadi udah dibelakang Stu napa ndlosor seeehh" Deevone berteriak panjang, tangannya memukul-mukul kursi.

Val dan Sweetz Ucha berlari keluar menyambut suaminya.

"Abang ga papa kan?" wajah Val cemas dan lengannya menyentuh bahu Nicky.

"Kalian semua keluar dulu ok! Aku ingin sendiri" Nicky menggelengkan kepala, wajahnya nampak kecewa sekali.

"Ini pasti gara-gara kamu Val" Deevone memandang galak ke arah Val.

"Enggak.. aku tadi sama abang udah baikan, tadi udah ga ada masalah" Val sudah siap-siap mewek karena disalahin gitu.

"Bisa aja abang maksain diri tadi berusaha nyusul Stoner, dia ingin juara 1 ga mau kalah sama Karel" Zi menyilangkan tangan di dada menambahi kata-kata Dee.

"Tapi semua rider juga ingin podium kalik, udahlah kita hibur abang" Sweetz melangkah ke dalam pitbox.

Dee dan Zi melangkah ke dalam menyusul Sweetz. Ketika Val berjalan hendak masuk pitbox sepasang tangan menariknya menjauh.


***



Karel menarik tangan Val, langkahnya cepat melewati deretan pitbox tim MotoGP.

"Mau kemana rel? Aduuhh jangan tarik-tarik gini" wanita itu berusaha melepaskan diri.

Val gelisah ketika langkah mereka menuju deretan container, tangan Karel membuka pintu containernya. Ditariknya tangan Val masuk.

"Aku dari tadi nunggu kamu Val, tadi itu podium juara pertama ku dan kamu ga datang sekedar ngucapin selamat ma aku?"

"Kamu ga ada hak buat meminta aku melakukan itu rel, sorry aku harus balik apalagi abang barusan jatuh"

Val berjalan ke arah pintu, tapi tangan Karel menyambar pinggangnya.

Karel menahan tubuh wanita itu dan membalikan Val membelakangi pintu container.

"Nicky sudah banyak yang ngurus" tangan Karel meraih dagu Val, kepalanya menunduk.

"Jangan rel.. please.."Val mendorong tubuh Karel, cowok itu terjatuh di sofa.

Val menggeleng marah ke arah cowok itu dan melesat keluar membanting pintu.

Langkah wanita itu cepat menuju paddock Ducati. Ketika sampai di pitbox sepi, tidak ada Nicky dan ketiga istrinya yang lain.

Balapan MotoGP sudah selesai, nampak di atas podium Jorge Lorenzo, Casey Stoner dan Valentino Rossi dengan tshirt kuning bertuliskan 'bye bye baby' tertawa.


Photobucket


Sirkuit Valencia dengan penonton tak kurang dari 80.000 itu bergemuruh ramai.

Musim ini sudah menghasilkan 3 juara di kelas yang berbeda dengan semua rider dari Spanyol.

Bunyi hape mengagetkan Val. wanita itu meraih hapenya, ada sms masuk.

"Besok akan ku urus perceraian qta, semua sudah jelas"

Val melongo kaget. Bagaimana mungkin Nicky bisa memutuskan perceraian gitu aja. batinnya.

Dipencetnya nomor suaminya, tapi nada sibuk yang ada. Val memutuskan menghubungi istri-istri yang lain.

Nomor Zi dan Sweetz sibuk juga, terakhir nomor Deevone berhasil masuk. "Dee abang dimana?"

"Ooo masih inget abang kamu Val? Gimana tadi sama Karel, kalian ngrayain berdua di container kan?"

Suara Dee dari seberang bertanya sinis.

"What?! Aku ga kesana" Val tidak sadar kebohongan kali ini akan semakin membuat Nicky tambah yakin untuk mencerenya.

"Bhuahahaha masih ngeles kamu, ada salah satu kru Ducati yang ngliet kalian hanya berdua masuk container AB Cardion..

Kita tadi nyari kamu akan ngajak pulang, ckckckck.. but the way abang denger kata-kata mu barusan!"

Klik. Dee memutuskan sambungan.

"Aku ga ngapa-ngapain ma Karel tadi!" Val berguman, harusnya tadi dia menjawab memang dia ke container Karel dan menjelaskan kalo mereka ga ngapa-ngapain.

Mengingat sms tadi, mendadak Val sakit perut tubuhnya lemas. Langkah kakinya dirasa semakin berat, pandangan Val semakin kabur.

Sebelum benar-benar terjatuh tubuhnya diraih tangan yang sangat dikenalnya. Karel menyandarkan Val didadanya.

"Sedang apa kamu disini?!" Nicky tiba-tiba nongol dari luar pitbox Ducati menghampiri Karel dan berusaha menyeret cowok itu keluar.

Tubuh Val terjatuh menabrak sofa, Karel melepaskan diri dari tangan Nicky dan meraih tubuh wanita itu lagi "Vaaaaal.."

"Romantisnya kalian berdua?! Aku bukan orang bego yang mau-maunya ditipu kalian terus"

Nicky mendekati lemari kecil diambilnya kunci mobil yang ketinggalan tadi.

"Kau bahkan tidak menanyakan keadaan istrimu Nick?!" Karel bersuara sambil membobong tubuh Val dan mendudukannya di sofa.

"Kau urus saja!" langkah Nicky cepat-cepat menuju parkir mobil.

Karel mengelus bahu Val yang bergerak-gerak karena menangis.

"Sorry.." entah mengapa Karel bergumam, dan nampak cowok itu tersenyum walau agak samar.

Nicky menstarter mobilnya. Perlahan BMW hitam itu berjalan meninggalkan sirkuit menuju hotel.

Wajah Nicky kaku menatap lurus, tekadnya sudah bulat. Val sudah mempermalukan dirinya dengan masih mempertahankan rider Moto2 itu.

Lagu menye-menye punya One Republic seakan mewakili perasaanya. Lagu itu mengalun kenceng di mobilnya.

You tell me that you need me
Then you go and cut me down, but wait...
You tell me that you're sorry
Didn't think I'd turn around and say..

That it's too late to apologize, it's too late
I said it's too late to apologize, it's too late

I'd take another chance, take a fall, take a shot for you
And I need you like a heart needs a beat
But that's nothing new

I loved you with a fire red, now it's turning blue
And you say
Sorry like the Angel Heaven let me think was you,
But I'm afraid

It's too late to apologize, it's too late
I said it's too late to apologize, it's too late.

,,(O_O),,