Sabtu, 20 November 2010

FF Lupa - Lupa Ingat

MotoGP Fan Fiction - One Shoot

Title : Forget Me Not ( Lupa-Lupa Ingat )
Genre : Gak jelas
Rating :T
Disclaimer:
FF buat Sistah Sweetz aka Ucha aka Kuchang ma yg laen daah as piguran :D
Enjoy...

Cast:

Nicky Hayden
Ben Spies
Sweetz Ucha
Reinen
Esther
Zi
Deevone
Mince



"Neen aku bumbu kacangnya dikit aja" Sweetz Ucha berteriak pada temannya yang sedang mengantri batagor.

"Iyaaaaaah.. eeeeer aku dah parises berdiri kamu enak-enak maen nitip aja!" Reinen misuh-misuh gak jelas.

Setelah berabad-abad nunggu sampe rambutnya ada sarangnya lengkap dengan burung nangkring di atas kepalanya, gadis itu menghampiri meja meletakan batagor.

"Ihhh aku kan minta batagor bumbunya dikit" Sweetz Ucha masih protes.

"Aku dah ngomong cha.. dah lah kalo enggak mau buat aku semua" Reinen mulai memakan dengan cepat sepertinya cewek itu kelaparan.

"Apa tuuh?" Sweetz Ucha menghentikan menyendok batagornya.

Suasana kantin sangat ramai dengan jeritan teman-teman sekampusnya. Cewek-cewek di dekat meja Ucha sibuk rebutan baca majalah yang dibawa Deevone.

"Gilak ganteng bangeeet si Nicky, aku mau liet free practice-nya ahh" Ester berdecak kagum, tangannya mengelus photo Nicky di majalah itu kek ngelus orangnya langsung tuh.

"Liet dong" Ucha sudah nyamber majalah itu.

"Woiii sopan napa?!" Deevone melirik sinis ke arah Ucha.

"Aaaaaaaaaahh jangan sampai ketinggalan jemput ayang di airport! I miss you Nicky" gayanya sok kenal dan membikin gerombolan Deevone memandang sengit.

"Chaaa.. jangan norak deeeh.. Bu Asdos tahan diri napa? Di depan anak-anak lain buu.." Reinen mengingatkan.

Ucha tersenyum dengan gaya cool, tangannya menyapu rambutnya yang panjang berkilau. Dikembalikannya majalah ke geng Deevone dengan gaya dibuat seanggun mungkin.

Gadis itu sudah lupa sama batagor pesanannya yang sudah susah-susah diperjuangkan oleh Reinen. Sekaranga Ucha enak saja berjalan menuju ruangannya.

"Woiii.. mau kemana? Abisin dulu!" Reinen berteriak kesal. Akan tetapi dia akhirnya menyambar piring batagor punya Ucha dan menghabiskannya.


***


Ucha berdiri di belakang pembatas yang dipasang pihak bandara. Dia tidak sendirian karena pagi itu banyak gadis-gadis yang lain menunggu Rider MotoGP mendarat.

Satu persatu para rider MotoGP menampakan batang idungnya. Mulai dari Valentino Rossi, Danie Pedrosa sampe Jorge Lorenzo.

Mata Ucha mencari sosok yang ditunggunya dari tadi. "Nicky mana sih? Aaaaaah ga sabar pengen liet"

Begitu melihat cowok dengan hem pendek merah bertuliskan Ducati lengkap dengan topi nongol di pintu, ponselnya dia arahkan ke rider cakep itu.

"Nicky look at here.. please Nicky.. over here!" Ucha meloncat-loncat dengan tangan dadah-dadah ke atas kek Miss Lampung kesasar.

"Oiiiiiiii cowok liet dimari oiii.. godain kita dong.." baaaaaahh sekarang Ucha dengan gaya norak kek mbak-mbak penjual jamu genit menarik-narik tangan Nicky.

Biar norak kata-kata Ucha sempet membuat Nicky menatap cewek itu dengan berkerut dan membatin "Cantik nih cewek tapi agak norak" -hmpfh-

"Please minta tanda tangan.. di mana aja terserah" Ucha menatap mata Rider dari USA itu memohon, tapi karena gayanya najong Nicky mengeleng-geleng kepala dan ketawa.

"Ikkhhhh minta tanda tangan aja pelit!" tangan gadis itu meraih sandalnya dan dilemparkannya ke kepala rider itu dari belakang.

Gotcha! Kena! Sukses cha! Kamu berbakat jadi atlet lempar sandal, congratz!



"Siapa yang melempar aku sembarangan?!" Nicky berteriak kaget dan security yang mengiringinya bergerak mencari siapa yang sudah dengan kurang ajar maen lempar-lempar.

Mata bagus Nicky menangkap salah satu kaki yang telanjang tanpa alas kaki. Dilihatnya gadis itu salah tingkah wajahnya memerah nahan malu apa takut? Entahlah.

Security menarik tangan Ucha berniat mengamankannya tapi Nicky memberi isyarat tertentu. Beberapa security mengangguk dan melepaskan tangan Ucha.

"Maaf.. aku pens berat mu sungguh.. aku kan mau minta tanda tangan aja eh satu lagi kalo boleh foto bareng" Ucha berbicara lemah ketika Nicky sudah berdiri di depannya.

"Terus kalo di tolak make cara anarkis gitu?" Nicky menatap mata gadis cantik yang saat itu memakai rok kuning ceplok-ceplok ijo dengan atasan blouse merah ngejreng.

"Heheheh.. kalo kepepet sih.." tawa Ucha malu-malu, tangannya melintir-lintir tali tasnya sampe melintir kasihan tali tasnya jadi pelampiasan.

"Kalo gitu kamu musti belajar menerima penolakan" kata-kata Nicky terdengar tegas, cowok itu berjalan cepat dan segera digiring masuk mobil penjemput oleh para security.

"Eeeeerrr.. sombong! Lo pikir lo rider Amrik paling kece!" Ucha menendang sandal satunya lagi karena tadi yang buat lempar kepala Nicky sudah ngabur entah kemana.


Gadis itu berjalan lesu, padahal dia pagi-pagi bela-belain ga sarapan buat menunggu rider kesayangannya itu.

Di kampus dia boleh lah jadi asisten dosen yang dikagumi cowok-cowok tapi disini dia jadi kek anak ilang, mana kaki udah kek gembel gak pake sandal.

"Gaya gypsi keren juga'" seorang cowok tinggi berkepala agak gundul dikit tersenyum. Tatapan cowok itu ramah.

"Ga usah ngejek kalik.. mas.." Ucha berjalan keluar bandara hendak mencegat taxi.

Dia agak kaget ketika cowok setengah gundul itu digiring ke mobil mewah oleh para security berjaket Yamaha.

"Emang dia rider juga? OMG dia kan.. dia kan.. BEN SPIES!" tangannya nabok jitadnya berkali-kali.

"Aduuuhh napa aku bisa lupa?! Padahal tadi dia nyapa aku! Nyapa Aku!" Ucha menggelengkan kepala kesal, tanda tangan Nicky gak dia dapet boro-boro photo bareng.

Terus tadi Ben Spies rider Amrik yang cakep dah nyapa mala dijudesin.


***


Ben Spies masuk pitbox sepertinya ada kerusakan ato settingan yang salah. Cowok bertinggi 177 centi itu berjalan keluar dan membiarkan kru benerin tuh motor.

Mata rider ganteng itu tertuju pada gadis berbaju kuning ceplok-ceplok ungu yang sedang meleng nyari seseorang.

Sepertinya cewek ini memang suka make baju motip ceplok-ceplok kek pas dia bertemu di airport tadi pagi.

Ben berdiri tepat di depan Ucha dan berharap ditabrak gadis itu. Tapi entah karena rem tubuhnya yang pakem or apa gadis itu langsung mandeg.Ciiiiiiiiit.

"Haiii..napa berhenti? Dah siap-siap ditabrak lho" Ben nyengir, senyumnya kek di iklan relaxa keluar bunga-bunga tujuh rupa.

"Adoooh mas, aku nabrak juga pilih-pilih kalik.. ikhh ganjen" Ucha balik kanan dan berjalan cepat-cepat. Tapi mendadak dia mengerem lebih ugal-ugalan.

Tubuhnya sampai terdorong ke depan. Nih cewek pake motor apa kaki sih -_-a

"Itu kan Ben Spies! Adooohh napa bisa aku lupa.. aaaaaaaarrgg lupa lagi ma wajahnya?!" gadis itu tidak berhenti nabokin kepala nyesel.



Dari kejauhan Nicky memarkir Ducatinya. Cowok itu geleng-geleng kepala sepertinya kesel.

"Sirkuit macem apa ini?! Aneh, masak ada paku di aspal?!" Nicky tak habis pikir balapan pertama di Indonesia akan mengalami nasib sial, kebanan kek gitu.

Dia mikir untung di sirkuit coba kalau di jalan sendirian, malem-malem lagi belum kalo ada mbak kunti ngegodain ga kebayang deeeh.

"Itu biasa mas, biar kamu nambal ban di situ?" Mince salah satu mekanik mesem-mesem nyamber.

"Ntar liet aja, aku demo tuh yang punya sirkuit seenaknya aja ngebiarin tukang tambal ban berkeliaran di sekitar sirkuit."

"Yang dingin  yang dingin, aquah-aquah, tisu mas" seseorang cowok gundul bawa kotak dagangan nyolek-nyolek  tangan Nicky Hayden.

"What?! Apalagi ini? No thx" Nicky berjalan menjauh ke arah pembatas track melihat monitor yang di pelototin para kru.

"Mas beli dong.. ada rokok mas bisa nglencer mas.. mau satu lencer apa dua lencer boleh" tukang asongan itu masin mengikuti Nicky dari belakang.

"Tawarin ke yang lain aja ok?!" Nicky berniat masuk pitbox lagi tapi tanpa sengaja dia nabrak seseorang karena tadi buru-buru melangkah.

"Adoooohh" Ucha memegang bahunya yang terkena tubuh Nicky, gadis itu sepertinya kesakitan. Tapi ketika menyadari sapa cowok yang menabraknya Ucha semaput dengan sukses.

"Woiii.. aduuhh napa semaput di sini?!" Nicky menepuk-nepuk pipi Ucha yang tubuhnya ada di pangkuan dia.

"Mas aquah apa tisu, ada minyak nyong-nyong juga bisa bikin dia sadar lho" Pengasong itu masih dengan setia tidak beranjak mengikuti Nicky.

"Shut up.. ganggu aja!" Nicky rupanya sudah tidak sabar ngadepin pengasong yang kek kutil bandel gak mau pergi.

"Whalah mas.. kalo ga mau ya udah.. bule kere!" pengasong itu berbalik arah dan mengejar Valentino Rossi yang saat itu melintas di depannya.



Nicky terpaksa membopong tubuh Ucha ke pitbox. "Guys ada cewek semaput gimana nih?!"

"Ya kasih napas buatan lah" mekanik botak bernama Mince itu senyum mupeng dan mendekati Nicky.

"Well.. kamu yang akan ngasih?" Nicky menaikan alis dan tersenyum dia bergerak bangun memberi tempat buat Mince.

"Ikhh ogah! Napa gak kamu aja Nick?" Ucha bangun dari sofa dan memegang tangan Nicky. Lupa dia kalau tadi lagi pura-pura pingsan -_-a

"Kamu?!!" Nicky rupanya baru inget wajah Ucha, ya gadis itulah yang tadi pagi nglempar sandal ke kepalanya.

Nicky meminta para kru untuk membawa gadis itu keluar. Ucha meronta-ronta berusaha melepaskan diri.

Cowok Amrik bermata indah itu terus memperhatikan gadis itu yang setengah diseret menjauh oleh salah satu kru bertubuh gede.

Dia tidak bermaksud kasar sebenernya, tapi ada hal lain dari gadis itu yang mengingatkan dia pada seseorang dimasa lalunya yang ingin dia lupakan.

"Dasar bule nyebelin!" Ucha menutup mukanya dan berdiri dipinggir jalan menangis. Tubuhnya terlonjak kaget ketika ada suara klakson mobil terdengar begitu dekat.

Seraut wajah ganteng nongol dari jendela dan tersenyum. Cowok itu berkacamata hitam rambutnya dispike.

"Mau ikut naik? Aku anterin kamu pulang" ajak cowok itu ramah.

Ucha masih bengong menatap pengendara itu. Dipikirnya dia cewek apaan seenaknya aja tuh cowok gak kenal ngajak naik mobilnya.

"Eeehh mas , aku bukan cewek gampangan yah.. hush hush.." Ucha mengibaskan tangannya kek ngusir ayam tetangga yang sering makan bunga di terasnya.

"So what.." Cowok itu beringsut dan menjalankan mobilnya kembali meninggalkan Ucha di pinggir jalan.

"Wekkzz itu kan Ben Spies.. adoohh masak aku lupa lagi.. ckckck" Ucha tidak habis pikir dalam 1 hari bisa lupa ma orang sampe 3 kali -_-"


***


Ucha menaiki eskalator di mall paling megah yang menyatu dengan hotel terkenal di daerahnya. Malem hari mall itu terlihat ramai.

"Ssstt pssstt sini!" suara di belakangnya memaksa dia berbalik. Terlihat cowok ganteng tersenyum ke arahnya melambai dari food counter tak jauh dari dia berdiri.

"Sape lo?" Ucha sinis dan melengos berjalan cepat-cepat dan bergerak di antara gantungan baju. Langkahnya terhenti mendadak, secepat kilat dia berlari ketempat tadi.

"Adoohh aku amnesia apa yah? Naseeb.. naseeb.. dia tadi kan Ben Spies.. napa ingetnya telat sih?" gadis itu meratap dan nabokin kepalanya lagi.

"Haii" seorang cowok bertopi Ducati sudah berdiri di depannya dengan tatapan ramah.

Mata Ucha melotot tidak percaya melihat siapa yang menyapa. Bagaimana mungkin dia yang kek sombong gitu mendadak mau beramah tamah ma dia.

Tangannya sudah nabokin mukanya sendiri. Nicky mengernyit heran dengan gadis di depannya yang kelihatan tidak waras.

"Are you ok?" kembali Nicky mengeluarkan suara, kali ini terdengar cemas.

"Im fine .. fiuuhh hehehe" senyuman najong mengembang dari wajah Ucha yang mulus.

"Mau nemenin aku makan ? Yuukk" Nicky sudah berjalan masuk food court dan menyambar buku menu.

Gadis itu asli kek kambing congek bengong gak percaya apa yang barusan dia dengar, Nicky mengajak dia makan bareng!.. Ulalala.

Setelah tersadar Ucha langsung melesat masuk dan ngambil tempat duduk di depan Nicky. Kembali cewek itu berusaha memberikan senyum paling muanis biarpun yang keluar asem.

"Kamu mau pesen apa?" Nicky memberikan buku menu ke hadapan gadis itu.

"Aku ayam pangang 1 ekor aja, nasi sebakul, ma es teh satu poci gede udah.. maklum saya udah kenyang"

"Ooo well.. " Nicky untuk kesekian kali dibuat takjub dengan Ucha, ajaib bener nih cewek. Batinnya.

Begitu pesananan datang gadis itu langsung nyamber ayam dan nasinya.

Nicky bisa melihat nasi di atas piring Ucha udah ngalah-ngalahin puncak gunung Himalaya tinggal ditancepin bendera aja tuh dah mirip.

Singkat cerita mereka berbicara di sela-sela makan dan mereka tambah akrab. Sehabis makan dan bener-bener makanan mereka habis-habisan mereka memutuskan berkeliling mall.

Ternyata Nicky orangnya asik. Itu yang ditangkap oleh Ucha sehabis mereka ngalor ngidul balik ngulon ngobrol kesana kemari tiada habis-habis.

"Aku anterin kamu pulang" Nicky melangkah ke tempat parkir diikuti Ucha.

"Ok.. tau jalan putih-putih melati no.69 gak?" Ucha sudah berbunga-bunga kapan lagi dia dianter pake mobil super mewah.

"Gampang ntar tinggal nanya-nanya" jawab Nicky enteng. Mereka melewati deretan mobil mewah.

Ucha berpikir pasti pembalap kek Nicky mobilnya kalau tidak Ferarri ya Mercy keluaran terbaru walau itu nyewa. Mana mau coba rider sekaya dia nyewa mobil murahan.

Akan tetapi langkah mereka semakin jauh dan tidak berhenti di deretan mobil mewah. Nicky berhenti di deretan motor dan mencari uang untuk bayar parkir.

Ucha melongo parah ketika Nicky menarik skuter butut berwarna ijo telor bebek yang udah kusam.

"Nick.. kamu Nicky rider MotoGP kan?" Ucha menelan ludah. Dia sudah mikir jangan-jangan yang ngajak makan barusan Nicky KW 3 alias Nicky abal-abal.

"Sure.. ayo naik" Nicky memberikan uang receh ke tukang parkir. Akhirnya dengan sangat.. sangat terpaksa Ucha naik ke atas jok skuter butut itu.

"Aku nyewa motor antik ini cha.. keren yah.. di Amrik ga ada yang seperti ini!" Nicky mulai menstarter motornya.

Tangan Ucha kaku memegang bagian belakang jok skuter. Ingin dia nangis, malem-malem dingin harus naek motor.

"Cha pegangan dong" tangan Nicky meraih tangan gadis itu dan ditaruhnya di pinggangnya.

Perlahan skuter butut itu berjalan dan bergabung dengan ratusan motor lain di jalan raya. Tangan gadis itu berusaha menahan roknya dari serbuan angin.

Dia tidak mau begitu aja memberikan pemandangan gratis pada cowok-cowok yang nongkrong di pinggir jalan raya.

Aroma tubuh Nicky dapat dia cium dari jarak dekat. Tangannya yang melingkar di pinggang rider Amrik itu semakin erat.

Ucha dapat merasakan setiap helaan napas dari Nicky lewat tangannya. Perut rider itu bergerak halus, dirasakannya otot perut itu kencang dan kokoh.

Aku gak bakal nyesel lagi malem ini dibonceng motor butut ini. Teriak Ucha dalam hati.

Dia sudah merasakan sensasi yang berbeda dari perjalanan malam ini dengan rider paporitnya. Gadis itu bersandar di punggung Nicky.

Motor butut itu semakin bergerak perlahan kemudian berhenti. Nicky merasakan kepala gadis itu begitu berat bersandar di punggungnya.

"Cha.. bangun dah nyampe" Nicky melepas helm dan menyentuh bahu Ucha yang ada di belakangnya.

Ucha tersentak bangun dan mengelap bibirnya takut ileran. Rupanya dia tertidur di punggung Nicky.

Tangan Nicky membantu Ucha turun dari motornya. Mereka berdua sudah hadap-hadapan di teras.

Nicky menatap gadis di depannya. Penerangan malam itu mayan membatu melihat mata Ucha yang terlihat berbinar-binar dan tersenyum.

"Cha.." tangan Nicky menarik tubuh gadis itu dalam rengkuhan lengannya. Diciumnya gadis itu perlahan.

"Sorry.. hanya tadi ketika turun itu satu-satunya hal yang ingin kulakukan ke kamu" Nicky menjauhkan wajahnya.

"Ga papa Nick" bibir Ucha berdecak dan berusaha lagi merasakan aroma mint yang sempat dikecapnya tadi.

"Aku pulang dulu" Nicky berjalan mundur akan tetapi satu menit kemudian dia berlari ke arah Ucha dan memegang dagu cewek itu.

Disentuhnya bibir lembut gadis itu dengan bibirnya lagi. Mata Ucha terpejam kedua tangannya meremas punggung cowok itu.


***


Mata gadis itu menatap kelambu putih di atasnya. Ranjangnya lengkap dengan kelambu  seakan membawa dia seperti jaman dulu.

Bagaikan putri-putri keraton jaman majapahit Ucha tersenyum. Masih diingatnya ciuman Nicky tadi begitu lembut dan hangat.

Lemparan sandal dia di pagi hari dan kelakuan dia yang pura-pura pingsan di depan Nicky kembali terbayang. Nicky tadi begitu berbeda.

Beberapa jam kemudian terdengar bunyi ngorok Ucha tanda gadis itu sudah melayang ke dunia mimpi.


***


Ucha sudah berada di sirkuit lagi. Entahlah pagi ini gadis itu apa tidak ada kuliah, ijin or bolos ckckck.

Nicky berjalan di depannya. Wajah Ucha sudah bersinar-sinar, aneh.. kenapa bisa begitu. Apa gadis itu bawa senter buat nyorot mukanya di pagi hari? Gak tau lah.

Cowok itu ternyata terus berjalan menuju pitbox tanpa memperdulikan senyum Ucha yang sudah dimanis-manisin. Tau yang pagi buta borong pemanis di warung sebelah.

"What the hell?" tangan gadis itu bertolak pinggang. Segera saja dia mengikuti Nicky.

Nicky terlihat berdiskusi serius dengan mekaniknya. Ucha mendekat ragu-ragu, walau perasaannya gak enak, tetapi diberanikannya menyapa rider itu.

"Nick.." Ucha melintir-lintir tali tasnya lagi. Kebiasaan.

"Kamu? Napa kamu ada di sini?" suara Nicky meninggi, wajahnya kaku menatap galak cewek itu.

Aduuh apes deeh Ucha.. jangan-jangan tuh cowok menderita kelainan apa ilang ingatan.

"Kamu yang meminta aku datang semalem" bibir Ucha sudah bergerak-gerak, dia menahan mau nangis.

"Hello girl..kamu aneh!" Nicky keluar dan menuju pitbox Valentino Rossi calon teammatenya.

"Ada apa sih dengan cowok itu?! Dia yang aneh... eeeeeeerr kurang ajar! Mana tadi malem nyipok aku.. lagi..sekarang pura-pura kek ga kenal"

"Mbak tisu? Apa aquah? Minyak angin juga ada, siapa tau mbak masuk angin apa sakit perut" tukang asongan yang kemarin masih berkeliaran dan sekarang sudah nangkring di samping Ucha menawarkan dagangannya.

"Tisu aja mas" gadis itu mengambil tisu 5 biji dan memberikan uang seribu lembaran.

"Mbak satu biji aja ga dapet kalo seribu, lah itu ngambil 5.. kira-kira dong mbak" Pengasong itu nyolek-nyolek tangan Ucha.

"Eeeuuwwhh kalo gak boleh ya udah!" dilemparnya tuh tisu dan mengambil uang seribuan di atas kotak pengasong itu.

"Halaah mbak.. kagak bule.. kagak sampean.. kere semua.. " pengasong itu kembali jalan-jalan dan menjajakan dagangannya diiringi suaranya yang cempreng.


Gadis itu termenung di pinggir paddock.

"Ehem pagi-pagi udah melamun" senyum cowok ganteng berjaket Yamaha kembali mengembang di samping Ucha.

"Gak usah resek!" Ucha menatap beberapa rider Moto2 yang sedang latihan bebas dan muter-muter sikuit di depannya.

"Ok.. keknya tiap aku datang selalu gak pada saat yang tepat" cowok itu berlalu dan masuk pitbox Yamaha tech3.

Kembali Ucha terperanjat melihat punggung cowok itu. "God! Itu kan Ben Spies.. alamaaak mosok aku lupa lagi"

Sekarang kelakuan cewek itu makin aneh. Kepalanya dia bentur-benturkan di tiang bendera eh sirkuit.


***


"Aku duluan" Ucha berlari masuk ruangan praktek dr. Zi. Masih sempet didengarnya suara-suara protes ibu-ibu di belakang.

Ucha duduk di depan dokter muda itu. Dilihatnya dr. Zi tersenyum, sore ini dokter ahli sarap itu memakai jilbab warna birunya yang manis.

"Ada keluhan apa mbak?" suara dokter itu terdengar ramah.

Ucha menceritakan tentang dia yang selalu lupa dan tentang seseorang yang dia temui bersikap aneh. Dia tidak menyebut orangnya siapa.

"Apa itu penyakit dokter? Padahal semalem bener-bener kami akrab tapi tadi kek dia gak pernah ngenal aku sama sekali" Ucha menyambar tisu di depan meja dr.Zi.

"Perlu pemeriksaan lebih lanjut itu, bisa aja karena kebawa perasaan gugup. Apa itu berlaku buat barang apa mata kuliahmu gitu?"

"Yang ini sama orang doang dok dan sama orang tertentu"

Akhirnya Ucha keluar dari ruangan itu dengan gontai. Matanya masih nangkep sesosok cowok bertopi Ducati masuk ke ruang prakter dr.Zi.

"Itu tadi kan Nicky" gumamnya. Tapi karena dah sore gadis itu menuju jalan raya menyetop angkot lewat.


***


Suara ketukan di pintu membawa Ucha keluar dari kamar. Begitu pintu dibuka nampak wajah yang sangat di kenalnya tersenyum.

"Haii.. ga ganggu kan?" Nicky berdiri jengah. Mata Ucha menangkap skuter butut parkir di bawah puun mangganya.

"Masuk.." Ucha memberi jalan, kemudian gadis itu mengajak Nicky ke ruang tipi menonton sinetron kesayangannya di Indos.

"Yang lain pada kemana?" suara Nicky kembali terdengar.

"Oooh pada kondangan ada sunatan di kampung sebelah" Ucha menjawab tanpa meleng sedikitpun dari tipi yang saat itu nayangin ular gede jadi-jadian lagi terbang, spesial effect yang kasar tentu saja.

"Cha.. kok dingin gitu ma aku?" Nicky meraih tangan gadis itu dan meraih dagu Ucha biar ngadep dirinya.

"Kamu kemana aja tadi pagi? Aku nyapa kamu di pitbox tapi kamu seolah-olah gak ngenal aku" air mata Ucha sudah mengalir di pipinya.

"What? Ga mungkinlah.. sama kamu ini mosok aku cuekin?!"

"Kamu tadi pagi kek galak gitu ma aku" suara Ucha sudah meninggi.

"Sorry.. aku mana mungkin sampe hati galak-galak ma kamu" Nicky mendesah galau.

Ditatapnya wajah yang bersimbah air mata di sampingnya. Tangan cowok itu meraup tubuh gadis itu.

"Sorry Sweety.." diciumnya rambut Ucha yang panjang dan bau shampo bayam campur ayam.

Diraihnya dagu Ucha, wajah dan tubuh Nicky semakin merapat ke arah gadis itu.

Ucha mengatupkan matanya dan dirasakannya napas Nicky menyapu permukaan kulit wajahnya. Bibirnya kembali merasakan bibir lembut Nicky menyentuhnya.


***


Siang itu sirkuit nampak mendung beberapa mekanik sibuk kesana kemari. Beberapa rider masih kongkow-kongkow nunggu motornya siap.

Ucha berjalan riang, rok  hijau ceplok-ceplok kuningnya bergerak-gerak tertiup angin.

Senyumnya merekah melihat Nicky yang berdiri bareng Jorge Lorenzo sedang bercanda.

"Nicky!" Gadis itu berlari dan meloncat bergelayut di leher Nicky.

"Apa-apaan kamu? Gadis gila!" Nicky memanggil security yang nampak berjaga-jaga di setiap penjuru sirkuit untuk mengamankan Ucha.

"Lepasin aku.. enak aja kamu ngatain aku gila.. nah liet kan.. siapa yang gila? Kamu itu huhuhu" Ucha menangis dan meronta-ronta di tangan security yang menyeretnya menjauh.


Hujan turun dengan deras di sirkuit. Ucha memeluk lututnya pandangannya tertuju pada butiran hujan yang semakin turun dengan lebatnya.

"Kenapa duduk disini?" suara cowok ganteng mengagetkan Ucha yang sedang bengong.

"Ehhh suka-suka aku! Emang sirkuit punya eyang situ!" samber Ucha sewot.

"Fine.. aku gak akan ganggu kamu dan nyapa-nyapa kamu lagi.. kamu manis sebenernya kalo gak jutek gitu" cowok itu tersenyum dan berjalan menjauh masuk pitboxnya yang bertuliskan Yamaha.

Kepala Ucha bergerak cepat menatap cowok itu lagi. "NOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO... ITU BEN SPIES! NAPA AKU LUPA LAGI!!!"

Gadis itu menangis meraung-raung sejadi-jadinya. Untung hujan lebat menenggelamkan suara tangisnya kalau enggak bisa-bisa dia ditendang dari sirkuit itu.

,,(O_O),,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar