Title : Love Is Cintah
Genre : Romcom (sok iyes)
Rating : T
Disclaimer :
FF buat Rein aka cekgu tapi bisa jugha buat sis Tiw0l aka Deevone mayan perannya disini :D
Enjoy...
Cast :
Jorge Lorenzo
Reinen
Deevone
Nicky Hayden
Ziflowershine as Mama Zi ( Mama Rein )
Sweetz Ucha as Mbok Ucha
Scott Redding
Esther
Jorge Lorenzo
Reinen
Deevone
Nicky Hayden
Ziflowershine as Mama Zi ( Mama Rein )
Sweetz Ucha as Mbok Ucha
Scott Redding
Esther
"Mama mana pernah ngerti keinginan Rein selama ini!" gadis muda itu berlari keluar dan masuk mobil membanting pintu, sebentar saja Jazz merah itu sudah melaju kencang di jalan raya.
Reinen sebenernya gak pengen berkata keras sama mamanya tadi, mengingat hanya mama yang dia punya. Papanya sudah meninggalkan mereka berdua setahun lalu dan menikah lagi.
Mamanya selalu nyinggung tentang pacarnya Jorge Lorenzo. Sudah lama mamanya tidak setuju dengan hubungan mereka berdua dan selalu menentang anaknya pacaran sama rider yang menurutnya gak jelas itu.
Reinen tiba di kampus. Suasana masih sepi. Gadis itu memutuskan untuk ke kantin dulu mengisi perut karena tadi hanya sempat meminum susu tidak sempat sarapan keburu mamanya sibuk nyeramahin dia.
Nampak temannya Deevone sedang membaca buku. Agak tidak tepat disebut membaca sih, gadis itu seperti menyembah buku karena wajahnya tenggelam di balik buku.
"Dee.. pagi amat dah di sini?" Rein menjatuhkan diri di atas bangku panjang. Tangannya nyamber bungkusan kerupuk dan merobeknya. Sebentar saja terdengar bunyi krik krik.. apa kriuk kriuk -_-a
"Mbok Ucha minta spagetti 1 porsi sama kopimix.. huaaaaahh agak ngantuk" gadis itu nganga lebar menguap untung gak ada laler iseng masuk.
"Iya mbak Rein? Cabenya minta berapa?" Mbok Ucha dengan kain dan kebaya yang lusuh tergopoh-gopoh mendatangi Reinen.
"Ga banyak-banyak... 1 kilo ajah" cewek berbaju belang-belang kuning,ijo dan merah itu mengeluarkan cermin dan mematut diri sambil bedakin idung.
"Baik mbak..tumben biasanya 3 kilo?" mbok Ucha tersenyum senang, mending dia gak bakal rugi banyak-banyak hari ini.
"Adooohh kemaren aye dah mules-mules mbok.. eh cepetan kopimiknya..huaaaaaaaaahh" kembali Reinen menguap dan kali ini sukses berhasil nangkep 3 laler yang malang karena nyasar masuk mulutnya.
"Mayan dapet makanan pembuka" gadis itu mengunyah rejeki nomplok pagi-pagi itu.
Posisi Deevone masih nyembah buku tidak bergerak sedikitpun. Reinen mengernyit heran. "Dee? Woiii baca apaan sih? Jangan-jangan stensilan yah? Hayooo bagi!"
Tangan lentik Rein dengan kukunya yang item-item menarik buku yang dari tadi di pegang Dee di atas meja.
"Buseeet.. ternyata molor dimari! Deee... woiiiiiiiii ada GEMPA GEMPA GEMPA BANGUUUUUUUUUUUNN" suara Rein yang cempreng bikin gadis yang menaruh kepalanya di meja bangun.
"Mana gempa?! Mana gempa?!" Dee terloncat dari duduknya dan bergerak kebawah melongok-longok meja seperti mencari sesuatu.
"Dah dibawa kabur nooh sama tukang ojek" kata Rein cuek dan nyamber buku yang dari tadi dipegang Deevone. Mata gadis itu terbelalak menatap buku.
"Woii balikin!" tangan Dee nyamber-nyamber berusaha menarik bukunya tadi. Tapi Rein lebih gesit dan memindah-mindah posisi buku di tangannya.
"Harga cabe sekilo 2 ribu, bawang sekilo 3 ribu, terasi 1 ons seribu, kol gepeng sekilo 500 rupiah.. eettdaaaaahh.. kamu mau jadi bakul Dee?" Rein dah ngikik suaranya nyaingin mbak kunti di malem hari.
"Side job Rein.. mayan bisa nambah-nambah duit kuliah, ntar aku mau ke pasar... kulakan sayuran" Dee mesem-mesem menahan malu.
"Kereeeen hehehe" Rein memandang takjub temannya. Dia aja masih bergantung mamanya yang tukang mendre. Untung usaha mamanya cukup sukses hingga ia tak perlu ikutan banting tulang.
Lagian banting tulang kan pegel mana kalo apes bikin tulang remuk lagi. Rein geleng-geleng kepala, dia tidak ingin ikutan maen banting-banting.
Mbok Ucha meletakan spagetti dan kopimik pesenan Rein. Wanita itu mengelap keringatnya pagi-pagi nampaknya dia kecapekan.
"Napa bik Ucha? Kek ada masalah?" Dee menyeruput minuman wedang jahe yang hampir habis di gelasnya.
"Ya masalah.. ngulek cabe segitu banyak.. capek sayah" suara Mbok Ucha dibikin ngos-ngosan dan ingus dah kemana-mana karena kepedasan.
"Tapi gak papah demi mbak Rein, dah langganan sih" sambung Mbok Ucha sambil pamit ke belakang mau nglanjutin nyapu.
"Eeehh aku masuk dulu yah.. aku baru inget ada tugas siapa tau ada yang bisa di contek" Rein dah melesat ke ruangan.
Dee terbengong. Dilihatnya piring Rein dah licin dan gelas dah kering. Padahal baru satu menit bik Ucha meletakan tuh piring penuh dengan spagetti.
"Ckckcck cewek itu mah ga makan tapi mindahin tuh makanan ke perutnya" Dee pun bergerak masuk ke ruangan, nyari bahan nyontek juga dia.
"Masak malming absen lagi?!" Reinen duduk membelakangi kekasihnya Jorge Lorenzo, keknya ngambeg dia.
"Sorry cintah.. ada balapan, gak ada yang bisa gantiin" kata Jorge, dan buat singkatnya kita panggil aja dia Jojo Marijo -hmpfh-
"Tapi ini dah yang ke-13 kalinya ayang batalin.. ayang ga cintah ma cintah" bibir Rein berkerut, cewek itu hampir menangis rupanya.
"Gak dong..ayang kan cintah ma cintah -ini bahasa jadi belibet -_-a tapi tau kan maksudnya?-" Jojo mencolek bahu Rein.
"Kalo ayang cintah ma cintah yah sempetin dong..!" Rein bales mencolek bahu Jojo, tubuh Jojo terpelanting jatuh ke tanah. Maklum nyoleknya pake sekop yang nganggur di pojok taman.
"Gimana kalo besok cintah nonton balapan ayang? Mau kan" Jojo nabok bahu Rein mesrah.
"Ok.. masih di tempat itu kan ayang? Seeeepp" kata Rein semangat dan bales nabok Jojo. Tubuh Jojo melayang nyangkut puun. Dilihatnya tangan Rein memegang pentungan kasti.
"Jangan lupa cintah.. jam 8 dah mule balapannya.. uhuk.. uhuk.. uhuk!" Jojo ngos-ngosan. Pacaran dengan Rein selalu berakhir dengan tubuh yang lebam-lebam dan membiru.
Akan tetapi karena sudah terlanjur cintah ma cintanya itu dia pasrah dan rela melaluinya walau ombak datang menghadang, gunung terjal kalau perlu dia mendaki. -ceileh-
Rumah itu dah terlihat sepi. Jam menunjukan pukul 07.00 PM.
Gadis berkepang dua dan berbaju tutul macan warna merah terlihat mengendap-ngendap. Tangan kirinya memegang sandal jepit warna merah dan tangan lain membawa tas kresek hitam.
Tiba di ruang tamu cewek mungil itu menjinjit mencari kunci di rak atas, dengan susah payah dia meloncat-loncat menggapai kunci.
"Yeeeeeess dapet!" gadis itu langsung melesat menuju pintu keluar dan dengan terburu-buru memasukan kunci. Tangannya segera mendorong pintu begitu terbuka.
"Mau kemana Rein?" Mamanya sudah berdiri membelakangi pintu kamar yang memang berdekatan dengan ruang tamu.
"Uummmhh mau keluar bentar beli bakso mah" jawabnya boong tapi karena sambil nunduk mama Zi makin curiga.
"Tapi napa pake ngendap-ngendap tadi? Mama dah perhatiin dari tadi lho" wanita yang masih terlihat cantik diusia 40 an taon itu menatap tajam ke arah putrinya.
"Bentar aja kok mi" Reinen berlari keluar tanpa memakai sandal.
"Rein! Balik! anak kurang ajar.. malah lari.. Reiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnn" mama Zi berlari mengejar Rein yang terlihat lari tunggang langgang di jalan sekitar komplek perumahan itu.
Akan tetapi punggung Rein dah gak nampak, mama Zi balik ke rumah sambil ngomel panjang pendek.
Rein terus berlari kencang. Kakinya menuju rumah Deevone yang terlihat sudah menunggu di teras. Malem ini mereka janjian akan nonton balapan Jojo pacar Rein.
"Gak bawa mobil Rein?" Dee berjalan mengampiri Rein yang terlihat memegangi perutnya, napas gadis itu terlihat ngos-ngosan. Keringat bercucuran di wajahnya.
"Gak sempet Dee.. heeeh..mama dah mergokin heeeh..dan kunci dia heeeh.. yang pegang heeeh mintak heeehh minum Dee.." Rein menghempaskan tubuhnya di kursi teras.
Dee mengangguk dan berlari kedalam mengambil minum. Napas Rein dah satu-satu gituh bahaya kalau dibiarin.
Setelah siap-siap mereka berjalan beriringan nyetop taxi di jalan raya.
"Gak salah Rein? Jojo balap di tempat ginian?" Dee bengong sesampe di tempat keramaian itu.
Lapangan bola sudah disulap jadi pasar malem. Banyak penjual gorengan, martabak dan aneka mainan di malam itu. Pengunjung nampak berdesak-desakan.
Terlihat bapak-bapak dan ibu-ibu membawa anak kecil bahkan bayi di tempat itu.
Suara musik dangdut saling berlomba kenceng-kencengan dari berbagai sudut.
"Enggak Dee.. ini kan side job ayang, maklum duit hasil balap MotoGP dikit.. katanya mayan lho balap disini" senyum Rein mengembang. Gadis itu menarik tangan Dee.
Mereka berdua berlari menghampiri odong-odong yang penuh ditempati anak-anak. Dengan tanpa malu mereka berebut ma anak kecil lainnya.
"Walah mbak.. mbok ngalah ma anak kecil" seorang ibu-ibu berusaha mendiamkan anaknya yang nangis gak kebagian tempat.
"Ngantri dong aaaaahh" Dee cuek saja dan bersama Rein mereka tertawa bareng bermain odong-odong.
Mereka juga naik komedi putar sampe eneg dan membeli gulali. Semakin malem tempat itu penuh sesak dengan orang-orang yang membanjiri lapangan bola itu.
"Dee .. ayook aku dah ditelpon ayang neeh katanya mau mule balapannya bentar lagi" Rein menarik tangan Dee dan sampelah mereka di depan bangunan yang terbuat dari karton tebal.
Ornamen di bangunan itu terlihat menyeramkan ada patung tengkorak dan lukisan mbak kunti, mas pocong, buto ijo dan makhluk ajaib lainnya yang gak bisa disebut satu-satu.
"Aduuuh takooot.. ini kita mau ngapain Rein.. nonton balapan mosok disini?" Dee masih terlihat takjub sekaligus ngeri. Mana suara dari dalem terdengar mengerikan ada suara cekikikan segala.
"Ikut aku" Rein ngantri di depan loket dan setelah dapat mengajak Dee masuk bangunan itu. Biar suasana ngerinya maksa, Dee terlihat merapatkan tubuhnya disamping Rein.
Lorong itu terlihat angker dan agak gelap ada patung-patung angker. Maksa lagi. -_-a
Tiba di tengah ruangan keduanya naik ke panggung. Ditengah panggung terlihat tong besar yang menjorok ke bawah.
Banyak pasangan yang berdiri memegang besi pembatas sambil berbisik-bisik mesra. Kelihatannya mereka sengaja pacaran disini.
"Rein.. mana Jojo?" Dee masih mengikuti langkah Rein yang muter-muter di sekitar tong raksasa itu, tangannya menarik-narik baju Rein.
"Bentar ini aku lagi nyari ayang juga" Rein menjerit seneng. Dia berlari dan nubruk cowok berhelm yang sedang ngobrol sama cowok yang memakai helm juga.
"Cintah! Nongol juga dimari" cowok itu membuka helmnya dan seraut wajah ganteng tersenyum memeluk pinggang Rein.
"Iya dong.. oya.. ayang dah kenal Dee? Kenalin kalo lom" Rein nglendot manja di tubuh Jojo. Dee tersenyum dan bersalaman ma pacar Rein.
"Dee kenalin temen ku juga nih, Nicky.. sama ma aku dapet side jop disini juga" Jojo menyenggol lengan cowok disebelahnya. Yang dipanggil Nicky membuka helmnya.
Dee bengong menatap cowok ganteng di depannya. Nicky tersenyum dan mengajak salaman gadis itu.
"Kita tinggal dulu yah" Rein sudah menarik tangan Jojo mojok mereka terlihat berangkulan sambil ngoborol, ninggalin Dee sama Nicky yang sudah hadap-hadapan grogi.
"Temen kuliah Rein yah?" Nicky basa-basi bertanya tatapan cowok itu tajam menembus mata Dee.
"Iyaahh... emang balapannya nanti dimana?" Dee menarik rambutnya kebelakang dan melempar senyum ke arah Nicky.
"Belum pernah kesini sebelumnya? Nanti liet aja deeh" Nicky tertawa, telihat deret giginya yang putih. Kalau mau dia bisa jadi model iklan close up tuh, batin Dee.
Tak lama mereka terlihat akrab. Mata Dee menangkap dari jauh Rein sama Jojo saling berciuman di pojok. Beuuuuhh yang sedang pacaran.
Jojo sudah menghampiri Nicky dan mereka saling mengangguk.
"Girls.. kita tinggal dulu yah.." Jojo kembali mengedip sayang ke arah ceweknya Reinen. Dee lagi-lagi tersenyum ke arah Nicky.
"Terserah kalau kamu mau balapan di tempat kek gini, gak elit banget! Aku pergi!" suara nyaring seorang cewek menarik perhatian mereka.
Nampak seorang cowok cakep menarik-narik tangan cewek berbaju sackdress yang sepertinya dari kalangan menengah.
"Sayang, jangan egois gini.. ini kan demi cita-cita kita ngumpulin duit buat nikah"
"Bener mamaku, kamu gak guna!" tangan cewek itu mengibas kesal dan langkahnya cepat meninggalkan panggung.
Cowok itu menatap punggung ceweknya dan mendesah. Tatapannya berganti melihat ke arah Nicky dan Jojo.
"Itu Scott.. cintah, dan tadi ceweknya yang judes itu Ester, mereka selalu ribut.. fiuuhh untung aku punya pacar sepengertian kek cintah" Jojo maraih pinggang Rein lagi.
Keduanya saling mendekatkan wajahnya masing-masing lagi. "Ooohhh my.. bikin ngiri ajah" Dee memutar bola matanya. Nicky tertawa menimpali.
Kemudian Nicky dan Jojo beranjak meninggalkan mereka. Tak lama kemudian terdengar suara motor yang memekakan telinga.
Rein menarik tangan Dee mendekat ke arah pinggir tong besar yang di pagari besi. Setelah itu keluar kek pembalap lewat lorong masuk di tengah tong.
Pembalap itu menggeber motornya dan muter-muter di pinggir tong. Kadang motornya bisa sampai ke atas. Dan bergerak jumping.
"Ini namanya pertunjukan tong setan Dee" Rein tertawa ketika Dee masih terlihat bengong menatap pembalap-pembalap itu yang satu persatu keluar dan melakukan jumping.
Suasana di ruangan itu menjadi bising oleh suara motor Jojo, Nicky dan Scott yang saling berpacu bergantian mengelilingi lintasan tong raksasa itu.
Jojo mengajak Rein habis pertunjukan itu, keduanya duduk di atas rumput. Di depan mereka masih ramai dengan pengunjung yang memadati pasar malem.
Nicky sudah pulang dengan nganter Dee terlebih dahulu. Begitu juga Scott yang pamitan pulang barusan.
"Cintah.. gimana kabar mama Zi?" Jojo merangkul bahu Reinen.
"Masih gitu-gitu aja.. gak tau lah maunya mama" Rein mendadak sedih, hembusan napasnya terdengar berat.
"Ya udah gak usah bahas itu deeh" Jojo nyengir, senyumnya manis dan kadang kalau yang belum mengenalnya dikira Jojo tuh playboy.
"Udah malem ayang.. mama pasti dah jaga-jaga di depan pintu, tadi aku ngabur"
"Weeeeeee ngabur gimana? Gak ijin tadi?" Jojo menegakan duduknya.
"Mama tadi ga kasih ijin.. ayang.. kan cintah kangen ma ayang" kembali Reinenn beringsut merapat ke tubuh Jojo.
Keduanya saling menatap mata. Dan dibawah bulan purnama dan suasana sekeliling yang masih ramai Rein dan Jojo saling mendekatkan wajah.
Kedua mata Rein tertutup. Meski dia sering melakukan sama Jojo tapi tiap kali melakukan ini dia masih deg-degan ada perasaan sungkan tapi seneng.
Dirasakannya bibir jojo sudah melekat dan mendaratkan kecupan yang panjang.
Malam semakin bergerak jelang dini hari, keduanya nampak berpelukan. Tangan Jojo melingkar di pinggang Reinan yang membelakangi tubuh Jojo.
Reinen berpikir lebih baik nanti pulang dia loncat ke jendela kamarnya, toh tadi dia sengaja tidak mengunci jendela dari dalam.
Dirasakannya tangan Jojo makin erat memeluknya, dia tidak ingin berpisah dari ayangnya itu. Biarpun mama Zi tidak setuju.
Tekad gadis itu sudah bulat, mereka tidak akan nyerah untuk ngeyakinin mama Zi kalau pilihannya gak salah.
,,(O_O),,
Reinen sebenernya gak pengen berkata keras sama mamanya tadi, mengingat hanya mama yang dia punya. Papanya sudah meninggalkan mereka berdua setahun lalu dan menikah lagi.
Mamanya selalu nyinggung tentang pacarnya Jorge Lorenzo. Sudah lama mamanya tidak setuju dengan hubungan mereka berdua dan selalu menentang anaknya pacaran sama rider yang menurutnya gak jelas itu.
Reinen tiba di kampus. Suasana masih sepi. Gadis itu memutuskan untuk ke kantin dulu mengisi perut karena tadi hanya sempat meminum susu tidak sempat sarapan keburu mamanya sibuk nyeramahin dia.
Nampak temannya Deevone sedang membaca buku. Agak tidak tepat disebut membaca sih, gadis itu seperti menyembah buku karena wajahnya tenggelam di balik buku.
"Dee.. pagi amat dah di sini?" Rein menjatuhkan diri di atas bangku panjang. Tangannya nyamber bungkusan kerupuk dan merobeknya. Sebentar saja terdengar bunyi krik krik.. apa kriuk kriuk -_-a
"Mbok Ucha minta spagetti 1 porsi sama kopimix.. huaaaaahh agak ngantuk" gadis itu nganga lebar menguap untung gak ada laler iseng masuk.
"Iya mbak Rein? Cabenya minta berapa?" Mbok Ucha dengan kain dan kebaya yang lusuh tergopoh-gopoh mendatangi Reinen.
"Ga banyak-banyak... 1 kilo ajah" cewek berbaju belang-belang kuning,ijo dan merah itu mengeluarkan cermin dan mematut diri sambil bedakin idung.
"Baik mbak..tumben biasanya 3 kilo?" mbok Ucha tersenyum senang, mending dia gak bakal rugi banyak-banyak hari ini.
"Adooohh kemaren aye dah mules-mules mbok.. eh cepetan kopimiknya..huaaaaaaaaahh" kembali Reinen menguap dan kali ini sukses berhasil nangkep 3 laler yang malang karena nyasar masuk mulutnya.
"Mayan dapet makanan pembuka" gadis itu mengunyah rejeki nomplok pagi-pagi itu.
Posisi Deevone masih nyembah buku tidak bergerak sedikitpun. Reinen mengernyit heran. "Dee? Woiii baca apaan sih? Jangan-jangan stensilan yah? Hayooo bagi!"
Tangan lentik Rein dengan kukunya yang item-item menarik buku yang dari tadi di pegang Dee di atas meja.
"Buseeet.. ternyata molor dimari! Deee... woiiiiiiiii ada GEMPA GEMPA GEMPA BANGUUUUUUUUUUUNN" suara Rein yang cempreng bikin gadis yang menaruh kepalanya di meja bangun.
"Mana gempa?! Mana gempa?!" Dee terloncat dari duduknya dan bergerak kebawah melongok-longok meja seperti mencari sesuatu.
"Dah dibawa kabur nooh sama tukang ojek" kata Rein cuek dan nyamber buku yang dari tadi dipegang Deevone. Mata gadis itu terbelalak menatap buku.
"Woii balikin!" tangan Dee nyamber-nyamber berusaha menarik bukunya tadi. Tapi Rein lebih gesit dan memindah-mindah posisi buku di tangannya.
"Harga cabe sekilo 2 ribu, bawang sekilo 3 ribu, terasi 1 ons seribu, kol gepeng sekilo 500 rupiah.. eettdaaaaahh.. kamu mau jadi bakul Dee?" Rein dah ngikik suaranya nyaingin mbak kunti di malem hari.
"Side job Rein.. mayan bisa nambah-nambah duit kuliah, ntar aku mau ke pasar... kulakan sayuran" Dee mesem-mesem menahan malu.
"Kereeeen hehehe" Rein memandang takjub temannya. Dia aja masih bergantung mamanya yang tukang mendre. Untung usaha mamanya cukup sukses hingga ia tak perlu ikutan banting tulang.
Lagian banting tulang kan pegel mana kalo apes bikin tulang remuk lagi. Rein geleng-geleng kepala, dia tidak ingin ikutan maen banting-banting.
Mbok Ucha meletakan spagetti dan kopimik pesenan Rein. Wanita itu mengelap keringatnya pagi-pagi nampaknya dia kecapekan.
"Napa bik Ucha? Kek ada masalah?" Dee menyeruput minuman wedang jahe yang hampir habis di gelasnya.
"Ya masalah.. ngulek cabe segitu banyak.. capek sayah" suara Mbok Ucha dibikin ngos-ngosan dan ingus dah kemana-mana karena kepedasan.
"Tapi gak papah demi mbak Rein, dah langganan sih" sambung Mbok Ucha sambil pamit ke belakang mau nglanjutin nyapu.
"Eeehh aku masuk dulu yah.. aku baru inget ada tugas siapa tau ada yang bisa di contek" Rein dah melesat ke ruangan.
Dee terbengong. Dilihatnya piring Rein dah licin dan gelas dah kering. Padahal baru satu menit bik Ucha meletakan tuh piring penuh dengan spagetti.
"Ckckcck cewek itu mah ga makan tapi mindahin tuh makanan ke perutnya" Dee pun bergerak masuk ke ruangan, nyari bahan nyontek juga dia.
***
"Masak malming absen lagi?!" Reinen duduk membelakangi kekasihnya Jorge Lorenzo, keknya ngambeg dia.
"Sorry cintah.. ada balapan, gak ada yang bisa gantiin" kata Jorge, dan buat singkatnya kita panggil aja dia Jojo Marijo -hmpfh-
"Tapi ini dah yang ke-13 kalinya ayang batalin.. ayang ga cintah ma cintah" bibir Rein berkerut, cewek itu hampir menangis rupanya.
"Gak dong..ayang kan cintah ma cintah -ini bahasa jadi belibet -_-a tapi tau kan maksudnya?-" Jojo mencolek bahu Rein.
"Kalo ayang cintah ma cintah yah sempetin dong..!" Rein bales mencolek bahu Jojo, tubuh Jojo terpelanting jatuh ke tanah. Maklum nyoleknya pake sekop yang nganggur di pojok taman.
"Gimana kalo besok cintah nonton balapan ayang? Mau kan" Jojo nabok bahu Rein mesrah.
"Ok.. masih di tempat itu kan ayang? Seeeepp" kata Rein semangat dan bales nabok Jojo. Tubuh Jojo melayang nyangkut puun. Dilihatnya tangan Rein memegang pentungan kasti.
"Jangan lupa cintah.. jam 8 dah mule balapannya.. uhuk.. uhuk.. uhuk!" Jojo ngos-ngosan. Pacaran dengan Rein selalu berakhir dengan tubuh yang lebam-lebam dan membiru.
Akan tetapi karena sudah terlanjur cintah ma cintanya itu dia pasrah dan rela melaluinya walau ombak datang menghadang, gunung terjal kalau perlu dia mendaki. -ceileh-
***
Rumah itu dah terlihat sepi. Jam menunjukan pukul 07.00 PM.
Gadis berkepang dua dan berbaju tutul macan warna merah terlihat mengendap-ngendap. Tangan kirinya memegang sandal jepit warna merah dan tangan lain membawa tas kresek hitam.
Tiba di ruang tamu cewek mungil itu menjinjit mencari kunci di rak atas, dengan susah payah dia meloncat-loncat menggapai kunci.
"Yeeeeeess dapet!" gadis itu langsung melesat menuju pintu keluar dan dengan terburu-buru memasukan kunci. Tangannya segera mendorong pintu begitu terbuka.
"Mau kemana Rein?" Mamanya sudah berdiri membelakangi pintu kamar yang memang berdekatan dengan ruang tamu.
"Uummmhh mau keluar bentar beli bakso mah" jawabnya boong tapi karena sambil nunduk mama Zi makin curiga.
"Tapi napa pake ngendap-ngendap tadi? Mama dah perhatiin dari tadi lho" wanita yang masih terlihat cantik diusia 40 an taon itu menatap tajam ke arah putrinya.
"Bentar aja kok mi" Reinen berlari keluar tanpa memakai sandal.
"Rein! Balik! anak kurang ajar.. malah lari.. Reiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnn" mama Zi berlari mengejar Rein yang terlihat lari tunggang langgang di jalan sekitar komplek perumahan itu.
Akan tetapi punggung Rein dah gak nampak, mama Zi balik ke rumah sambil ngomel panjang pendek.
Rein terus berlari kencang. Kakinya menuju rumah Deevone yang terlihat sudah menunggu di teras. Malem ini mereka janjian akan nonton balapan Jojo pacar Rein.
"Gak bawa mobil Rein?" Dee berjalan mengampiri Rein yang terlihat memegangi perutnya, napas gadis itu terlihat ngos-ngosan. Keringat bercucuran di wajahnya.
"Gak sempet Dee.. heeeh..mama dah mergokin heeeh..dan kunci dia heeeh.. yang pegang heeeh mintak heeehh minum Dee.." Rein menghempaskan tubuhnya di kursi teras.
Dee mengangguk dan berlari kedalam mengambil minum. Napas Rein dah satu-satu gituh bahaya kalau dibiarin.
Setelah siap-siap mereka berjalan beriringan nyetop taxi di jalan raya.
***
"Gak salah Rein? Jojo balap di tempat ginian?" Dee bengong sesampe di tempat keramaian itu.
Lapangan bola sudah disulap jadi pasar malem. Banyak penjual gorengan, martabak dan aneka mainan di malam itu. Pengunjung nampak berdesak-desakan.
Terlihat bapak-bapak dan ibu-ibu membawa anak kecil bahkan bayi di tempat itu.
Suara musik dangdut saling berlomba kenceng-kencengan dari berbagai sudut.
"Enggak Dee.. ini kan side job ayang, maklum duit hasil balap MotoGP dikit.. katanya mayan lho balap disini" senyum Rein mengembang. Gadis itu menarik tangan Dee.
Mereka berdua berlari menghampiri odong-odong yang penuh ditempati anak-anak. Dengan tanpa malu mereka berebut ma anak kecil lainnya.
"Walah mbak.. mbok ngalah ma anak kecil" seorang ibu-ibu berusaha mendiamkan anaknya yang nangis gak kebagian tempat.
"Ngantri dong aaaaahh" Dee cuek saja dan bersama Rein mereka tertawa bareng bermain odong-odong.
Mereka juga naik komedi putar sampe eneg dan membeli gulali. Semakin malem tempat itu penuh sesak dengan orang-orang yang membanjiri lapangan bola itu.
"Dee .. ayook aku dah ditelpon ayang neeh katanya mau mule balapannya bentar lagi" Rein menarik tangan Dee dan sampelah mereka di depan bangunan yang terbuat dari karton tebal.
Ornamen di bangunan itu terlihat menyeramkan ada patung tengkorak dan lukisan mbak kunti, mas pocong, buto ijo dan makhluk ajaib lainnya yang gak bisa disebut satu-satu.
"Aduuuh takooot.. ini kita mau ngapain Rein.. nonton balapan mosok disini?" Dee masih terlihat takjub sekaligus ngeri. Mana suara dari dalem terdengar mengerikan ada suara cekikikan segala.
"Ikut aku" Rein ngantri di depan loket dan setelah dapat mengajak Dee masuk bangunan itu. Biar suasana ngerinya maksa, Dee terlihat merapatkan tubuhnya disamping Rein.
Lorong itu terlihat angker dan agak gelap ada patung-patung angker. Maksa lagi. -_-a
Tiba di tengah ruangan keduanya naik ke panggung. Ditengah panggung terlihat tong besar yang menjorok ke bawah.
Banyak pasangan yang berdiri memegang besi pembatas sambil berbisik-bisik mesra. Kelihatannya mereka sengaja pacaran disini.
"Rein.. mana Jojo?" Dee masih mengikuti langkah Rein yang muter-muter di sekitar tong raksasa itu, tangannya menarik-narik baju Rein.
"Bentar ini aku lagi nyari ayang juga" Rein menjerit seneng. Dia berlari dan nubruk cowok berhelm yang sedang ngobrol sama cowok yang memakai helm juga.
"Cintah! Nongol juga dimari" cowok itu membuka helmnya dan seraut wajah ganteng tersenyum memeluk pinggang Rein.
"Iya dong.. oya.. ayang dah kenal Dee? Kenalin kalo lom" Rein nglendot manja di tubuh Jojo. Dee tersenyum dan bersalaman ma pacar Rein.
"Dee kenalin temen ku juga nih, Nicky.. sama ma aku dapet side jop disini juga" Jojo menyenggol lengan cowok disebelahnya. Yang dipanggil Nicky membuka helmnya.
Dee bengong menatap cowok ganteng di depannya. Nicky tersenyum dan mengajak salaman gadis itu.
"Kita tinggal dulu yah" Rein sudah menarik tangan Jojo mojok mereka terlihat berangkulan sambil ngoborol, ninggalin Dee sama Nicky yang sudah hadap-hadapan grogi.
"Temen kuliah Rein yah?" Nicky basa-basi bertanya tatapan cowok itu tajam menembus mata Dee.
"Iyaahh... emang balapannya nanti dimana?" Dee menarik rambutnya kebelakang dan melempar senyum ke arah Nicky.
"Belum pernah kesini sebelumnya? Nanti liet aja deeh" Nicky tertawa, telihat deret giginya yang putih. Kalau mau dia bisa jadi model iklan close up tuh, batin Dee.
Tak lama mereka terlihat akrab. Mata Dee menangkap dari jauh Rein sama Jojo saling berciuman di pojok. Beuuuuhh yang sedang pacaran.
Jojo sudah menghampiri Nicky dan mereka saling mengangguk.
"Girls.. kita tinggal dulu yah.." Jojo kembali mengedip sayang ke arah ceweknya Reinen. Dee lagi-lagi tersenyum ke arah Nicky.
"Terserah kalau kamu mau balapan di tempat kek gini, gak elit banget! Aku pergi!" suara nyaring seorang cewek menarik perhatian mereka.
Nampak seorang cowok cakep menarik-narik tangan cewek berbaju sackdress yang sepertinya dari kalangan menengah.
"Sayang, jangan egois gini.. ini kan demi cita-cita kita ngumpulin duit buat nikah"
"Bener mamaku, kamu gak guna!" tangan cewek itu mengibas kesal dan langkahnya cepat meninggalkan panggung.
Cowok itu menatap punggung ceweknya dan mendesah. Tatapannya berganti melihat ke arah Nicky dan Jojo.
"Itu Scott.. cintah, dan tadi ceweknya yang judes itu Ester, mereka selalu ribut.. fiuuhh untung aku punya pacar sepengertian kek cintah" Jojo maraih pinggang Rein lagi.
Keduanya saling mendekatkan wajahnya masing-masing lagi. "Ooohhh my.. bikin ngiri ajah" Dee memutar bola matanya. Nicky tertawa menimpali.
Kemudian Nicky dan Jojo beranjak meninggalkan mereka. Tak lama kemudian terdengar suara motor yang memekakan telinga.
Rein menarik tangan Dee mendekat ke arah pinggir tong besar yang di pagari besi. Setelah itu keluar kek pembalap lewat lorong masuk di tengah tong.
Pembalap itu menggeber motornya dan muter-muter di pinggir tong. Kadang motornya bisa sampai ke atas. Dan bergerak jumping.
"Ini namanya pertunjukan tong setan Dee" Rein tertawa ketika Dee masih terlihat bengong menatap pembalap-pembalap itu yang satu persatu keluar dan melakukan jumping.
Suasana di ruangan itu menjadi bising oleh suara motor Jojo, Nicky dan Scott yang saling berpacu bergantian mengelilingi lintasan tong raksasa itu.
***
Jojo mengajak Rein habis pertunjukan itu, keduanya duduk di atas rumput. Di depan mereka masih ramai dengan pengunjung yang memadati pasar malem.
Nicky sudah pulang dengan nganter Dee terlebih dahulu. Begitu juga Scott yang pamitan pulang barusan.
"Cintah.. gimana kabar mama Zi?" Jojo merangkul bahu Reinen.
"Masih gitu-gitu aja.. gak tau lah maunya mama" Rein mendadak sedih, hembusan napasnya terdengar berat.
"Ya udah gak usah bahas itu deeh" Jojo nyengir, senyumnya manis dan kadang kalau yang belum mengenalnya dikira Jojo tuh playboy.
"Udah malem ayang.. mama pasti dah jaga-jaga di depan pintu, tadi aku ngabur"
"Weeeeeee ngabur gimana? Gak ijin tadi?" Jojo menegakan duduknya.
"Mama tadi ga kasih ijin.. ayang.. kan cintah kangen ma ayang" kembali Reinenn beringsut merapat ke tubuh Jojo.
Keduanya saling menatap mata. Dan dibawah bulan purnama dan suasana sekeliling yang masih ramai Rein dan Jojo saling mendekatkan wajah.
Kedua mata Rein tertutup. Meski dia sering melakukan sama Jojo tapi tiap kali melakukan ini dia masih deg-degan ada perasaan sungkan tapi seneng.
Dirasakannya bibir jojo sudah melekat dan mendaratkan kecupan yang panjang.
Malam semakin bergerak jelang dini hari, keduanya nampak berpelukan. Tangan Jojo melingkar di pinggang Reinan yang membelakangi tubuh Jojo.
Reinen berpikir lebih baik nanti pulang dia loncat ke jendela kamarnya, toh tadi dia sengaja tidak mengunci jendela dari dalam.
Dirasakannya tangan Jojo makin erat memeluknya, dia tidak ingin berpisah dari ayangnya itu. Biarpun mama Zi tidak setuju.
Tekad gadis itu sudah bulat, mereka tidak akan nyerah untuk ngeyakinin mama Zi kalau pilihannya gak salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar